Jelang Natal, Perjuangan Ayah Asal Australia Mencari Dua Putrinya Desak Negara Hadir Lindungi Hak Anak

Jbm.co.id-DENPASAR | Seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Australia, Paul La Fontaine kembali menyuarakan keprihatinan mendalam atas keberadaan dua putrinya yang telah lebih dari tiga tahun tidak diketahui keberadaannya.
Hingga kini, Paul mengaku sama sekali tidak memiliki akses komunikasi maupun informasi terkait kondisi kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan anak-anaknya.
Melalui Kuasa Hukumnya, Paul mendesak Aparat Penegak Hukum (APH), khususnya Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), agar menjadikan Undang-Undang Perlindungan Anak sebagai pijakan utama dalam menangani perkara tersebut.

Ia menegaskan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 menjamin hak anak untuk memperoleh kasih sayang, perawatan, dan perlindungan dari kedua orang tua, terlepas dari status perceraian atau putusan hak asuh.
Menurut Paul, regulasi tersebut merupakan lex specialis yang bersumber dari Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Anak. Undang-undang itu bertujuan melindungi anak dari eksploitasi, diskriminasi, penelantaran, kekerasan serta pelanggaran hak dasar lainnya, sehingga tidak seharusnya dikesampingkan oleh putusan perdata semata
Paul juga mengungkap pengalaman traumatis saat berupaya bertemu anak-anaknya pada Natal tahun lalu.
Ia mendatangi rumah tempat anak-anak dijadwalkan tinggal untuk memberikan hadiah Natal berupa uang, pakaian, dan kebutuhan dasar. Namun, niat tersebut justru berujung intimidasi.
Paul mengaku didatangi sejumlah pria dan menerima ancaman pembunuhan dua hari menjelang Natal. Peristiwa tersebut telah dilaporkan kepada kepolisian setempat.
Namun, menurut Paul, lebih dari satu tahun berlalu tanpa tindak lanjut yang berarti dari Aparat Penegak Hukum (APH) di wilayah Polresta Denpasar.
Dua bulan lalu, anak-anak itu sempat kembali ke rumah tersebut. Seorang tetangga mendengar teriakan dan tangisan yang berlangsung terus-menerus, merekam kejadian itu, lalu menyerahkannya kepada polisi.
Aparat sempat melakukan pemeriksaan, tetapi tidak lama kemudian anak-anak kembali menghilang bersama ibu mereka. Hingga kini, keberadaan keduanya masih belum diketahui.
Atas kondisi itu, Paul telah mengajukan laporan resmi anak hilang ke Kepolisian Daerah Bali. Namun hingga saat ini, ia menilai belum ada perkembangan signifikan.
“Pihak kepolisian tidak mengetahui dimana anak-anak berada, dan saya sebagai ayah juga tidak mengetahuinya,” kata Paul.
Selain soal keberadaan anak, Paul menyoroti persoalan hak asuh dan pendidikan. Ia menyatakan pengadilan telah menetapkan hak asuh bersama serta menyebut aset keluarga sebagai harta bersama.
Paul mengaku telah menawarkan pembagian aset secara adil, tetapi tidak pernah mendapat respons. Kekhawatiran lain yang diungkapkan Paul adalah soal pendidikan anak-anaknya.
Ia menduga kedua putrinya tidak memperoleh pendidikan formal sejak usia tiga tahun. Paul menyebut telah mewawancarai guru homeschooling yang mengajar anak-anak tersebut dan menemukan bahwa yang bersangkutan tidak memiliki kualifikasi resmi sebagai tenaga pendidik. Keterangan itu telah ia dokumentasikan sebagai alat bukti.
Terkait gugatan finansial yang sedang berjalan, Paul menilai tuntutan tersebut tidak masuk akal. Ia menduga anak-anak disembunyikan untuk memperoleh tunjangan anak yang tidak pernah ditetapkan pengadilan dalam putusan perceraian.
Paul menegaskan komitmennya untuk tetap memenuhi seluruh kebutuhan anak-anaknya selama berada dalam pengasuhannya, termasuk dengan menyisihkan dana khusus bagi masa depan kedua putrinya yang telah dibuktikan di pengadilan. Kerinduan terhadap anak-anak juga disampaikan Eva, pengasuh yang pernah merawat mereka.
Eva mengucapkan Selamat Natal kepada kedua anak tersebut sambil mengungkapkan rasa rindu mendalam, saat dikonfirmasi awak media, Rabu, 24 Desember 2025.
Ia mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat karena pernah mengasuh dan merawat mereka sehari-hari. Paul juga mengungkap telah mengajukan permohonan bantuan kesejahteraan anak kepada Pemerintah Australia.
Bantuan tersebut dapat diakses apabila anak-anak dibawa ke Konsulat Australia untuk proses identifikasi dan pendaftaran. Seluruh dokumen pengajuan, katanya, telah diserahkan dan dicatat sebagai bagian dari proses persidangan.
Menjelang Natal, Paul menyatakan niatnya untuk kembali mendatangi rumah tempat anak-anaknya diduga berada, dengan harapan mereka dapat kembali pulang dan merayakan Natal bersama.
Namun, ia mengaku bersiap menghadapi kemungkinan menjalani Natal ketiga secara berturut-turut seorang diri, tanpa kehadiran kedua putrinya.
Paul juga menyampaikan permohonan terbuka kepada mantan istrinya agar bersedia kembali pada Tahun Baru dan menjalankan peran sebagai orang tua bersama demi kepentingan terbaik anak-anak. Ia berharap Isla dan Sianna dapat tumbuh dengan kasih sayang utuh dari kedua orang tua.
“Saya bertanya dengan tulus, sebagai orang tua, adakah seseorang yang menolak bantuan sosial negara yang diperuntukkan bagi kepentingan terbaik anaknya sendiri,” kata Paul.
Ia berharap negara hadir secara nyata untuk memastikan keselamatan, kesejahteraan, serta pemenuhan hak-hak kedua putrinya dengan mengedepankan prinsip perlindungan anak dan kemanusiaan. (ich/red).



