Trem Listrik Bandara-Canggu Disiapkan Atasi Macet Mampu Angkut 60 Ribu Penumpang per Hari Groundbreaking Ditargetkan Maret 2027

Jbm.co.id-DENPASAR | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyiapkan trem listrik berbasis baterai sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di jalur Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai-Canggu, Kabupaten Badung.
Trem dengan trase sekitar 12 kilometer tersebut diproyeksikan mampu mengangkut hingga 60 ribu penumpang per hari.
Moda transportasi massal ini diharapkan mengurangi ketergantungan masyarakat dan wisatawan terhadap kendaraan pribadi di koridor yang memiliki tingkat mobilitas sangat tinggi.
Setiap hari, diperkirakan sekitar 150 ribu orang bergerak di kawasan Bandara-Canggu dengan sekitar 80 ribu kendaraan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama pemerintah mendorong pengembangan trem listrik sebagai alternatif transportasi massal.
Untuk itu, Pemprov Bali, Pemkab Badung dan PT KAI menandatangani kerjasama terkait pengembangan perkeretaapian di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9/2026).
Turut hadir, Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Badung, Direktur Utama PT KAI, CEO Angkasa Pura, Sekda Kabupaten Badung dan pihak terkait lain.
Kerja sama menjadi tindak lanjut atas usulan Pemerintah Provinsi Bali mengenai perbaikan fasilitas dan sistem transportasi di Bali, khususnya Kabupaten Badung.
PT KAI memilih konsep trem, bukan MRT maupun LRT. Trem dinilai lebih sesuai dengan karakteristik dan kondisi Bali. Moda dirancang dengan konsep ramah lingkungan, berbasis teknologi baterai, tingkat kebisingan rendah, berukuran relatif kecil, terintegrasi dengan sistem transportasi lainnya dan menyesuaikan karakteristik dan kearifan lokal Bali. Penggunaan baterai membuat trem tidak membutuhkan kabel listrik di sepanjang jalur.
Rute awal yang dirancang menghubungkan Kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai hingga Kawasan Canggu, Kabupaten Badung.
Panjang trase sekitar 12 kilometer. Jalur dirancang menggunakan dua jalur dan disiapkan area persilangan untuk mendukung kelancaran operasional trem.
Lebar trase sekitar 3 meter. Dimensi trem sekitar 2 meter lebih, sehingga relatif kecil dan bahkan lebih kecil dibandingkan bus.
Alasan pengembangan trem dengan koridor Bandara-Canggu, karena memiliki tingkat mobilitas yang sangat tinggi. Setiap hari diperkirakan terdapat sekitar 150 ribu orang yang bergerak di kawasan tersebut dengan sekitar 80 ribu kendaraan. Tingginya mobilitas menjadi salah satu pertimbangan utama perlunya moda transportasi massal baru.
Trem diharapkan menjadi alternatif untuk mengurangi kepadatan kendaraan, meningkatkan mobilitas masyarakat, mendukung konektivitas kawasan pariwisata dan mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Kapasitas dan waktu tempuh trem diproyeksikan mampu mengangkut sekitar 15 ribu-20 ribu penumpang dalam kondisi maksimal.
Waktu tempuh diproyeksikan sekitar 30 menit. Jeda keberangkatan antar trem dirancang sekitar 10 menit.
Dalam operasional maksimal, kapasitas angkut diproyeksikan mencapai sekitar 60 ribu penumpang per hari. Kapasitas tersebut diharapkan mampu mengakomodasi sekitar 40 persen kepadatan mobilitas pada koridor Bandara-Canggu.
Groundbreaking ditargetkan Maret 2027 dan Trase pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2028. Seluruh jalur hingga Canggu ditargetkan selesai dan beroperasi pada 2029.
Setelah penandatanganan kerja sama, tahapan berikutnya meliputi studi teknis, Penyusunan kajian lanjutan, sosialisasi kepada masyarakat, pelibatan desa adat, koordinasi dengan pelaku pariwisata, koordinasi dengan hotel dan akomodasi wisata hingga pelibatan pemangku kepentingan lainnya.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster menyebut kerja sama ini merupakan tindak lanjut atas usulan Kementerian Bappenas dan Pemprov Bali untuk memperbaiki fasilitas dan sistem transportasi. Fokus utama berada pada wilayah Kabupaten Badung, yang menghadapi persoalan kepadatan lalu lintas.
Konsep trem dinilai semakin konkret untuk menjadi salah satu solusi kemacetan, khususnya jalur Bandara-Canggu.
“Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan Bali, mendukung pariwisata dan Tidak mengganggu kehidupan masyarakat,” kata Gubernur Koster.
Pembangunan trem tidak boleh mengganggu ekosistem pariwisata Bali. Jalur transportasi harus memperhatikan keberadaan hotel, akomodasi wisata, objek pariwisata, lingkungan, permukiman dan kehidupan masyarakat sepanjang trase.
“Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga. Keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali,” kata Gubernur Koster.
Menurutnya, kearifan lokal dan identitas Bali membuat trem dirancang berbeda dengan konsep kereta api konvensional. Karakter yang ingin ditonjolkan adalah tidak berisik, tidak berukuran besar dan ramah lingkungan menggunakan baterai, menyesuaikan kondisi Bali serta memperhatikan kearifan lokal.
Gubernur Koster menekankan bahwa pengembangan transportasi harus tetap menjaga identitas, budaya, keindahan dan harmoni Bali.
Untuk itu, PT KAI berkomitmen menempatkan aspek budaya, lingkungan dan kehidupan masyarakat lokal sebagai pertimbangan sejak tahap perencanaan.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin mengatakan Bali dipandang sebagai wilayah strategis dengan keluhuran budaya, spiritualitas, jati diri masyarakat dan kehidupan sosial yang khas.
“Infrastruktur transportasi harus dikembangkan secara hati-hati. Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali,” kata Bobby.
Teknologi dengan baterai dipilih antara lain untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan, mengurangi kebisingan, menjaga kenyamanan masyarakat dan menjaga kenyamanan wisatawan.
Terlebih lagi, trem menggunakan baterai, sehingga tidak membutuhkan kabel listrik sepanjang jalur. Kapasitas maksimal diproyeksikan hingga 60 ribu penumpang per hari. Pengembangan trem diarahkan sebagai solusi kemacetan sekaligus moda transportasi yang ramah lingkungan dan selaras dengan budaya serta kearifan lokal Bali.
Oleh karena itu, Bali meapkan trem listrik Bandara-Canggu sepanjang sekitar 12 kilometer dan Groundbreaking ditargetkan Maret 2027. Trase pertama ditargetkan beroperasi pada 2028, sedangkan seluruh jalur hingga Canggu ditargetkan beroperasi pada 2029. (ace).




