BeritaDaerahKeagamaanPemerintahanPendidikanSeni BudayaSosial

Belanja untuk Buka Puasa, Hidupkan Harapan Pedagang Kecil di Tengah Sepinya Pembeli

"Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya"

Pacitan,JBM.co.id-Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di sejumlah sudut pasar tradisional di Kabupaten Pacitan tampak berbeda. Beberapa pedagang kecil terlihat duduk termenung di balik lapak sederhana mereka. Tak sedikit dagangan yang masih utuh tersusun rapi hingga senja tiba. Sepinya pembeli menjadi pemandangan yang akrab pada awal Ramadan tahun ini.

Di tengah kondisi tersebut, ajakan untuk menghidupkan kembali semangat berbagi dan kepedulian sosial pun mengemuka. Inspektur dari Inspektorat Kabupaten Pacitan, KH Mahmud menyampaikan bahwa momen Ramadan seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat empati, bukan hanya meningkatkan konsumsi.

“Belanja untuk kebutuhan buka puasa bukan sekadar memenuhi meja makan keluarga. Di dalamnya ada nilai ibadah, ada perputaran rezeki yang bisa menguatkan saudara-saudara kita para pedagang kecil,” ujarnya saat ditemui, Kamis (19/2/2026).

Ia menambahkan, setiap rupiah yang dibelanjakan di lapak pedagang kecil memiliki dampak langsung bagi keberlangsungan hidup mereka. “Ketika kita memilih membeli takjil, sayur, atau lauk dari pedagang kecil di sekitar rumah, kita sedang menyalakan harapan di hati mereka. Itu bagian dari tanggung jawab sosial yang selaras dengan nilai-nilai keimanan,” tambahnya.

KH Mahmud, mengingatkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan juga tentang melembutkan hati. Ia menekankan pentingnya berbagi kebahagiaan melalui tindakan sederhana.

“Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Membeli dagangan saudara kita yang sepi pembeli adalah bentuk sedekah yang mungkin tidak kita sadari,” tuturnya.

Ia menjelaskan, ada keberkahan tersendiri ketika niat berbelanja diluruskan sebagai bentuk kepedulian. “Mungkin bagi kita nilainya kecil, tapi bagi pedagang itu bisa menjadi penentu apakah anaknya bisa makan malam atau tidak. Allah melihat niat dan keikhlasan kita,” ucapnya dengan mimik bergetar.

Sementara itu, beberapa warga yang ditemui mengaku mulai mengalihkan kebiasaan berbelanja ke pasar tradisional dan pedagang kaki lima di sekitar lingkungan mereka. Selain membantu sesama, mereka merasakan kedekatan emosional yang berbeda.

Ramadan di Pacitan kali ini pun menjadi pengingat bahwa ibadah sosial tak selalu berbentuk pemberian besar. Kadang, cukup dengan membeli sebungkus kolak atau seporsi gorengan dari pedagang yang menunggu dengan harap, telah menanam benih kebahagiaan.

Di tengah senja yang perlahan turun, senyum pedagang yang dagangannya ludes terjual menjadi pemandangan yang lebih indah dari sekadar hidangan berbuka. Sebab di sana, ada doa yang terucap lirih, ada rasa syukur yang mengalir tulus dan ada keberkahan yang tak kasatmata, mengikat hati sesama dalam cahaya Ramadan.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button