Cabai sebagai Penjaga Inflasi, Anggota DPRD Pacitan Edukasi Petani Nawangan–Bandar Agar Tak Tinggalkan Komoditas Strategis
"Di masyarakat saya selalu mengingatkan, jangan lupa menanam cabai. Memang di Bandar dulu banyak petani cabai, tapi karena serangan hama penyakit tanaman, banyak yang beralih ke porang. Namun petani tidak boleh terlena hanya pada satu komoditas"

Pacitan,JBM.co.id-Kenaikan harga cabai yang kerap berulang tidak hanya menjadi persoalan pasar, tetapi juga cerminan dari pola tanam di tingkat petani. Hal inilah yang mendorong anggota DPRD Pacitan dari Fraksi Partai Golkar, Arief Nurman, turun langsung memberikan edukasi kepada masyarakat tani di wilayah Nawangan–Bandar.
Arief menekankan bahwa cabai merupakan komoditas strategis yang memiliki pengaruh besar terhadap inflasi daerah. Ketika pasokan berkurang, harga dengan cepat melonjak dan dampaknya langsung dirasakan masyarakat luas. Oleh sebab itu, keberlanjutan produksi cabai di tingkat lokal menjadi kunci stabilitas harga.
“Di masyarakat saya selalu mengingatkan, jangan lupa menanam cabai. Memang di Bandar dulu banyak petani cabai, tapi karena serangan hama penyakit tanaman, banyak yang beralih ke porang. Namun petani tidak boleh terlena hanya pada satu komoditas,” ujarnya, Senin (19/1/2026).
Menurut Arief, perubahan iklim, serangan hama, dan fluktuasi harga seharusnya tidak membuat petani sepenuhnya meninggalkan cabai. Justru, diperlukan strategi budidaya yang lebih adaptif, salah satunya melalui sistem tumpangsari. Pola ini memungkinkan petani menanam cabai bersamaan dengan komoditas lain sehingga risiko kerugian dapat ditekan.
Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah telah mendorong gerakan tanam cabai sebagai langkah konkret pengendalian inflasi dari hulu. Kebijakan tersebut bukan semata urusan pertanian, tetapi bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat.
“Arahan pemerintah jelas, salah satu cara mengurangi inflasi adalah tanam cabai. Kalau petani ikut ambil peran, dampaknya akan terasa langsung ke pasar,” tegasnya.
Arief berharap, dengan pendekatan edukatif dan kesadaran kolektif, petani di Nawangan–Bandar dapat kembali menjadikan cabai sebagai tanaman penting tanpa mengesampingkan komoditas lain. Dengan demikian, ketahanan pangan daerah terjaga, inflasi terkendali, dan kesejahteraan petani tetap berkelanjutan.(Red/yun).




