BeritaDaerahKeagamaanPemerintahanPendidikanSosial

Gempa Pacitan dalam Perspektif Sains dan Islam: Antara Fenomena Alam dan Peringatan Moral. Ini Penjelasan KH Mahmud

"Gempa bumi adalah fenomena alam yang bisa dijelaskan secara ilmu pengetahuan. Namun dalam perspektif Islam, kejadian seperti ini dapat menjadi peringatan dari Allah SWT bagi manusia"

Pacitan,JBM.co.id-Gempa bumi berkekuatan cukup signifikan yang mengguncang wilayah Pacitan, Selasa kemarin, kembali mengingatkan masyarakat akan kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana. Guncangan yang terjadi secara tiba-tiba tersebut sempat memicu kepanikan warga, meski hingga kini tidak dilaporkan adanya kerusakan besar maupun korban jiwa.

Secara ilmiah, gempa bumi merupakan fenomena alam yang terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik di bawah permukaan bumi. Pacitan sendiri berada di kawasan selatan Pulau Jawa yang berdekatan dengan zona subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia, sehingga berpotensi mengalami aktivitas seismik.

Namun, di luar penjelasan ilmiah tersebut, peristiwa gempa juga sering dimaknai lebih luas dalam konteks sosial dan keagamaan. Pendakwah kondang di Pacitan, KH Mahmud, menyampaikan bahwa Islam memandang bencana alam tidak hanya sebagai kejadian fisik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual.

“Gempa bumi adalah fenomena alam yang bisa dijelaskan secara ilmu pengetahuan. Namun dalam perspektif Islam, kejadian seperti ini dapat menjadi peringatan dari Allah SWT bagi manusia,” ujar KH Mahmud, Rabu (28/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam, bencana dapat bermakna beragam. Bagi orang beriman, bencana bisa menjadi ujian untuk meningkatkan kesabaran dan keimanan. Sementara itu, dalam konteks tertentu, bencana juga disebut sebagai bentuk peringatan, bahkan azab, serta bagian dari tanda-tanda akhir zaman sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis.

Meski demikian, KH Mahmud menekankan bahwa pemaknaan keagamaan tersebut tidak boleh menghilangkan kewajiban manusia untuk berikhtiar dan bersikap rasional. Kesiapsiagaan bencana, pemahaman mitigasi, serta kepatuhan terhadap arahan pemerintah dan ahli tetap menjadi hal utama.

“Islam mengajarkan keseimbangan. Kita diperintahkan untuk bertawakal, tetapi juga wajib berusaha menjaga keselamatan, saling membantu, dan memperbaiki diri,” katanya.

Peristiwa gempa Pacitan ini diharapkan dapat menjadi momentum edukasi bagi masyarakat, baik dari sisi kebencanaan maupun spiritual. “Edukasi mitigasi bencana, penguatan solidaritas sosial, serta peningkatan kesadaran moral dan keimanan menjadi bagian penting dalam menyikapi bencana secara utuh,”jelas pendakwah yang juga menjabat sebagai Inspektur, Inspektorat Pacitan ini.

Dengan demikian, gempa bumi tidak hanya dipahami sebagai peristiwa alam semata, tetapi juga sebagai pengingat akan keterbatasan manusia dan pentingnya membangun kehidupan yang lebih waspada, peduli, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button