BeritaDaerahPemerintahanPolitikSeni BudayaSosial

Jejak Tanah dan Asa: “Di Balik Roda Trail Ketua DPRD Pacitan Menyatu Dengan Rakyat”

"DPRD bukanlah panggung untuk beretorika. Ia melihatnya sebagai wadah tanggung jawab, tempat suara rakyat disalurkan dan diperjuangkan"

Pacitan,JBM.co.id-Di sudut pedalaman yang jarang dijangkau kendaraan besar, sebuah jalan berliku dengan bebatuan cadas terserak menantang setiap langkah.

Di sanubari medan inilah, sebuah trail mini meraung pelan, menapaki bebatuan tajam. Di atasnya, tampak sosok yang tak biasa melintas di lintasan terpencil. Dia adalah Arif Setia Budi atau populis dengan sapaan ASB yang duduk sebagai Ketua DPRD Pacitan.

Bukan sekadar pejabat yang menyapa dari kejauhan, melainkan pemimpin yang memilih turun langsung menyusuri denyut kehidupan warga di pelosok.

Deru mesin saling bersahutan dengan desir angin hutan belantara. Motor trail yang dikendarainya tak sekadar kendaraan, tetapi menjadi medium untuk menjembatani ruang-ruang yang sering luput dari perhatian. Tanjakan terjal dilahap, lekuk jalan tak lagi mengecilkan langkah. Justru, di situlah cita-cita pelayanan publik menemukan pijakannya.

Sesekali laju motor terhenti. Bukan karena medan yang tak teratasi, tetapi karena ada yang harus disapa. Warga pedesaan yang biasanya hanya melihat rombongan pejabat dari kejauhan, kini menyaksikan sosok pimpinan legislatif hadir di depan mata. Dari kejauhan, raut wajah terpadu antara canggung dan penasaran. Tak lama kemudian, mesin dimatikan, suara deru berganti senyum sapa.

Arif turun. Tangannya menusuk udara desa dengan sentuhan sederhana, salam hangat dan senyum yang tulus. Ia membuka saku jaket, mengambil sebungkus rokok kretek kesukaannya.

Bukan sekadar memberi, tapi menjadi jembatan pertama untuk masuk ke dalam percakapan warga. Satu per satu, bungkus rokok lain keluar dari ransel kecilnya.

Lantas ia bagikan tanpa hiruk protokoler, tanpa jarak formalitas. Hanya kemanusiaan yang tersisa di antara mereka.

Di bawah naungan pohon besar, obrolan mengalir. Tentang jalan yang harus diperbaiki, tentang anak-anak yang menunggu sekolah diperluas, tentang musim tanam yang tak menentu karena irigasi yang kurang memadai. Warga berbicara tanpa tegang, dan Arif mendengar tanpa sibuk menjawab.

“Itu tugas kami,” katanya dengan nada lembut namun tegas. “Bukan hanya hadir di gedung, tetapi hadir di hati dan realitas kehidupan masyarakat,”sambungnya.

Bagi Arif Setia Budi, DPRD bukanlah panggung untuk beretorika. Ia melihatnya sebagai wadah tanggung jawab, tempat suara rakyat disalurkan dan diperjuangkan. Melintasi medan pedalaman bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan menuju empati.

Setiap jejak roda, setiap tawa yang terlontar, setiap cerita kehidupan yang dibagi di pinggir jalan, semuanya membentuk kisah tentang kepemimpinan yang dekat, yang tak hanya terlihat di foto-foto resmi, tetapi terasa dalam sendi-sendi kehidupan warga.

Di sini, di jalan yang berliku itu, Arif membuktikan sebuah prinsip, pemimpin bukanlah mereka yang hanya dilihat dari kejauhan, tetapi mereka yang hadir ketika harapan paling dibutuhkan.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button