Bali Menuju Pusat Keuangan Global Harus Dibangun Sebagai Trust Haven Berbasis Adat, Budaya, Alam dan Masyarakat Sesuai Tri Hita Karana

Jbm.co.id-DENPASAR | Rencana pemerintah pusat membangun International Financial Center (IFC) di Bali mendapat perhatian serius dari pengamat ekonomi Bali, Trisno Nugroho.
Menurutnya, konsep tersebut dapat diperkenalkan sebagai Pusat Keuangan Global (PKG) Bali yang berorientasi pada pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Trisno Nugroho menilai gagasan tersebut bukan sekadar pembangunan kawasan keuangan modern, melainkan momentum penting untuk memperkuat struktur ekonomi Bali agar lebih tangguh dan tidak hanya bergantung pada sektor pariwisata.
“Lebih dari itu, PKG Bali dapat menjadi momentum untuk menata masa depan ekonomi Bali agar lebih beragam, tangguh, dan berkelanjutan,” kata Trisno Nugroho di Denpasar, Senin, 18 Mei 2026.
Trisno Nugroho menjelaskan, selama ini Bali dikenal dunia sebagai destinasi pariwisata, budaya, spiritualitas, wellness, MICE, dan ekonomi kreatif. Namun pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa ketergantungan tinggi terhadap sektor pariwisata membuat ekonomi Bali sangat rentan saat mobilitas global terganggu.
Oleh karena itu, rencana menjadikan Bali sebagai pusat keuangan global dinilai sebagai peluang besar untuk mendorong diversifikasi ekonomi tanpa meninggalkan identitas budaya Pulau Dewata.
Menurut Trisno Nugroho, pusat keuangan internasional yang berhasil bukanlah yang memiliki regulasi paling longgar, tetapi yang mampu membangun tingkat kepercayaan tinggi di mata investor global.
Trisno Nugroho menegaskan Bali tidak boleh diarahkan menjadi tax haven atau tempat penyimpanan dana yang tidak jelas asal-usulnya.
“Bali harus dibangun sebagai trust haven, yakni pusat kepercayaan investasi global yang bersih, transparan, patuh regulasi, dan memberi manfaat nyata bagi Indonesia serta masyarakat Bali,” tegasnya.
Trisno Nugroho menyebut Bali dapat belajar dari berbagai pusat keuangan dunia seperti Dubai International Financial Centre (DIFC), Abu Dhabi Global Market, GIFT City India, hingga Singapore. Namun, Bali dinilai tidak perlu meniru sepenuhnya model negara lain karena memiliki kekuatan tersendiri berupa budaya, alam, spiritualitas, dan reputasi global.
Trisno Nugroho mendorong agar PKG Bali diarahkan menjadi pusat pembiayaan ekonomi berkelanjutan melalui pengembangan green finance, blue finance, sustainable tourism finance, climate finance, hingga pembiayaan untuk UMKM dan ekonomi kreatif.
Menurutnya, dana global yang masuk ke Bali harus mampu mengalir ke sektor produktif seperti energi bersih, pengelolaan sampah, konservasi pesisir, desa wisata, hingga pembiayaan UMKM berbasis digital.
Trisno Nugroho juga menilai PKG Bali berpotensi membuka lapangan kerja baru di sektor jasa keuangan, wealth management, fintech, legal advisory, audit, hingga teknologi digital. Karena itu, generasi muda Bali perlu dipersiapkan agar tidak hanya menjadi penonton.
Trisno Nugroho mengusulkan pembentukan Bali Financial Talent Academy yang melibatkan perguruan tinggi, OJK, Bank Indonesia, industri keuangan, dan lembaga global untuk mencetak tenaga profesional di bidang investasi, analisis risiko, keamanan siber, hingga keuangan digital.
Selain itu, Trisno Nugroho mengingatkan pembangunan PKG Bali harus tetap berpijak pada nilai Tri Hita Karana agar keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan spiritualitas tetap terjaga.
Dalam aspek lingkungan, Trisno Nugroho mengingatkan Bali saat ini telah menghadapi persoalan kemacetan, sampah, krisis air bersih, alih fungsi lahan, dan tekanan pesisir. Jika tidak dikelola secara disiplin, kehadiran pusat keuangan global justru berpotensi menambah beban baru bagi Bali.
Trisno Nugroho juga menyoroti pentingnya menjaga reputasi Bali agar tidak dipersepsikan sebagai tempat pencucian uang atau penghindaran pajak. Menurutnya, PKG Bali harus sejak awal dibangun dengan prinsip transparansi dan kepatuhan terhadap standar internasional.
Trisno Nugroho turut mengusulkan pembentukan Bali Community and Environment Benefit Fund untuk mendukung pelatihan SDM, penguatan desa adat, pengelolaan sampah, konservasi pesisir, pengembangan UMKM, serta pelestarian budaya Bali.
“Bali boleh menuju pusat keuangan global. Tetapi Bali tidak boleh kehilangan jiwanya,” kata Trisno Nugroho.
Menurutnya, keberhasilan PKG Bali tidak hanya diukur dari besarnya dana global yang masuk, tetapi juga dari kemampuan menciptakan lapangan kerja berkualitas, menjaga lingkungan, memperkuat budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali secara berkelanjutan. (red).




