BeritaDaerahPemerintahanSosial

Jalan Rusak dan Keselamatan Publik: Tiga Alumni IPDN Di Pacitan Menjadi Korban

"Kasus kecelakaan yang menimpa para alumni IPDN ini menjadi cermin bahwa buruknya infrastruktur tidak mengenal status sosial maupun jabatan"

Pacitan,JBM.co.id- Kondisi kerusakan jalan nasional dan provinsi di Kabupaten Pacitan kembali menjadi sorotan serius. Infrastruktur yang seharusnya menjadi penunjang mobilitas dan keselamatan justru diduga menjadi penyebab kecelakaan, bahkan hingga menimbulkan cacat permanen. Ironisnya, korban dalam sejumlah peristiwa ini bukan hanya masyarakat umum, melainkan juga aparatur negara.

Tercatat, tiga alumni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dilaporkan mengalami kecelakaan tunggal di ruas jalan rusak di wilayah Pacitan. Dua di antaranya harus menerima kenyataan pahit berupa kondisi fisik yang tidak lagi pulih secara normal.

Kabag Pemerintahan dan Kerja Sama Setda Pacitan, Hesti Suteki, mengungkapkan salah satu korban bernama Chandra, alumni IPDN yang sebelumnya bertugas di Cabang Dinas Kehutanan Pacitan. Chandra mengalami kecelakaan tunggal di kawasan Cuik, Jalan Gatot Subroto, akibat kondisi jalan yang berlubang.

Akibat kejadian tersebut, Chandra harus menjalani pemulihan panjang dan hingga kini mengalami gangguan permanen pada fungsi berjalan. Kondisi itu bahkan mendorongnya untuk berpindah tugas ke tingkat provinsi.

“Setahun tidak bisa naik motor, jalannya sekarang tidak normal. Itu dampak kecelakaan karena jalan rusak,” ujar Hesti, Selasa (27/1/2026).

Kasus serupa juga dialami alumni IPDN lainnya, Gustian, yang mengalami kecelakaan di ruas jalan provinsi tepatnya di persimpangan Bliruk, Kecamatan Punung. Kecelakaan tersebut menyebabkan gangguan fungsi tangan dan mengharuskannya menjalani operasi pemasangan pen.

Sementara itu, satu alumni IPDN lainnya, Bima, juga dilaporkan mengalami kecelakaan tunggal di ruas jalan nasional di Pacitan. Ketiga peristiwa ini memperkuat dugaan bahwa kerusakan infrastruktur jalan dan minimnya penanganan cepat berkontribusi besar terhadap risiko kecelakaan lalu lintas.

Laporan perbaikan jalam dari PPK 2.4 Jatim, yang bertolak belakang dari realita di lapangan.
Laporan perbaikan jalam dari PPK 2.4 Jatim, yang bertolak belakang dari realita di lapangan.

Fenomena jalan berlubang yang lambat ditangani bukan persoalan baru di Pacitan. Namun yang menjadi perhatian publik, munculnya perbedaan antara laporan administratif dan kondisi nyata di lapangan. Pihak PPK 2.4 Jawa Timur disebut telah mengklaim melakukan perbaikan jalan di Jalan Gatot Subroto menggunakan metode CPHMA (Cold Paving Hot Mix Asbuton) pada Ahad, 25 Januari 2026, menyusul aduan masyarakat dan pemberitaan media.

Klaim tersebut bahkan disertai dokumentasi foto kegiatan perbaikan. Namun hasil penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah lubang jalan masih ditemukan dan dinilai membahayakan pengguna jalan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas serta akurasi laporan penanganan yang disampaikan ke publik.

Perbedaan antara laporan di atas kertas dan realitas di lapangan memicu kekecewaan masyarakat. Jalan rusak bukan sekadar persoalan estetika atau kenyamanan, melainkan menyangkut keselamatan jiwa. Ketika penanganan dilakukan secara simbolik tanpa pengawasan memadai, risiko kecelakaan tetap mengintai siapa pun.

Kasus kecelakaan yang menimpa para alumni IPDN ini menjadi cermin bahwa buruknya infrastruktur tidak mengenal status sosial maupun jabatan.

Aparatur negara yang sehari-hari bertugas melayani masyarakat pun dapat menjadi korban, terlebih masyarakat umum yang minim akses perlindungan dan ruang pengaduan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penanganan jalan rusak tidak dapat berhenti pada laporan administratif atau dokumentasi visual semata. Diperlukan transparansi, kejujuran, serta tindakan nyata yang terukur di lapangan agar infrastruktur benar-benar berfungsi melindungi keselamatan publik.

Kini, masyarakat menanti langkah konkret dan evaluasi serius dari pihak berwenang. Sebab ketika jalan rusak dibiarkan dan klaim perbaikan tidak sejalan dengan fakta, yang dipertaruhkan bukan hanya citra institusi, melainkan keselamatan manusia.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button