
Pacitan,JBM.co.id-Di puncak karier politik yang telah ditempuh selama lima periode, Rudi Handoko justru memilih menepi sejenak, menundukkan kepala, dan menyelami sunyi perenungan.
Bagi anggota DPRD Pacitan itu, jabatan bukanlah singgasana, melainkan titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Suasana hening menyelimuti aula Pendopo Mas Tumenggung Djogokardjo, Rabu (31/12/2025) sore itu. Di ruang bersejarah itu, Rudi tampak bertafakur bersama Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro, menyambut pergantian kalender dengan doa dan perenungan mendalam.
“Di sinilah kita bersama, duduk sama rendah untuk bertafakur, melantunkan doa. Semoga tahun mendatang membawa keberkahan bagi kita semua, dan Pacitan semakin bahagia serta sejahtera,” ujar Rudi usai doa bersama.
Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Tulakan–Kebonagung, Rudi menegaskan bahwa setiap jabatan adalah amanah sementara. Kekuasaan, menurutnya, tidak layak dipuja, melainkan harus dijaga agar tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.
Politikus Partai Demokrat dengan simbol Bintang Mercy itu memaknai lambang partainya sebagai pengingat bahwa harapan harus selalu dijaga setinggi bintang di langit. Namun setinggi apa pun bintang bercahaya, ia tetap berada di bawah langit yang luas dan teduh, memberi perlindungan tanpa meminta pengakuan.
Langit biru yang membentang tanpa penyangga itulah, bagi Rudi, cermin kepemimpinan sejati. “Mengayomi, meneduhkan, dan merangkul semua lapisan. Sebuah filosofi yang kian relevan di tengah dinamika politik yang kerap menguji nurani,” jelasnya.
Refleksi akhir tahun ini menjadi penanda bahwa kekuasaan sejatinya bukan untuk dibanggakan, melainkan dijadikan jalan pengabdian. Sebab, ketika jabatan berakhir, yang tersisa hanyalah jejak kebaikan yang pernah ditorehkan.(Red/yun).




