BeritaDaerahEkonomiHukum dan KriminalPemerintahanPendidikanPolriSosial

Menukar Sampah, Menjemput Harapan: Green SIM dari Sampah Plastik Yang Terserak

"Lebih dari sekadar SIM, Green SIM adalah pesan. Bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil"

Pacitan,JBM.co.id- Pagi masih basah oleh embun ketika langkah-langkah sederhana itu menyusuri pasar. Di tengah denyut kehidupan yang mulai berdenyut, beberapa warga tampak memanggul karung plastik, berjalan perlahan, sabar, dan penuh ketekunan.

Bukan sayur atau bahan pangan yang mereka cari. Bukan pula rupiah yang hendak dikejar. Tangan-tangan itu justru memungut botol plastik bekas minuman kemasan yang tercecer di sudut pelataran parkir, di sela lorong sempit pasar, di tempat-tempat yang kerap luput dari perhatian.

Satu botol, dua botol, lalu bertambah. Karung plastik pun kian berat. Namun tak satu pun wajah terlihat mengeluh. Sebab sampah-sampah itu bukan sekadar limbah. Ia menjelma harapan.

Sampah plastik tersebut akan dibawa ke Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pacitan. Di sanalah, 10 kilogram plastik ditukar dengan selembar rekomendasi yang oleh warga disebut sebagai “kartu sakti”. Sepotong kertas sederhana, namun bernilai besar. Dari kartu itulah jalan menuju Green SIM terbuka lebar, sebuah program pengurusan Surat Izin Mengemudi gratis yang digagas Polres Pacitan.

Di bawah kendali AKBP Ayub Diponegoro Azhar, Polres Pacitan memilih jalan yang tak biasa. Pelayanan publik tak lagi semata urusan meja dan berkas, melainkan dirangkai dengan kepedulian terhadap bumi. Green SIM hadir sebagai jembatan antara kesadaran lingkungan dan kebutuhan masyarakat akan legalitas berkendara.

Aksi pungut sampah plastik.
Aksi pungut sampah plastik.

Program ini lahir dari kolaborasi Polres Pacitan, PLTU, dan Dinas Lingkungan Hidup. Skemanya sederhana, namun sarat makna: masyarakat cukup mengumpulkan 10 kilogram sampah plastik, menyerahkannya ke DLH, lalu melangkah ke Mapolres Pacitan untuk mengurus SIM tanpa dipungut biaya sepeser pun.

“Gratis. Tidak ada biaya apa pun. Cukup bawa sampah plastik 10 kilogram, setor ke DLH, lalu datang ke Polres untuk mengikuti tahapan selanjutnya,” tutur Kapolres Pacitan, AKBP Ayub Diponegoro Azhar, baru-baru ini.

Namun kemudahan itu tetap berdiri di atas prinsip keselamatan. Sekalipun tanpa biaya, setiap pemohon tetap harus melewati proses resmi. Mulai dari tes kesehatan, pemeriksaan psikologi, ujian teori, hingga praktik berkendara.

“Kalau semua lulus, barulah SIM diterbitkan,” tegasnya.

Di balik layar, seluruh pembiayaan negara dalam program Green SIM ditopang melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari PLTU. Sebuah sinergi yang memungkinkan pelayanan publik berjalan tanpa membebani masyarakat.

Lebih dari sekadar SIM, Green SIM adalah pesan. Bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil. Dari botol plastik yang dipungut di pasar. Dari tangan-tangan sederhana yang memilih menjaga bumi sambil menjemput hak berkendara secara sah.

Di Pacitan, sampah tak lagi hanya cerita tentang kotor dan terbuang. Ia kini menjadi jalan sunyi menuju harapan, membersihkan lingkungan, menertibkan lalu lintas, dan menghadirkan negara dengan wajah yang lebih ramah.(Red/yun)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button