
Jbm.co.id-DENPASAR | Kasus bunuh diri bukan sekadar angka dalam laporan kepolisian atau headline di media.
Dibalik setiap nyawa yang hilang, selalu ada kisah yang tak pernah selesai, tentang anak yang tumbuh dalam rumah tanpa pelukan, tentang siswa yang menanggung ejekan setiap hari, tentang seseorang yang mencoba kuat namun tak pernah dimengerti.
Kita sering kali hanya sibuk mencari “siapa yang salah”. Padahal, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mendengar dan empati untuk memahami.
Toxic parenting dan bullying bukan isu kecil. Keduanya adalah racun yang menetes perlahan, menggerogoti jiwa tanpa meninggalkan bekas yang terlihat.
Jika rumah sudah tak lagi menjadi tempat pulang, dan sekolah berubah menjadi ruang penghakiman, maka ke mana lagi seseorang harus berlari?
Mari berhenti menilai dan mulai mendengarkan. Karena satu telinga yang benar-benar mau mendengar, kadang lebih menyelamatkan daripada seribu kata nasihat.
“Kamu tidak sendiri, selalu ada jalan untuk pulih”. (red/ich).



