Kerja Sunyi yang Menjadi Monumen: Jejak Dedikasi Almarhum Wawan Pujiatmoko untuk Pacitan
"Mungkin tidak banyak yang tahu, di balik berdirinya Tugu Penceng itu tersimpan perjuangan panjang dan kerja sunyi Mas Wawan. Beliau adalah salah satu ASN yang memiliki andil besar hingga Pacitan mampu meraih supremasi tertinggi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah"

Pacitan,JBM.co.id- Tidak semua prestasi lahir dari sorotan lampu dan tepuk tangan. Sebagian justru tumbuh dari ruang-ruang kerja yang sunyi, dari ketekunan yang nyaris tak terdengar, namun dampaknya abadi. Itulah jejak pengabdian almarhum Wawan Pujiatmoko, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dedikasi dan integritasnya telah menorehkan sejarah penting bagi Kabupaten Pacitan.
Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai sosok ASN yang bekerja dalam senyap. Ia bukan figur yang gemar tampil di depan, namun kontribusinya nyata dan menentukan. Salah satu capaian terbesarnya adalah peran strategis dalam mengantarkan Pacitan meraih Penghargaan Parasamya Purna Karya Nugraha, penghargaan tertinggi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, yang diraih selama tiga tahun berturut-turut.
Prestasi tersebut bukan sekadar simbol kehormatan. Di baliknya, Pacitan memperoleh insentif daerah senilai kurang lebih Rp300 miliar, sebuah capaian luar biasa yang berdampak langsung pada percepatan pembangunan dan peningkatan pelayanan publik. Sebuah hasil kerja yang tidak instan, melainkan buah dari ketelitian, kejujuran data, serta komitmen kuat pada tata kelola pemerintahan yang baik.
Kenangan akan perjuangan almarhum disampaikan oleh Bagus Nur Cahyadi, rekan sejawat yang kini menjabat sebagai Camat Donorojo. Menurut Bagus, peran almarhum Wawan sangat krusial ketika masih menjabat sebagai Kasubag di Bagian Pemerintahan dan Kerja Sama.
“Mungkin tidak banyak yang tahu, di balik berdirinya Tugu Penceng itu tersimpan perjuangan panjang dan kerja sunyi Mas Wawan. Beliau adalah salah satu ASN yang memiliki andil besar hingga Pacitan mampu meraih supremasi tertinggi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah,” tutur Bagus, Sabtu (31/1/2026).
Sebagai penyusun Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD), almarhum Wawan dikenal sangat teliti dan disiplin. Setiap data diverifikasi, setiap indikator dianalisis dengan cermat, dan setiap laporan disusun berdasarkan fakta objektif. LPPD inilah yang kemudian menjadi instrumen utama dalam penilaian kinerja pemerintahan daerah oleh pemerintah pusat.
Bagus yang kala itu masih menjadi staf almarhum mengaku menyaksikan langsung bagaimana dedikasi tersebut dijalankan tanpa pamrih. Diskusi intens bersama Sekda saat itu, Mulyono, menjadi bagian dari ikhtiar kolektif yang dipimpin oleh kerja keras almarhum di balik layar.

“Beliau mengajarkan bahwa bekerja sebagai ASN bukan soal jabatan, tetapi soal tanggung jawab moral. Apa yang beliau lakukan akhirnya menjadi fondasi keberhasilan Pacitan,” kenangnya.
Kini, kerja sunyi itu menjelma simbol yang dapat disaksikan publik: Tugu di Persimpangan Penceng. Monumen tersebut bukan sekadar bangunan fisik, melainkan penanda sejarah, bahwa keberhasilan daerah dibangun dari dedikasi aparatur yang bekerja dengan hati, kejujuran, dan loyalitas.
Kisah almarhum Wawan Pujiatmoko menjadi pelajaran berharga bahwa pengabdian sejati tidak selalu tercatat dalam popularitas, namun akan selalu hidup dalam manfaat yang dirasakan masyarakat. Sebuah teladan bahwa integritas dan ketekunan, meski dilakukan dalam senyap, mampu meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu.(Red/yun).



