BaliBeritaDaerahDenpasarPemerintahanPendidikan

Akademisi UNHI, Komang Arya Mukti Maruti Sebut Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun Bali Era Baru Sebagai Tanggung Jawab Lintas Generasi

Jbm.co.id-DENPASAR | Akademisi Fakultas Hukum Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Komang Arya Mukti Maruti memandang Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun ke Depan sebagai panggilan tanggung jawab lintas generasi, khususnya bagi generasi muda Bali yang hidup di persimpangan sejarah dan masa depan.

Komang Arya menegaskan, pandangannya lahir bukan dari kepentingan politis maupun glorifikasi kepemimpinan tertentu, melainkan refleksi akademis sebagai bagian dari generasi muda Bali yang menerima warisan masa lalu sekaligus memikul tanggung jawab panjang ke depan.

“Saya mencermati sebagai bagian dari generasi muda Bali yang hidup di persimpangan waktu, menerima warisan besar dari masa lalu, sekaligus memikul tanggung jawab panjang ke masa depan,” terangnya, saat dikonfirmasi awak media di Denpasar, Senin, 22 Desember 2025.

Penetapan Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru 2025-2125 melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2023, menurutnya justru memunculkan pertanyaan reflektif mengenai posisi generasi muda dalam pembangunan jangka panjang tersebut.

Ia menilai Haluan Pembangunan Bali 100 tahun tidak boleh dimonopoli oleh satu periode, satu kepemimpinan, atau satu generasi.

Ia mengingatkan, jika generasi muda hanya menjadi penonton, maka Haluan Pembangunan Bali sebesar apa pun akan kehilangan makna. Oleh karena itu, pemahaman terhadap Haluan Pembangunan Bali Masa Depan tidak boleh berhenti sebagai dokumen kebijakan semata, tetapi harus diposisikan sebagai kontrak lintas zaman yang menuntut keterlibatan aktif generasi penerus.

Dalam pandangannya, Haluan Pembangunan Bali Masa Depan merupakan perwujudan nilai-nilai Pancasila yang hidup dalam realitas masyarakat Bali. Pancasila tidak dipahami sebagai teks normatif, melainkan sebagai laku hidup yang tercermin dalam hubungan manusia dengan alam, relasi sosial, dan penghormatan terhadap budaya, yang hadir secara sakala dan niskala.

Sebagai generasi muda, Komang Arya membaca Haluan Pembangunan Bali bukan sekadar pedoman administratif, melainkan pengingat moral tentang hubungan manusia dan alam yang telah lama diwariskan leluhur Bali.

Pada titik inilah, generasi muda dituntut bersikap kritis terhadap model pembangunan yang bersifat eksploitatif.

Haluan Bali 100 Tahun ke Depan secara sadar memilih jalan harmonisasi antara alam, manusia, dan kebudayaan. Pembangunan Bali ditegaskan tidak boleh berjalan liar, sektoral, dan pragmatis, melainkan harus terencana, terpola, serta terintegrasi dalam semangat Satu Pulau, Satu Pola, dan Satu Tata Kelola.

Dalam konteks ekonomi, ketergantungan Bali terhadap pariwisata massal menjadi refleksi penting. Selama puluhan tahun, pertumbuhan pariwisata kerap melampaui kemampuan Bali menjaga daya dukung alam dan sosial.

Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, menurutnya, tidak menolak pariwisata, tetapi mengoreksi arah melalui konsep ekonomi hijau, berbasis sumber daya lokal, bernilai tambah, dan berkelanjutan yang dirumuskan dalam Ekonomi Kerthi Bali.

Bagi generasi muda, Ekonomi Kerthi Bali dipandang bukan sekadar jargon politik, melainkan jawaban atas tantangan nyata dalam menciptakan usaha, inovasi, dan lapangan kerja tanpa mengorbankan alam serta identitas budaya Bali.

“Bagaimana menjadi modern tanpa tercerabut dari akar. Bagaimana bersaing secara global tanpa kehilangan kepribadian Bali. Optimisme Haluan Bali Masa Depan juga bertumpu pada kekuatan kebudayaan Bali yang telah terbukti lentur dan adaptif serta menjadikan kebudayaan sebagai hulu pembangunan adalah pilihan strategis sekaligus keberanian ideologis,” paparnya.

Ia menekankan pesan penting bagi generasi muda bahwa budaya bukan beban masa lalu, melainkan energi masa depan. Namun, optimisme tersebut harus diiringi kerja serius, konsisten, dan bertanggung jawab. Generasi muda tidak cukup hanya merasa bangga, tetapi harus terlibat aktif dalam pelestarian, pengembangan, dan pemberdayaan budaya dengan pendekatan yang relevan dengan zamannya.

Menurutnya, sikap netral dan akademis justru menuntut konsistensi pada nilai dan keberanian bersikap kritis. Mendukung Haluan Pembangunan Bali Masa Depan bukan berarti membela kekuasaan tertentu, melainkan menjaga keberlanjutan Bali itu sendiri.

Ia berharap, melalui kesadaran kolektif lintas generasi, Bali seratus tahun ke depan tetap menjadi Bali yang utuh secara nilai, adil secara sosial, dan lestari secara ekologis. “Astungkara, ini bukan sekadar harapan, melainkan tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button