Seteguk Asa dari Gendongan Surati: Meracik Jamu, Menjaga Warisan Nusantara di Kota Pacitan
"Langkah kaki seorang perempuan tampak menyusuri gang demi gang kota. Di pundaknya tergantung botol-botol jamu dalam balutan kain gendongan tradisional"

Pacitan, JBM.co.id- Pagi baru saja merekah di ufuk timur Kota Pacitan. Sinar mentari jatuh perlahan di sela pepohonan, menyapu embun yang masih enggan beranjak dari dedaunan. Angin semilir berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan denyut kehidupan yang mulai bergerak perlahan.
Di tengah suasana itu, langkah kaki seorang perempuan tampak menyusuri gang demi gang kota. Di pundaknya tergantung botol-botol jamu dalam balutan kain gendongan tradisional. Wajahnya teduh, senyumnya ramah, dan harapannya sederhana: semoga hari ini rezeki kembali menyapa.
Dialah Surati, perempuan asal Karanganyar, Jawa Tengah, yang sejak puluhan tahun lalu menggantungkan hidup dari segelas jamu racikannya sendiri.
“Awalnya saya jualan di Bogor, keliling jalan kaki,” tutur Surati saat bertandang di Posko Media Timur Pendopo, Senin (25/5/2026).
Perempuan kelahiran 1983 itu masih mengingat betul bagaimana kerasnya kehidupan kala pertama kali merantau. Dengan penghasilan yang tak menentu dan suami yang bekerja serabutan, ia memilih bertahan di tengah keterbatasan. Baginya, selama tangan masih mampu meracik dan kaki masih kuat melangkah, harapan tak boleh padam.
Tahun 2023 menjadi lembar baru bagi hidupnya. Surati memutuskan hijrah ke Pacitan untuk mengadu nasib. Kota kecil di pesisir selatan itu perlahan menjadi rumah baru bagi perjuangannya. Siapa sangka, jamu gendong racikannya justru mendapat tempat di hati masyarakat.
Setiap pagi, Surati membawa beragam jenis jamu tradisional. Ada beras kencur yang hangat di tenggorokan, kunyit asam yang menyegarkan tubuh, kunyit putih, temulawak hingga ramuan khusus asam urat. Semuanya ia racik sendiri dengan resep turun-temurun keluarga.
“Semua keluarga besar saya memang jualan jamu seperti ini,” ujarnya sambil tersenyum.
Di balik botol-botol sederhana itu, tersimpan pengetahuan leluhur yang diwariskan lintas generasi. Jamu bukan sekadar minuman tradisional, melainkan bagian dari budaya hidup masyarakat Nusantara sejak ratusan tahun silam.
Kunyit, misalnya, dikenal memiliki kandungan kurkumin yang dipercaya membantu mengurangi peradangan dan menjaga daya tahan tubuh. Temulawak kerap dimanfaatkan untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan dan meningkatkan nafsu makan. Sementara beras kencur menjadi pilihan banyak orang untuk menghangatkan badan dan mengurangi rasa lelah setelah bekerja.
Meski demikian, konsumsi jamu tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh dan tidak berlebihan. Sebab pada hakikatnya, jamu adalah ikhtiar alami untuk menjaga keseimbangan tubuh, bukan pengganti utama pengobatan medis.
Bagi Surati, meracik jamu bukan hanya perkara mencari nafkah. Ada kebanggaan tersendiri ketika warisan tradisional tetap dicintai di tengah gempuran minuman modern. Ia percaya, selama masyarakat masih percaya pada ramuan alami, selama itu pula jamu akan tetap hidup.
Untuk bahan baku, Surati masih banyak mendatangkannya dari Karanganyar. Namun ketika stok menipis, ia membeli rempah di pasar-pasar Pacitan meski harganya lebih mahal.
“Yang penting tetap bisa jualan. Alhamdulillah buat tambal sulam kebutuhan,” katanya lirih.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan keteguhan yang tak sederhana.
Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, Surati hadir seperti potongan kecil dari masa lalu yang masih bertahan. Langkahnya mungkin pelan, namun membawa makna mendalam tentang perjuangan, kesabaran, dan kecintaan pada tradisi.
Dan setiap kali suara botol jamu beradu pelan di pundaknya, di situlah sesungguhnya cerita tentang ketahanan hidup sedang dituliskan, seteguk demi seteguk, dari lorong-lorong kecil Kota Pacitan.(Red/yun).




