Di Balik Gerobak Tua Mbah Bawuk: Ketika Setangkai Pisang Menjadi Jalan Menjemput Rezeki
"Langkahnya memang tak lagi secepat dahulu. Tubuhnya pun tak lagi sekuat masa muda. Namun semangatnya seolah menolak tunduk pada usia"

Pacitan,JBM.co.id-Mentari belum benar-benar meninggi ketika langkah renta itu mulai menyusuri jalanan Kota Pacitan. Kedua tangan yang telah dipenuhi guratan usia menggenggam erat gagang gerobak sorong tua.
Di atasnya tersusun rapi beberapa lirang pisang, harapan sederhana yang setiap hari ia dorong dari satu sudut kampung ke sudut lainnya.
Namanya Sucipto, namun warga lebih akrab memanggilnya Mbah Bawuk. Usianya telah menginjak 80 tahun. Di usia ketika sebagian besar orang menikmati masa tua bersama keluarga, Mbah Bawuk justru masih harus bertarung dengan terik matahari dan hujan demi satu tujuan yang terdengar begitu sederhana, tetapi begitu berarti.
“Yang penting bisa membeli beras, Mas.”
Kalimat singkat itu meluncur pelan dari bibirnya. Tidak ada keluhan. Tidak ada ratapan. Hanya keikhlasan yang terbungkus dalam senyum tipis seorang lelaki berjampang yang telah lama bersahabat dengan kerasnya kehidupan.
Setiap pagi, warga Kelurahan Pucangsewu, Kecamatan Pacitan itu terlebih dahulu menuju pasar untuk kulakan pisang. Setelah dagangannya siap, perjalanan panjang pun dimulai. Gerobak sorong menjadi teman setianya menyusuri jalan-jalan kota hingga kawasan Barean, Kelurahan Sidoharjo.
Langkahnya memang tak lagi secepat dahulu. Tubuhnya pun tak lagi sekuat masa muda. Namun semangatnya seolah menolak tunduk pada usia.
Di balik gerobak sederhana itu tersimpan pelajaran hidup yang tak semua orang mampu mengajarkannya. Bahwa bekerja bukan sekadar mencari uang, melainkan menjaga harga diri. Bahwa tangan yang terus berkarya adalah tangan yang enggan bergantung pada belas kasihan.
Tak banyak keuntungan yang dibawanya pulang. Dari setiap satu lirang pisang, Mbah Bawuk hanya mengambil laba tak lebih dari Rp5.000. Jumlah yang mungkin bagi sebagian orang bahkan tak cukup untuk secangkir kopi. Namun bagi dirinya, keuntungan kecil itu adalah jalan agar dapur tetap mengepul.
Sesekali, ia masih menerima panggilan memijat. Profesi yang dahulu cukup lama digelutinya kini perlahan mulai ia tinggalkan. Tenaga yang semakin terbatas membuatnya memilih fokus menjual pisang keliling.
Di balik ketegarannya, tersimpan duka yang begitu dalam. Istri tercintanya kini telah uzur dan sering sakit-sakitan. Sementara anak semata wayangnya telah lebih dahulu berpulang menghadap Sang Pencipta.
Tak ada lagi bahu tempat bersandar. Tak ada lagi tangan anak yang menggantikan perjuangannya.
Namun Mbah Bawuk memilih berdamai dengan kenyataan. Ia tidak menyerah pada nasib, juga tidak menjadikan usia sebagai alasan untuk berhenti berusaha.
“Saya terus berjualan meski sudah tua, Mas,” ucapnya lirih.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan makna yang sangat besar.
Di tengah zaman yang serba instan, ketika banyak orang mudah mengeluh karena tekanan hidup, Mbah Bawuk hadir sebagai pengingat bahwa keteguhan hati tidak pernah ditentukan oleh usia. Justru di usia senjanya, ia mengajarkan arti kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab.
Gerobak sorong yang didorongnya setiap hari bukan sekadar alat mencari nafkah. Ia telah menjelma menjadi simbol perjuangan. Setiap roda yang berputar adalah kisah tentang seorang ayah, seorang suami, sekaligus seorang pejuang kehidupan yang memilih tetap berdiri meski kehilangan orang-orang yang paling dicintainya.
Barangkali kita sering berlalu begitu saja ketika bertemu penjual keliling di pinggir jalan. Tanpa sadar, di balik senyum mereka tersimpan cerita yang jauh lebih berat daripada yang terlihat.
Mbah Bawuk mengajarkan bahwa rezeki bukan hanya soal besar kecilnya penghasilan, tetapi tentang keberanian untuk terus berikhtiar dengan cara yang halal dan terhormat.
Selama gerobak itu masih mampu ia dorong, selama kaki renta itu masih sanggup melangkah, Mbah Bawuk akan terus menyusuri jalan-jalan Pacitan.
Bukan demi mengejar kekayaan.
Melainkan demi sebungkus beras, sepotong harapan, dan martabat yang tetap ingin ia pertahankan hingga akhir hayatnya.(Red/yun).



