BeritaDaerahKeagamaanPemerintahanPendidikanSosial

Rezeki Bukan Soal Pintar atau Bodoh: KH Mahmud Tegaskan Allah SWT Sang Maha Pemberi

"Persoalan rezeki tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau kedalaman ilmu seseorang"

Pacitan,JBM.co.id- Fenomena sosial tentang perbedaan nasib antara kepintaran dan kekayaan kembali menjadi sorotan. Ada orang yang menekuni ilmu ekonomi bertahun-tahun, memahami teori pasar, investasi, hingga manajemen keuangan, namun kondisi hidupnya tetap sederhana, bahkan miskinnya MasyaAllah. Di sisi lain, ada pula orang yang secara akademik dianggap biasa saja, bahkan dicap bodoh, namun hartanya melimpah ruah, kayanya MasyaAllah.

Fenomena serupa juga terjadi di kalangan tokoh agama. Ada kyai yang dikenal luas memiliki banyak doa, mendalami kitab-kitab klasik, serta membimbing umat dengan penuh kesungguhan, namun kehidupannya serba terbatas, miskinnya MasyaAllah. Sebaliknya, ada pula kyai yang secara kapasitas keilmuan dinilai kurang, namun secara materi justru hidup berkecukupan, bahkan kayanya MasyaAllah.

Menanggapi hal tersebut, Pendakwah yang juga menjabat sebagai Inspektur di Inspektorat Pacitan, KH Mahmud, dalam keterangannya pada Rabu (25/2/2026), menegaskan bahwa persoalan rezeki tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau kedalaman ilmu seseorang.

“Kenapa Allah berikan rezeki melimpah kepada orang bodoh? Karena Allah mengajarkan bahwa yang Maha Memberi rezeki adalah Allah SWT. Bukan kepintaran, bukan jabatan, bukan pula gelar akademik,” ujar KH Mahmud.

Menurutnya, fenomena ini menjadi pelajaran penting agar manusia tidak terjebak pada kesombongan intelektual maupun keputusasaan ekonomi. Kepintaran tidak otomatis mendatangkan kekayaan, sebagaimana kekayaan bukanlah bukti kemuliaan seseorang di sisi Allah.

Ia menjelaskan bahwa rezeki adalah bagian dari ketetapan dan ujian. Bagi yang diberi kekayaan, itu adalah ujian syukur. Sedangkan bagi yang diberi keterbatasan, itu adalah ujian kesabaran. Keduanya memiliki peluang yang sama untuk meraih derajat tinggi di sisi Allah SWT.

KH Mahmud juga mengingatkan agar masyarakat tidak mengukur kesuksesan semata dari aspek materi. “Kalau orang pintar miskin, jangan rendah diri. Kalau orang kaya tapi kurang ilmu, jangan sombong. Semua ada hikmahnya. Allah ingin menunjukkan bahwa Dia-lah satu-satunya sumber rezeki,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi refleksi bagi masyarakat bahwa dalam kehidupan, ukuran keberhasilan tidak selalu linear dengan kepintaran ataupun status sosial. Pada akhirnya, manusia hanya bisa berusaha, sementara hasil sepenuhnya berada dalam kuasa Allah SWT.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button