BeritaDaerahPemerintahanPendidikanPolitikSosial

Dari Nawangan untuk Masa Depan Pacitan: Khemal Pandu Pratikna dan Jalan Sunyi Pengabdian

"Nawangan tak menjanjikan gemerlap. Namun dari desa yang jauh dari pusat kekuasaan itulah, karakter Khemal ditempa"

Pacitan,JBM.co.id- Di lereng sunyi Nawangan, di antara kabut pagi dan jalan berliku yang mengajarkan kesabaran, lahir seorang anak desa yang kelak dipercaya memikul amanah besar.

Namanya Khemal Pandu Pratikna. Ia bukan sekadar pejabat, melainkan anak kampung yang tumbuh bersama nilai ketekunan, kesederhanaan, dan rasa hormat pada pengabdian.

Nawangan tak menjanjikan gemerlap. Namun dari desa yang jauh dari pusat kekuasaan itulah, karakter Khemal ditempa. Ia belajar bahwa hidup adalah tentang berjalan pelan, namun pasti. Tentang mendengar lebih banyak daripada berbicara. Tentang bekerja dalam diam, tanpa perlu sorak sorai.

Takdir membawanya ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Di sanalah ia masuk kawah candradimuka, tempat ego diruntuhkan dan tanggung jawab dibesarkan.

Hari-hari panjang penuh disiplin membentuknya menjadi aparatur yang tak mudah goyah, namun tetap lentur oleh nurani. Ia lulus bukan hanya membawa ijazah, tetapi juga sumpah batin untuk mengabdi sepenuh hati.

Waktu berjalan. Kepercayaan demi kepercayaan datang, bukan karena sorotan, tetapi karena kerja yang konsisten. Hingga suatu hari, di usia yang relatif muda, ia dipercaya menduduki jabatan pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pacitan. Sebuah amanah yang berat, namun diterima dengan kerendahan hati.

Sebelum menakhodai Dinas Pendidikan, Khemal telah lebih dulu mengabdi sebagai Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat. Ia mengenal denyut birokrasi dari dalam, memahami bahwa di balik setiap kebijakan ada wajah-wajah rakyat yang berharap.

Kini, pendidikan berada di bawah kendalinya. Sebuah dunia yang tak sekadar bicara angka dan administrasi, melainkan masa depan anak-anak Pacitan. Ia sadar, mengurus pendidikan berarti mengurus mimpi. Dan mimpi tak bisa diatur dengan amarah, melainkan dengan keteladanan dan kasih.

Di mata banyak orang, Khemal dikenal tegas. Namun ketegasan itu dibalut empati. Ia memilih menyelesaikan persoalan dengan dialog, bukan bentakan. Dengan sentuhan kemanusiaan, bukan sekadar kewenangan. Ia percaya, kepemimpinan sejati lahir dari kemampuan mendengar.

Sebagai putra dari tokoh politik senior Pacitan, Sutikno, jalan hidupnya kerap disorot. Namun Khemal memilih berdiri dengan prestasi, bukan bayang-bayang. Ia menjaga falsafah Jawa mikul dhuwur mendhem jero, menjunjung kehormatan orang tua tanpa menjadikannya alat untuk melangkah lebih cepat.

Tak berlebihan jika namanya mulai diperbincangkan sebagai calon Sekretaris Daerah Pacitan di masa depan, pasca purna tugas Sekda Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro pada 2027 mendatang. Namun bagi Khemal, semua itu hanyalah kemungkinan yang harus disikapi dengan kesadaran, bukan ambisi.

“Jabatan itu amanah,” tuturnya lirih. “Yang kelak saya pertanggungjawabkan bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Allah SWT. Jika memang dikehendaki, saya hanya bisa mengatakan sendiko dawuh.”

Dari Nawangan, ia melangkah. Tidak dengan gegap gempita, tetapi dengan doa orang tua, harapan rakyat kecil, dan keyakinan bahwa pengabdian yang tulus tak pernah salah alamat.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button