BeritaDaerahPariwisataPemerintahanPendidikanSosial

Bupati Aji: Merawat Kekhusyukan Ramadan Melalui Harmoni Budaya Ronthek di Pacitan

"Tradisi silakan terus dilestarikan, namun kedamaian dan kerukunan harus selalu menjadi landasan utama. Jangan sampai nilai luhur budaya justru tercoreng oleh konflik yang seharusnya dapat dihindari"

Pacitan,JBM.co.id-Bulan Suci Ramadan bukan hanya menjadi momentum peningkatan ibadah bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi bersama untuk merawat harmoni sosial, toleransi, dan kearifan budaya lokal.

Di Kabupaten Pacitan, tradisi musik Ronda Thetek atau Ronthek yang biasa dimainkan untuk membangunkan warga sahur telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana Ramadan.

Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro, menyambut baik ajakan Kapolres Pacitan AKBP Ayub Diponegoro Azhar yang mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kedamaian, kesejukan, serta kekhusyukan ibadah selama Ramadan 1447 Hijriah. Imbauan tersebut khususnya ditujukan kepada para seniman dan kelompok masyarakat yang terlibat dalam kegiatan Ronthek Gugah Sahur.

Melalui Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Pacitan, Luthfi Azza Azizah, Bupati Indrata menyampaikan apresiasi atas peran aktif kepolisian yang senantiasa hadir di tengah masyarakat. Kehadiran aparat dinilai penting untuk memastikan setiap kegiatan tradisi berjalan dengan tertib, aman, dan tetap menghormati nilai-nilai ibadah.

Menurut Bupati, Ramadan merupakan masa untuk menundukkan ego, memperhalus budi pekerti, serta memperkuat kesadaran spiritual dan sosial. Oleh karena itu, setiap bentuk ekspresi budaya hendaknya dilandasi niat menjaga persaudaraan, bukan justru memicu perbedaan atau gesekan di tengah masyarakat.

Ronthek sebagai warisan budaya lokal memiliki nilai edukatif yang tinggi. Selain menjadi media kebersamaan dan pelestarian seni tradisi, Ronthek juga mengajarkan gotong royong, disiplin, serta rasa tanggung jawab sosial. Namun demikian, pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan norma ketertiban, etika bermasyarakat, serta rasa saling menghormati antarwarga.

Bupati Indrata menegaskan bahwa budaya dan agama sejatinya dapat berjalan beriringan. Keduanya saling menguatkan apabila dilandasi kesadaran akan tujuan bersama, yakni menciptakan kehidupan masyarakat yang rukun, damai, dan bermartabat.

“Tradisi silakan terus dilestarikan, namun kedamaian dan kerukunan harus selalu menjadi landasan utama. Jangan sampai nilai luhur budaya justru tercoreng oleh konflik yang seharusnya dapat dihindari,” pesannya.

Dengan sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, seniman, dan masyarakat, diharapkan tradisi Ronthek Gugah Sahur dapat terus hidup sebagai sarana edukasi budaya yang menyejukkan, sekaligus memperkaya makna ibadah Ramadan di Kabupaten Pacitan.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button