BaliBeritaDaerahDenpasarEkonomiPemerintahan

OJK Catat Kinerja Industri Jasa Keuangan Bali-Nusra Stabil, Kredit dan Investor Tumbuh Positif

Jbm.co.id-DENPASAR | Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menilai kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) di wilayah Bali dan Nusa Tenggara (Nusra)  pada posisi Oktober 2025 tetap terjaga stabil dan resilien.

Ketahanan sektor keuangan ini ditopang oleh permodalan yang solid, kecukupan pencadangan, serta profil risiko yang terkendali di tengah dinamika global dan domestik.

Kinerja intermediasi perbankan, baik Bank Umum maupun BPR, menunjukkan daya tahan yang kuat. Penyaluran kredit tercatat mencapai Rp245,02 triliun atau tumbuh 7,99 persen year on year (yoy), meningkat dibandingkan Oktober 2024 sebesar 6,60 persen yoy. Berdasarkan lokasi proyek, kredit perbankan mencapai Rp321,34 triliun atau tumbuh 12,08 persen yoy.

Dari sisi penggunaan, sebesar 57,70 persen kredit disalurkan ke sektor produktif, terdiri dari kredit modal kerja sebesar 30,82 persen dan kredit investasi sebesar 26,88 persen. Pertumbuhan kredit investasi menjadi pendorong utama dengan kenaikan nominal Rp18,31 triliun atau tumbuh 38,52 persen yoy, mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi Bali dan Nusa Tenggara.

Penyaluran kredit perbankan masih didominasi sektor bukan lapangan usaha dengan pangsa 42,30 persen dan sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 23,31 persen. Di Bali, peningkatan kredit terbesar berasal dari sektor bukan lapangan usaha sebesar Rp1,91 triliun. Sementara di NTB didorong sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 58,61 persen yoy, serta di NTT dari sektor bukan lapangan usaha yang meningkat Rp1,95 triliun.

Berdasarkan kategori debitur, penyaluran kredit kepada UMKM mencapai 41,30 persen dengan pertumbuhan 0,30 persen yoy. Tingginya porsi kredit UMKM menunjukkan keberpihakan perbankan dalam mendukung ekonomi daerah.

Seiring pertumbuhan kredit, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat menjadi Rp300,54 triliun atau tumbuh 8,34 persen yoy. Fungsi intermediasi perbankan tetap terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 81,52 persen. Risiko kredit pun terkendali, tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,98 persen, masih di bawah ambang batas 5 persen.

Likuiditas dan permodalan perbankan di Bali dan Nusa Tenggara tetap kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) BPR di Bali mencapai 29,92 persen, NTB 44,95 persen, dan NTT 42,49 persen. OJK menilai tingginya permodalan menjadi bantalan penting untuk mengantisipasi ketidakpastian global.

Di sektor pasar modal, jumlah investor di Bali dan Nusa Tenggara mencapai 679.792 Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 27,33 persen yoy. Nilai transaksi saham tercatat Rp8,24 triliun atau melonjak 57,17 persen yoy, menandakan meningkatnya partisipasi masyarakat.

Sementara itu, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan mencapai Rp19,68 triliun atau tumbuh 3,50 persen yoy. Pembiayaan modal ventura juga membaik dengan pertumbuhan 7,17 persen yoy. Tingkat pembiayaan bermasalah relatif rendah, dengan Non Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan sebesar 1,46 persen.

Di bidang literasi dan inklusi keuangan, OJK terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat. Sepanjang 2025 hingga November, OJK di wilayah Bali dan Nusa Tenggara telah melaksanakan 10.484 kegiatan edukasi yang menjangkau lebih dari 117.707 orang, serta ratusan ribu lainnya melalui media sosial. Program ini diperkuat melalui sinergi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) yang telah menggelar 858 kegiatan.

Selain edukasi, OJK juga memperkuat perlindungan konsumen. Hingga November 2025, OJK menerima 1.999 pengaduan, dengan mayoritas telah diselesaikan.

OJK optimistis, melalui penguatan tata kelola, manajemen risiko, serta sinergi lintas lembaga, stabilitas sistem keuangan di Bali dan Nusa Tenggara akan terus terjaga dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button