BeritaDaerahPemerintahanPendidikanPolitik

Dibalik Kesunyian Denyut Nadi Birokrasi, Nama Muniirul Sempat Menyeruak Sebagai Bakal Calon Sekda Masa Depan

Sekda Maulana Heru: "Muniirul figur yang memiliki kecakapan. Bursa Sekda bukan tentang siapa paling dekat, tetapi siapa paling siap"

Pacitan,JBM.co.id-Di balik meja-meja rapat, lembaran kinerja, dan sunyi koridor kantor pemerintahan, sebuah percakapan penting tengah berdenyut di Pacitan.

Bukan soal anggaran atau proyek, melainkan tentang siapa yang kelak dipercaya menjadi “dirigen birokrasi”atau Sekretaris Daerah.

Bursa calon Sekda Pacitan masa depan bergerak pelan namun pasti. Nama-nama bermunculan, mengalir dari ruang formal pemerintahan hingga obrolan warung kopi. Ada yang datang dari jalur teknokrat, ada pula yang lahir dari kepemimpinan lapangan, bahkan dari dunia medis.

Deretan pejabat eselon IIB yang selama ini dikenal publik pun kembali disebut. Khemal Pandu Pratikna, Deni Cahyantoro, Heri Setijono, hingga M. Chusnul Faozi, masing-masing membawa reputasi dan karakter kepemimpinan yang berbeda.

Tak ketinggalan dua srikandi birokrasi, Hesti Suteki dan Cicik Rudhotul Jannah, yang diam-diam mencatatkan konsistensi kerja dalam sunyi sistem.

Namun belakangan, satu nama menyelinap kuat dalam wacana, dia adalah dr. Daru Mustikoji.

Kepala Dinas Kesehatan Pacitan itu bukan sekadar pejabat struktural, melainkan sosok yang kenyang pengalaman krisis.

Di masa pandemi, ketika angka dan nyawa saling berlomba, Daru berdiri di garis depan, mengambil keputusan cepat, menenangkan publik, dan menjahit koordinasi lintas sektor.

Tak heran jika dukungan mengalir. Dari kalangan pemuda, tokoh masyarakat, hingga birokrat lintas dinas, nama Daru disebut dengan nada apresiatif.

Ki Gondomono, salah satu tokoh pemuda Pacitan, menyuarakan sesuatu yang jarang terdengar, yaitu Sekda dari kalangan dokter.

“Pacitan butuh pemimpin birokrasi yang paham empati dan manajemen krisis,” katanya, disebuah kesempatan.

Sebuah kalimat sederhana, namun mengandung makna dalam tentang arah kepemimpinan daerah.

Di sisi lain, Sekda Pacitan saat ini, Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro, memilih berdiri di garis netral. Ia bicara soal aturan, soal peluang yang setara, dan soal kesiapan waktu pengabdian.

Semua pejabat eselon IIB dengan masa kerja yang masih panjang, katanya, berhak bermimpi dan berjuang.

Nama Munirul Ichwan, Kepala Disparbudpora Pacitan, juga disebutnya sebagai figur yang memiliki kecakapan. Bagi Heru, bursa Sekda bukan tentang siapa paling dekat, tetapi siapa paling siap.

Namun politik birokrasi tak pernah steril dari isyarat. Dalam percakapan terpisah, Heru pernah menyampaikan bahwa Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro, sempat mewacanakan pengkaderan Khemal Pandu Pratikna dan Deni Cahyantoro. Sebuah sinyal bahwa regenerasi birokrasi sedang disiapkan jauh sebelum waktu pensiun tiba.

Maka, Pacitan kini berada di persimpangan sunyi. “Di satu sisi ada prosedur, di sisi lain ada harapan. Di antara keduanya, berdiri figur-figur yang menunggu giliran sejarah,” ujarnya puitis, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (23/12/2025).

Siapa yang kelak akan duduk di kursi Sekda, mungkin belum ditentukan hari ini. “Namun denyutnya sudah terasa. Dan di Pacitan, kadang keputusan besar justru lahir dari percakapan yang tak pernah diumumkan secara resmi,”tukas Sekda Maulana Heru.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button