BeritaDaerahKeagamaanKesehatanPemerintahanPendidikanSosial

Dari Ruang Ujian Menuju Tanah Suci. Secuil Kisah Dr. Hj. Ririh Enggar Murwati: Ketika Allah Mengganti Luka dengan Keberkahan

"Kadang hidup tidak meminta kita kuat. Hanya meminta kita bertahan"

Pacitan,JBM.co.id- Tahun 2025 menjadi lembar kehidupan yang tak mudah dilalui oleh Dr. Hj. Ririh Enggar Murwati. Hari-hari berjalan dalam irama ujian yang datang silih berganti, seolah belum sempat satu luka mengering, ujian lain kembali mengetuk pintu kehidupan.

Pada Februari 2025, sang suami harus menjalani opname. Belum reda rasa cemas itu, September berikutnya suami kembali diuji dengan operasi pengapuran kaki. Di waktu yang hampir bersamaan, perempuan yang dikenal tenang dan bersahaja itu juga harus mendampingi ibundanya keluar masuk rumah sakit. Hingga akhirnya, pada November 2025, sang ibu berpulang untuk selama-lamanya.

Di tengah duka yang bertumpuk, ujian belum benar-benar selesai. Anak keduanya pun sempat menjalani opname. Namun di balik semua itu, Ririh memilih menjalani hidup dengan cara yang sederhana: diam, ikhlas, dan tidak mengeluh.

“Kadang hidup tidak meminta kita kuat. Hanya meminta kita bertahan,” begitu seolah semesta berbicara melalui langkah-langkah sunyinya.

Tidak banyak orang mengetahui bagaimana ia menjalani hari-hari panjang itu. Sebagai seorang pejabat publik, akademisi, sekaligus ibu, ia tetap berdiri tegak menjalankan tanggung jawabnya. Tidak menjadikan kesedihan sebagai alasan untuk berhenti melayani.

Dan seperti hujan yang selalu menyisakan pelangi, tahun 2026 datang membawa cahaya keberkahan.

Satu per satu kabar bahagia hadir menghampiri kehidupannya. Anak pertamanya melangsungkan lamaran dan bersiap menuju pernikahan pada Desember 2026. Anak keduanya berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran dan kini menjalani coass di RSUD Ponorogo.

Di tengah perjalanan hidup yang penuh ujian itu, Allah juga menghadiahkan pencapaian akademik tertinggi. Ririh dinyatakan lulus program doktoral dan menyandang gelar S3. Wisuda yang seharusnya berlangsung pada Mei 2026 bahkan rela ia lepas demi memenuhi panggilan suci: berangkat haji bersama sang suami.

Perjalanan menuju Tanah Suci itu terasa begitu istimewa. Seolah menjadi jawaban atas kesabaran panjang yang selama ini dipeluk dalam diam. Di saat banyak orang merayakan keberhasilan dengan gemerlap dunia, ia justru memilih sujud di hadapan Ka’bah.

Di sela langkah thawaf dan doa-doa di tanah suci, kabar bahagia lain kembali datang. Prestasi demi prestasi mengiringi perjalanan hidupnya, termasuk kabar kegiatan Porseni yang hadir saat dirinya berada di Mekkah. Semua terasa seperti rangkaian hadiah dari langit setelah musim panjang bernama kesedihan.

Kisah Dr. Hj. Ririh Enggar Murwati menjadi pengingat bahwa hidup tidak selalu tentang seberapa keras kita mengeluh pada keadaan, tetapi seberapa ikhlas kita bertahan di tengah badai.

Sebab sering kali, keberkahan terbesar lahir dari hati yang tetap sabar meski berkali-kali diuji.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button