BeritaDaerahPendidikan

SMA Taruna Mandara Ciptakan Pemimpin Bali Masa Depan Miliki Spirit, Skill dan Stamina Lengkap

Jbm.co.id-BULELENG | Selama tiga tahun menempa pendidikan di SMA Taruna Mandara akhirnya 48 siswa dinyatakan resmi lulus, dalam menyelesaikan pendidikannya.

Dengan mengusung tema “Instruction Ends at School Education Ends with Life”, perayaan kelulusan Panca Pradana Graduation disambut sukacita oleh para siswa siswi SMA Taruna Mandara.

Diharapkan, anak didik SMA Taruna Mandara memiliki karakter yang kuat dan bisa hidup mandiri, sehingga muncul bibit-bibit leadership atau kepemimpinan masa depan dengan tagline “Spirit, Skill dan Stamina”.

Demikian dikatakan Mentor Nyoman Darta dan Ketut Arkama selaku Kepala Sekolah SMA Taruna Mandara, usai acara Panca Pradana Graduation SMA Taruna Mandara di Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Jumat, 21 Maret 2025.

Menurutnya, SMA Taruna Mandara didirikan oleh Founder, Komjen Pol (Purn) DR. Made Mangku Pastika, pada tahun 2018.

Disebutkan, pendirian SMA Taruna Mandara ini bertujuan untuk menciptakan pemimpin Bali masa depan.

Pemimpin yang diciptakan tersebut minimal harus memiliki tiga hal meliputi Spirit, Skill dan Stamina yang lengkap.

“Dengan bekal Spirit, Skill dan Stamina yang kita latih di SMA Taruna Mandara, kita yakin anak didik mampu bersaing dimanapun mereka berada,” kata Nyoman Darta dan Ketut Arkama.

Untuk itu, anak didik SMA Taruna Mandara dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan, dikarenakan SMA Taruna Mandara juga memiliki kelas inspirasi.

“Setiap tamu datang, entah itu kita undang atau tidak, yang memiliki kompetensi di bidang tertentu, maka anak-anak kita keluarkan dari kelas dan dikumpulkan di ruang Akasa ini, untuk menerima informasi, motivasi maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. Itu yang selalu kita laksanakan,” terangnya.

Untuk bisa fokus mengarahkan anak didik, maka pihaknya mengadakan kegiatan The Calling artinya panggilan.

Pada saat itu, lanjutnya anak didik dikumpulkan per peleton di suatu tempat dengan diberikan secarik kertas, baik di ruang Angkasa maupun Pertiwi.

Ada dua lembaran dibalik kertas itu, yaitu lembaran pertama, anak didik disuruh menulis tujuan masuk ke SMA Taruna Mandara. Setelah itu, dibaliknya mereka harus nulis cita-citanya.

“Jadi, ketika menulis cita-cita situasi sangat sakral. Kita lepaskan mereka dari seluruh pengaruh siapapun, termasuk orangtua. Kita inginkan anak didik mandiri sesuai potensi yang mereka miliki untuk menuliskan cita-cita itu,” tegasnya.

Setelah ditulis, lanjutnya digulung dan dimasukkan kedalam botol kecil yang namanya Time Kapsul, yang selanjutnya hal tersebut dikejar selama mengikuti pendidikan selama tiga tahun di SMA Taruna Mandara.

“Nah, kemarin, ketika mereka akan tamat, Time Kapsul dibuka. Akibat memperoleh ilmu pengetahuan, mereka sadar bahwa cita-cita saya dulu sudah kadaluwarsa, maka boleh mengubah. Itu kemarin dilakukan dan bisa diupgrade diakhir mereka tamat. Setelah itu, lagi dimasukkan kedalam kotak namanya The Calling Cest, kuncinya dipegang Kepala Sekolah, nanti mereka kejar keluar cita-cita itu, setelah tamat dari sini,” urainya.

Begitu mereka tamat, misalnya menjadi dokter, mereka bakal kembali ke SMA Taruna Mandara untuk dibuka Time Kapsul di depan adik-adiknya.

Untuk itu, anak didik di SMA Taruna Mandara menjawab dengan tegas cita-citanya kedepan dan tidak ada ragu-ragu mengungkapkan, misalnya cita-cita menjadi Dokter, Taruna Akpol, Akmil dan lain sebagainya.

Dengan nada kepastian, mereka mengungkapkan cita-citanya, sehingga mereka memahami apa yang semestinya dilakukan merealisasikan cita-citanya.

“Cita-cita saya ini sudah saya dapatkan. Disini kita harapkan adik-adiknya termotivasi, bahwa mereka harus fokus bekerja keras, pantang mundur dan pantang menyerah, agar cita-cita itu bisa tercapai,” tambahnya.

Selain itu, pendidikan karakter memang segala-galanya diterapkan di SMA Taruna Mandara, yang selalu ditekankan pendidikan karakter yang harus dibudayakan.

“Nah, pembudayaan karakter inilah dilakukan di sekolah ini dengan berbagai cara, misalnya untuk hal-hal positif, bagaimana mereka bisa menghormati semuanya. Kita sampaikan, bahwa setiap tamu datang diberikan hormat, kemudian bendera merah putih naik dan ada terompet, mereka harus hormat dimanapun berada. Sekarang ada anjuran setiap jam 10 pagi dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengucapkan Pancasila itu juga mereka lakukan,” pungkasnya.

Turut hadir, Komjen Pol (Purn) DR. Made Mangku Pastika selaku Pendiri SMA Taruna Mandara, Panglingsir Puri Ageng Mengwi, Ida Anak Agung Gde Agung, Konjen Republik Rakyat Tiongkok, Zhang Zhisheng dan Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) Singaraja, Kombes Pol. Dewa Eka Darmawan serta para undangan lainnya. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button