BaliBangliBeritaDaerahLingkungan HidupPemerintahan

Jalan Penghubung Juuk Bali Menuju Selat Jebol Komisi III Tuding PUPR Ceroboh Perencanaan

Jbm.co.id-BANGLI | Komisi III DPRD Kabupaten Bangli turun langsung monitoring situasi jalan penghubung Juuk Bali ke Selat jebol, Kamis, 15 Januari 2026.

Pada musim hujan yang terus menguyur di daerah Bangli ditemukan banyak kejadian-kejadian yang menyebabkan fasilitas umum rusak, diantaranya jalan penghubung dusun Penatahan, Juuk Bali menuju Selat.

Foto: Komisi III DPRD Kabupaten Bangli turun langsung monitoring situasi jalan penghubung Juuk Bali ke Selat jebol, Kamis, 15 Januari 2026.

Banyak fasilitas umum yang rusak, selain fasilitas perorangan. Namun, terhadap jebolnya ruas jalan di Penatahan menuju Dusun Juuk Bali di Kecamatan Susut Komisi III menuding jebolnya jalan tersebut lebih disebabkan oleh perencanaan yang ceroboh tidak melihat potensi debit air di musim hujan.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Bangli, I Nengah Darsana usai sidak, Kamis, 15 Januari  2026 kepada awak media mengungkapkan bahwasannya ambruknya jalan diatas sungai atau sungai mati) di Penatahan Susut, itu lebih disebabkan faktor salah perencanaan.

“Ini jelas di perencanaan yang ceroboh dan kurang bagus, betapa tidak. Jalan itu tidak dibuatkan gorong- gorong (drainase). Begitu ada air hujan, praktis air mengancam dan merongrongnya,” kesalnya.

Dia sayangkan proyek yang menggunakan anggaran besar tidak menjamin kualitas alias mudah rusak. Pihaknya mengaku segera bakal melakukan rapat kerja dengan Dinas PUPR untuk menyikapi hal tersebut sekaligus membahas beberapa persoalan tentang infrastruktur di Bangli.

Diharapkan ke depan tidak lagi muncul persoalan serupa, sehingga anggaran yang dikeluarkan benar- benar dapat menghasilkan proyek fisik yang bermanfaat dalam jangka panjang. “Kalau perencanaan salah sebesar apapun anggaran yang digunakan akan sia-sia dia,” cetusnya.

Dia mengatakan setiap pembangunan harus mempertimbangkan faktor geografis, selain faktor- faktor yang lain. Dijelaskan Bangli secara geografis merupakan wilayah rawan bencana. Bila pembangunannya tidak mempertimbangkan hal tersebut maka akan sangat kurang efektif.

Dia yakin instansi teknis paham soal teknis dan paham kondisi riil di lokasi. Menurutnya lebih baik anggaran ditambah daripada jalan hancur yang ujung- ujungnya lebih banyak biaya yang disedot untuk perbaikan. ( Rcn).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button