Manah Toya Ning, Rangkaian Prosesi Sakral Karya Baligia di Pura Pesucian Ulun Gangga, Taman Tirta Gangga

Jbm.co.id-KARANGASEM | Manah Toya Ning atau Mendak Toya Ning merupakan sebuah prosesi sakral, dalam rangkaian Upacara Baligia dilaksanakan di Pura Pesucian Ulun Gangga, Taman Tirta Gangga, Desa Ababi, Kecamatan Abang, Karangasem, Kamis, 17 Juli 2025.

Prosesi ini dilakukan dengan cara “memanah” air suci oleh Ida Pedanda dengan panah berwarna keemasan sebagai simbol penyucian dan permohonan restu dari Ida Bathara, yang air suci ini nantinya dipergunakan untuk muput seluruh tahapan upacara Baligia.
Air suci yang digunakan dalam prosesi Manah Toya Ning terlebih dahulu dilungsur, lalu dibawa dengan cara yang istimewa. Air tersebut dipapah oleh keluarga keturunan raja Puri Agung Karangasem yang duduk di atas singgasana, kemudian digendong dan diarak menuju Pura Pesucian Tirta Gangga melalui prosesi mepeed.
Tradisi ini menjadi simbol kehormatan dan spiritualitas tinggi, karena hanya keturunan keluarga puri yang berhak memangku air suci tersebut sebagai lambang warisan suci dan agung dari leluhur.
Prawartaka Karya, Anak Agung Made Kosalya menyatakan bahwa air suci yang ditunas dalam prosesi ini merupakan inti dari keseluruhan upacara Baligia.
“Toya ning ini nantinya dipergunakan untuk muput seluruh tahapan upacara. Tradisinya, harus ada keturunan keluarga puri yang memangku toya tersebut sebagai simbol keagungan dan warisan spiritual dari Ida Bathara,” terangnya.
Air suci sebelumnya diambil oleh Manggala Karya A. A. Bagus Partha Wijaya bersama Prawartaka Karya A. A. Made Kosalia. Keduanya merupakan cucu Raja Karangasem ke XIV. Kemudian Air Suci diusung dan dihaturkan kepada Ida Pedanda Yadjamana Ida Pedanda Gede Putra Tamu dari Geria Jungutan Bungaya selanjutnya dipergunakan sebagai Air Suci pemuput Upacara Karya Baligia Utama Puri Agung Karangasem.
Mengingat, situasi lalu lintas padat akibat peralihan jalur dari Denpasar imbas jembatan rusak di Bajra, panitia upacara memilih rute yang aman selama prosesi mepeed dilaksanakan, agar tidak menambah kemacetan, terutama karena banyaknya truk besar di jalur utama.
“Pengamanan dan pengaturan arus lalu lintas melibatkan personel dari Polres Karangasem, Dinas Perhubungan, pecalang Karangasem hingga pecalang Desa Adat Ababi, Percalang Desa Adat Ababi,” kata Prawartaka karya, Anak Agung Made Kosalya.
Hal tersebut dilakukan untuk memastikan prosesi berjalan tertib hingga ke lokasi utama upacara di Pura Pesucian Tirta Gangga. (red/tim).




