BeritaDaerahPemerintahanPendidikanPolitikSeni BudayaSosial

Ketika Ayah Datang Menjemput Rapor, Sekda Maulana Heru Sampaikan Pendapat Bijak

"Selama ini komunikasi sekolah dan keluarga lebih sering didominasi kaum Hawa. Padahal, peran ayah dalam pendidikan emosional dan sosial anak juga penting untuk tumbuh kembang"

Pagi itu ruang kelas sebuah sekolah dasar di Pacitan tak seperti biasanya. Di tengah liburan semester dan bangku-bangku yang tersusun rapi tanpa kehadiran siswa, langkah-langkah kaki terdengar perlahan memasuki ruangan.

Begitulah sekilas suasana saat Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR Pacitan) dilaksanakan pada Jumat (19/12/2025). Lantas bagaimana kisah selanjutnya? Berikut laporan wartawan JBM.co.id dari Pacitan, Jawa-Timur:

Dari luar jendela, tampak beberapa laki-laki berjalan mantap menuju kelas. Kemeja batik, hem lengan panjang, hingga kopiah hitam tampak dikenakan dengan rapi. Sesekali nampak senyuman kecil, canggung namun bangga.

Di sudut lain, beberapa ras terkuat di muka bumi (ibu-ibu, Red) tampak turut hadir menggenggam sebuah map rapor. Sebagian datang sendiri, sebagian berdua. Tidak ada larangan, tidak ada sekat. Mereka duduk berdampingan, menunggu giliran dipanggil guru kelas.

Di depan ruangan, seorang guru berdiri menyambut satu per satu tamu yang datang. Anggukan kepala dan senyum hangat seolah menyiratkan bahwa hari itu adalah hari istimewa.

Bukan karena nilai yang tertera dalam rapor anak-anak, melainkan karena kehadiran para orang tua, khususnya sang ayah, yang selama ini lebih sering berada di luar ruang sekolah.

Di atas meja sederhana, tumpukan map merah bergambar logo Tut Wuri Handayani menanti untuk dibuka. Map-map itu bukan sekadar dokumen akademik, tetapi jembatan dialog antara rumah dan sekolah.

Mereka yang datang hari itu tengah merespons ajakan pemerintah dalam gerakan nasional “Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah”, yang dicetuskan melalui Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 14/2025.

Hal inilah yang menuai pro dan kontra di masyarakat. Bagi sebagian kalangan, ajakan ini dianggap bentuk apresiasi dan ajakan simbolik agar ayah lebih terlibat dalam pendidikan anak.

Namun bagi sebagian keluarga lain, seruan itu terasa seperti beban, terutama bagi mereka yang bekerja di luar kota atau di luar negeri, atau tak memungkinkan hadir karena kondisi tertentu.

Menanggapi polemik tersebut, Sekretaris Daerah Pacitan, Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro, meminta masyarakat menyikapinya dengan bijak.

Pemerintah, tegasnya, hanya mengimbau agar keterlibatan orang tua, khususnya ayah, semakin nyata. GEMAR Pacitan, merupakan imbauan dan bukan sebuah gerakan paksaan dari pemerintah daerah.

“Tidak sedikit kepala keluarga yang bekerja di luar daerah atau bahkan di luar negeri. Ada pula ayah yang sakit, atau telah tiada,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (20/12/2025).

Karena itu, bila ibu, kakek, atau wali lain datang menggantikan, sekolah tetap mempersilakan.

Di balik pro-kontra tersebut, gerakan ini menyentil diskusi lebih dalam tentang sejauh mana keterlibatan ayah dalam pendidikan anak.

Selama ini komunikasi sekolah dan keluarga lebih sering didominasi kaum Hawa. Padahal, peran ayah dalam pendidikan emosional dan sosial anak juga penting untuk tumbuh kembang.

Masih di kesempatan yang sama, dari salah satu bangku kayu, seorang ayah terlihat membuka map rapor perlahan. Ia mengamati grafik perkembangan anaknya sambil mendengarkan penjelasan guru.

Sesekali ia mengangguk, kemudian menatap jauh. Tak banyak kata terucap, tetapi sorot matanya menyimpan bangga sekaligus tanggung jawab yang berat sebagai orang tua.

Bagi sebagian keluarga, mengambil rapor mungkin hanya rutinitas. Namun bagi mereka yang jarang hadir di sekolah karena kesibukan bekerja, momen ini seperti pintu kecil untuk kembali terhubung dengan perjalanan akademik anak.

“Siapapun yang hadir, ayah, ibu, kakek, atau paman, yang terpenting adalah perhatian dan keterlibatan keluarga dalam pendidikan,” kata Maulana Heru.

Sementara di penghujung acara, para orang tua tampak mulai beranjak dari kelas. Beberapa saling menyapa, sebagian berjalan tergesa.

Namun ada pula yang menuntun tangan anaknya yang sedari tadi menunggu di luar, seakan ingin menunjukkan bahwa momen itu lebih dari sekadar mengambil rapor.

Karena mungkin, pada akhirnya, pesan dari gerakan ini bukan soal siapa yang datang, melainkan bagaimana keluarga menyediakan ruang tumbuh, ruang dialog, dan ruang hadir bagi anak-anak mereka, meski hanya sebentar.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button