FKUB Bali Perkuat Peran Pemuda dan Perempuan Lintas Agama Jaga Kerukunan Ditengah Tantangan Era Digital

Jbm.co.id-DENPASAR | Ditengah pesatnya arus informasi digital dan berkembangnya kecerdasan buatan (AI), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali menilai upaya menjaga harmoni antar umat beragama membutuhkan pendekatan baru yang adaptif dan inklusif.
FKUB Bali menekankan bahwa tantangan kerukunan saat ini tidak lagi sebatas persoalan fisik atau ruang sosial, tetapi juga merambah ruang digital. Media sosial dinilai menjadi medan strategis yang menentukan arah persatuan, terutama bagi Bali yang dikenal sebagai daerah dengan tingkat kemajemukan tinggi.
Ketua Umum FKUB Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menyebutkan bahwa keberlanjutan toleransi di Bali sangat ditentukan oleh keterlibatan generasi muda sebagai pengguna aktif teknologi digital.
Demikian dikatakan Ketua Umum FKUB Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, saat Dialog Kerukunan Perempuan dan Generasi Muda Lintas Agama Provinsi Bali di Grand Ballroom Level 6 Four Star by Trans Hotel, Jalan Raya Puputan No.200 Renon, Denpasar, Selasa, 23 Desember 2025.
Menurutnya, generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen opini yang mampu memengaruhi persepsi publik secara luas.
“Kita di FKUB Bali khan sudah tua-tua. Jadi, generasi muda itu memang perlu diisi terus dengan kerukunan, karena generasi muda ini yang paling banyak, terutama tantangan di medsos,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemampuan literasi digital menjadi benteng utama dalam mencegah penyebaran konten yang berpotensi memicu konflik sosial dan keagamaan.
“Harus bisa memilah-milah, mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk dishare. Bagaimana mengisi konten dan berkomentar di konten. Nah, seperti itu,” ungkapnya.
FKUB Bali juga menilai generasi Z memiliki keunggulan dalam membangun jejaring lintas budaya dan lintas negara, sehingga dapat menjadi duta toleransi di tingkat global.
“Jadi, pemuda kunci penjaga kerukunan, karena memiliki semangat dan energi, memiliki kapasitas untuk mengubah dan membawa perubahan positif dalam masyarakat dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi serta memiliki beradaptasi dengan perubahan-perubahan budaya dan lingkungan sekitar,” urainya.
Selain peran pemuda, FKUB Bali menyoroti kontribusi perempuan lintas agama sebagai pilar harmoni sosial yang berangkat dari ruang domestik hingga aktivitas sosial kemasyarakatan.
“Nanti, jika kumpul-kumpul di Bali, misalkan mejejaitan, arisan dan lain-lainnya, ngobrolnya soal kerukunan umat beragama pula,” jelasnya.
Ia menegaskan, perempuan memiliki posisi strategis sekaligus rentan saat konflik terjadi, namun justru kerap menjadi pihak yang mampu menenangkan dan menjembatani perbedaan.
“Melalui dialog antar agama, dan kegiatan-kegiatan sosial dengan memberi ruang dan peran kepada Perempuan untuk dapat berkontribusi untuk mendorong kerukunan,” terangnya.
Antusiasme peserta dari kalangan generasi muda dan perempuan lintas agama menjadi indikator kuat bahwa semangat menjaga toleransi di Bali masih sangat terawat.
“Semua yang tadi itu membanggakan dan membahagiakan, karena undangan itu melebihi yang datang. Ya, ibaratnya 110 persen yang datang. Jadi, tempat duduk sampai penuh,” paparnya.
FKUB Bali menegaskan bahwa menjaga kerukunan umat beragama adalah tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat, dengan pemerintah tetap berada di garda terdepan.
“Meski begitu kita semuanya tidak boleh berpangku tangan harus membantu Pemerintah didalam merawat dan menjaga kerukunan demi tanah air tercinta,” pungkasnya. (red).




