BaliBeritaDaerahDenpasarPendidikan

Pemerataan Kue Pembangunan Pariwisata Bali

Oleh: DR. MM. Mildawani, MA., Psikolog

Jbm.co.id-DENPASAR | Pulau Dewata, Bali, telah dan masih menjadi icon utama pariwisata di nusantara. Sejak lama kunjungan ke pulau ini menjadi impian banyak turis lokal dan manca negara, bahkan untuk mereka yang sudah datang berkali.

Menikmati keindahan alam pantai persawahan dan pegunungan, merasakan hospitality masyarakatnya dengan tradisi Hindu dan seribu puranya, menyaksikan keindahan budaya dan seni karya senimannya, serta mengecap lezatnya varian kuliner lokal dan internasional menjadi magnet daya tarik tak kunjung redup.

Berbagai keindahan tersaji telah menempatkan Bali sebagai destinasi favorit di kalangan pelancong dari seluruh dunia. Diantara wisatawan, banyak yang datang bersama pasangan atau calon pasangan. Banyak yang menetapkan Bali sebagai pilihan impian untuk menikah. Selain itu, banyak pula yang mengunjungi pulau ini untuk berbulan madu.

Bali menyajikan paket komplit bagi pasangan baru untuk membangun suasana indah nan romantis. Tak heran, World Travel Awards kembali menobatkan Bali sebagai destinasi paling romantis di dunia pada 2026. Apabila Eropa memiliki Paris sebagai “kota cinta”, maka Asia punya Bali sebagai “pulau romantis”.

Namun, seiring kunjungan ribuan hingga jutaan wisatawan itu, pariwisata Bali ternyata menyimpan berbagai pertanyaan menggelayut. Beberapa diantaranya adalah; langkah pembangunan masih kerap mengorbankan aspek lingkungan, areal persawahan, hutan bakau dan mengancam hutan lindung.

Langkah pengadaan infrastruktur tertinggal jauh dengan meningkatnya kunjungan hotel-hotel dan wahana hiburan terpusat di selatan Bali, sampah belum terkelola optimal, dan kemacetan menjadi momok utama sehari-hari. Belum lagi pembangunan yang tidak disiplin merawat tanah Bali yang terbatas telah menimbulkan banjir yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Banjir akibat hujan lebat ekstrim pada 10-12 September 2025 di Selatan Bali telah memakan korban jiwa dan material. 18 orang meninggal dan 4 orang hilang pada bencana itu. Sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Merawat optimisme pembangunan pariwisata Bali ke depan, seorang tokoh budaya dan lingkungan Bali, Putu Suasta mengingatkan, bahwa pembangunan pariwisata mutlak berorientasi pada kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata, serta berwawasan lingkungan.

Rejeki dari sektor pariwisata terkonsentrasi dan dinikmati masyarakat di Bali Selatan. Masyarakat Bali Utara yang relative miskin masih menikmati remah kue pembangunan pariwisata Bali dengan menjadi buruh kasar di selatan Bali.

“Ironi ini sudah saatnya dihentikan. Sama penting dengan itu, pengabaian sumbangan pohon, hutan bakau dan hutan lindung sangat berbahaya dikemudian hari. Banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, serta banjir di selatan Bali adalah pelajaran yang tak perlu diulang,” tegas Putu Suasta.

Peringatan Putu Suasta patut menjadi perhatian para pemangku kepentingan. Sembari mewujudkan mimpi pembangunan infrastruktur yang berkeadilan di utara Bali, merawat lingkungan alam adalah hal penting yang harus terus dijaga secara disiplin. Semoga, Bali yang indah, berbudaya, berwawasan lingkungan serta romantis, tetap terjaga. Selamat Tahun Baru 2026 !!!

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button