BeritaDaerahEkonomiPemerintahanPendidikanSosial

Menjaga Dapur Tetap Ngebul: Strategi Disdagnaker Pacitan “Menjinakkan” Inflasi Jelang Ramadhan

"Ketika pasokan terganggu, sekecil apa pun, harga akan mudah bergejolak. Di sinilah ruang spekulasi bisa muncul, termasuk potensi permainan stok oleh oknum tertentu. Ini yang terus kami antisipasi"

Pacitan,JBM.co.id-Menjelang bulan suci Ramadhan, dinamika harga bahan pokok kerap menjadi isu krusial yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat. Peningkatan konsumsi, gangguan distribusi, hingga praktik spekulatif di tingkat pasar sering kali menjadi pemicu naiknya harga. Menyadari potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja (Disdagnaker) bergerak cepat memperkuat langkah antisipatif.

Merespons arahan Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Disdagnaker Pacitan langsung mengintensifkan pemantauan harga dan ketersediaan bahan pokok di sejumlah pasar tradisional. Langkah ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi daerah serta melindungi daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan.

Kepala Bidang Perdagangan dan Metrologi Disdagnaker Pacitan, Sukanto, menjelaskan bahwa pengendalian inflasi tidak bisa hanya bertumpu pada pengawasan harga semata. Ketersediaan pasokan menjadi faktor kunci yang harus dijaga agar mekanisme pasar tetap berjalan sehat.

“Ketika pasokan terganggu, sekecil apa pun, harga akan mudah bergejolak. Di sinilah ruang spekulasi bisa muncul, termasuk potensi permainan stok oleh oknum tertentu. Ini yang terus kami antisipasi,” ungkapnya, Rabu (21/1/2026).

Dari hasil pemantauan sementara, beberapa komoditas memang menunjukkan gejala kenaikan harga, seperti cabai yang sangat sensitif terhadap perubahan cuaca dan distribusi. Namun, Sukanto menegaskan bahwa kenaikan tersebut masih dalam kategori wajar dan belum mengarah pada tekanan inflasi yang membahayakan.

“Secara umum, inflasi di Pacitan masih terkendali. Daya beli masyarakat juga relatif stabil. Namun, pengendalian inflasi adalah kerja berkelanjutan, bukan reaksi sesaat. Kewaspadaan tetap harus dijaga,” jelasnya.

Secara edukatif, Sukanto menambahkan bahwa stabilitas harga tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Peran pedagang, distributor, hingga masyarakat sebagai konsumen juga menentukan. Pola belanja yang bijak, tidak melakukan panic buying, serta distribusi yang jujur dan transparan akan membantu menciptakan pasar yang sehat.

Untuk memperkuat upaya tersebut, Disdagnaker Pacitan juga melakukan koordinasi lintas sektor, mulai dari instansi teknis, aparat pengawasan, hingga unsur keamanan. Tujuannya, memastikan distribusi berjalan lancar, stok aman, serta tidak ada praktik yang merugikan masyarakat.

Lebih lanjut, pihaknya memastikan bahwa pengawasan akan terus diperketat selama Ramadhan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri, periode yang secara historis memiliki risiko inflasi cukup tinggi.

“Komitmen kami jelas, pasokan harus terjaga dan harga tetap terkendali. Dengan sinergi semua pihak, kami optimistis Pacitan bisa melewati Ramadhan dengan kondisi ekonomi yang stabil dan kondusif,” tegasnya.

Langkah antisipatif ini diharapkan tidak hanya mampu menahan laju inflasi jangka pendek, tetapi juga meningkatkan kesadaran publik bahwa stabilitas harga merupakan fondasi penting bagi ketahanan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button