BaliBeritaDaerahDenpasarEkonomiLingkungan HidupPariwisataPemerintahan

Putu Liong Soroti Dilema Gubernur Bali: Isu Sampah, Investasi dan Tantangan Kepemimpinan Global, Dorong Gubernur Bangun Komunikasi Global

Jbm.co.id-DENPASAR | Owner JARRAK MEDIA GROUP (JMG), Putu Sudiartana atau akrab disapa Putu Liong menilai posisi seorang pemimpin publik selalu berada dalam sorotan dan kerap dianggap salah, terutama ketika menjalankan program yang berpihak kepada rakyat.

Menurutnya, kebenaran yang dilakukan pemimpin jarang mendapat pujian, kecuali dari pendukung atau buzzer tertentu.

Dalam pandangannya, posisi Gubernur Bali saat ini berada dalam situasi dilematis, khususnya ketika harus menyikapi kebijakan Pemerintah Pusat yang bersinggungan langsung dengan kepentingan masyarakat di daerah. Kondisi tersebut makin kompleks, ketika ada Kepala Daerah yang dinilai mengabaikan perintah konstitusi atau Undang-Undang.

“Mau bela rakyat masuk penjara melawan UU atau Aturan Pusat juga Pidana. Saya kasih contoh TPA Suwung, ada pro dan kontra, disini butuh posisi yang tepat,” kata Putu Liong, saat dikonfirmasi awak media di Denpasar, Minggu, 21 Desember 2025.

Putu Liong menilai tantangan menjaga keamanan dan kenyamanan Bali tidaklah mudah. Persoalan sampah, banjir, kemacetan serta isu keamanan dinilai membuat Bali berada dalam kondisi yang “tidak baik-baik saja”, baik bagi warga lokal maupun wisatawan.

Menurut Putu Liong, Bali membutuhkan sosok pemimpin yang fleksibel, memiliki wawasan kepemimpinan internasional serta mampu melihat Bali sebagai destinasi global, bukan hanya dalam konteks lokal atau nasional. “Kenapa international, Bali sudah menjadi milik international dan Hidrogin Touris,” kata Putu Liong.

Ia menekankan bahwa menjaga Bali bukan hanya tanggung jawab masyarakat lokal, melainkan juga pendatang dan wisatawan.

Oleh karena itu, keluhan masyarakat, seperti sampah, kemacetan, banjir dan keamanan harus menjadi prioritas utama agar masyarakat merasa nyaman dan wisatawan merasa aman, sehingga ekonomi Bali dapat bangkit kembali.

Putu Liong juga menyoroti kondisi investasi di Bali yang dinilainya belum optimal. Isu sampah dan keamanan disebutnya menjadi perhatian internasional, bahkan membuat sebagian investor memilih memindahkan investasinya ke negara lain, seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia yang dinilai lebih memberikan jaminan keamanan dan kepastian.

Sebagai solusi, Putu Liong menyarankan Gubernur Bali untuk aktif melakukan komunikasi internasional serta korespondensi dengan negara-negara yang warganya berkunjung ke Bali.

Menurutnya, diperlukan protokol yang jelas dan tata cara investasi yang terstruktur agar investor asing memahami aturan dan tidak melanggar regulasi yang berlaku.

Putu Liong mencontohkan beberapa isu investasi yang sempat menjadi sorotan publik, seperti pembangunan Lift Kaca di Kelingking, Nusa Penida, yang dinilainya berdampak pada kepercayaan investor.

Ditambahkan pula, Putu Liong mendorong pembentukan Tim Humas Internasional berlevel tinggi yang didukung kemampuan berbahasa Inggris, bahasa Jepang, bahasa Jerman dan bahasa Perancis yang bagus, guna menyampaikan pesan resmi atas nama Gubernur Bali, masyarakat Bali maupun Indonesia kepada Media Internasional.

Menurutnya, Bali secara otomatis menjadi wajah Indonesia di mata dunia. Jika terjadi gejolak di sektor pariwisata Bali, maka dampaknya akan dirasakan secara nasional, terutama terhadap kunjungan wisatawan mancanegara.

Dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi, Putu Liong berharap Bali mampu mengembangkan sistem informasi berstandar internasional agar mampu bersaing dan bahkan menjadi destinasi berkelas dunia, seperti Singapura.

Dalam pesannya kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, Putu Liong mengajak seluruh pihak untuk bergandengan tangan menyambut kebijakan pemerintah yang pro rakyat, tanpa melihat perbedaan warna politik.

“Jangan melihat warna partai, kalau sudah menjadi Gubernur Bali, karena itu milik warga Bali bukan PDIP saja, kita juga berhak memuji dan kita juga berhak mengkritik,” kata Putu Liong.

Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukanlah bentuk penghujatan, melainkan solusi agar wisatawan merasa aman dan nyaman, baik saat berlibur maupun berinvestasi di Bali.

“Jangan melakukan trik politik di zona yang rawan atau bahasa lainnya jangan menolak investasi kalau dibawa oleh beda warna atau orang yang tidak mendukung kemarin di saat pileg, jangan berfikir sebelah mata,” paparnya.

Menurutnya, setiap kritik yang disertai gagasan untuk kebaikan harus diterima dengan bijak dan dijadikan bahan diskusi. Ia juga mengingatkan agar perbedaan politik tidak dijadikan alasan untuk saling menjatuhkan.

“Kalau mengkritik terus membawa ke jurang dan menuntut dipenjarakan pemimpinnya, itu menurut saya tidak elok. Mereka juga keluarga kita dan saudara kita. Masalah warna baju politik itu hanya sementara saja, karena mencapai tujuan itu harus berorganisasi atau bergabung ke dunia politik supaya bisa membawa aspirasi masyarakat,” tegasnya.

Putu Liong juga menambahkan, menjadi pejabat publik harus siap menanggung risiko, termasuk konsekuensi hukum demi membela kepentingan rakyat.

Meski belum bisa seperti USA, Putu Liong melihat iklim politik Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih dewasa, saat pihak yang menang mulai merangkul yang kalah, sehingga menciptakan atmosfer politik yang lebih positif di mata dunia. (red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button