BaliBeritaDaerahDenpasarEkonomiPariwisataPendidikan

Refleksi 93 Tahun Prof. Bagus Gemakan Semangat “De Koh Ngomong” Dinilai Masih Relevan untuk Bali

Jbm.co.id-DENPASAR | Semangat kritis yang diwariskan Prof. IGN. Bagus kembali menjadi sorotan akademisi, budayawan dan tokoh masyarakat, dalam diskusi kecil bertajuk “93 Tahun Prof. IGN. Bagus: Sebuah Catatan Pinggir Antara Kiprah dan Kaprah Perjuangannya” di Mahalo Cafe, Renon, Denpasar, Minggu, 12 Juli 2026.

Para akademisi dan tokoh masyarakat menilai gagasan “De Koh Ngomong” yang selama ini identik dengan Prof. Bagus masih memiliki relevansi kuat untuk menjawab berbagai tantangan sosial, budaya, dan pembangunan di Bali.

Diskusi yang diprakarsai I Ketut Ngastawa itu menghadirkan Drs. Putu Suasta, M.A., dan Prof. Dr. I Gede Mudana, M.Si., sebagai narasumber dengan moderator Nyoman Baskara.

 Sejumlah akademisi, budayawan, serta tokoh masyarakat turut hadir mengenang perjalanan intelektual Prof. IGN. Bagus yang kini memasuki usia 93 tahun.

Turut hadir, Prof. Dr. I Gede Sutarya, ST., Par., M.Ag., Prof. Dr. Ir. Nitya Santhiarsa, M.T., (Putra Prof. IGN. Bagus), Drs. Nyoman Sutiawan, Ir. IGA Aryasa Susantya, Drs. Nyoman Wiratmaja, M.Si., Agus Maha Usadha (Ketua NCPI Bali), I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya (Ketua PHRI Badung), JM Made Sulasa Jaya dan Dr. IGA Alit Sosiawati, M.Si.

Dalam forum tersebut, Nyoman Baskara menilai masyarakat saat ini justru semakin membutuhkan keberanian untuk menyampaikan kritik yang membangun. Menurutnya, sikap diam terhadap berbagai persoalan publik justru berpotensi memperburuk keadaan.

“Tapi, faktanya diabaikan, terlebih-lebih belakangan ini kita dipertontonkan oleh sebuah pesta korupsi yang luar biasa di berbagai lini,” ujarnya.

Nyoman Baskara juga mengaku memilih bersikap apatis setelah melihat berbagai kritik yang kerap tidak mendapat respons.

“Itu seperti habis energi, untuk berbuat apa dengan kebebalan yang ada dengan elit kita pada hari ini. Tidak saja di Bali, tapi juga di Indonesia. Nah, berbahagialah hari ini masih ada seorang Ngastawa dan Keluarga Besar Prof. Bagus yang hari ini hadir serta para tokoh yang menghidupkan kembali semangat untuk tidak Koh Ngomong/Bicara,” kata Nyoman Baskara.

Menurutnya, gagasan “De Koh Ngomong” perlu dimaknai sebagai dorongan untuk terus menyampaikan kritik dan gagasan konstruktif demi masa depan Bali maupun Indonesia.

“Sepertinya itu terjadi hari ini. Lu ngomong apa saja, gue tidak peduli. Faktanya itu sudah terjadi. Apalagi kita diam tidak menggonggong kritisi apa nanti yang terjadi dengan Republik ini,” ucapnya.

Sementara itu, Prof. Dr. I Gede Mudana menegaskan bahwa istilah “De Koh Ngomong” tidak boleh dimaknai sebagai ajakan untuk takut berbicara.

Menurutnya, pesan yang diwariskan Prof. IGN. Bagus justru mengandung semangat perjuangan dan keberanian melawan ketidakadilan, baik di lingkungan kampus maupun ditengah masyarakat.

“Jika di Bali ada konsep Tri Kaya Parisudha, yakni Kayika, Wacika dan Manacika. Jadi, bukan Wacika saja, tapi juga Kayika,” kata Prof. Gede Mudana.

Prof. Gede Mudana menjelaskan bahwa Prof. Bagus selalu menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat perjuangan sosial, bukan sekadar wacana akademik.

Prof. Gede Mudana juga mengingatkan Prof. Bagus berani mengkritisi berbagai kebijakan sejak era 1980-an hingga 1990-an ketika modernisasi dan pembangunan pariwisata dinilai mulai menggeser kepentingan masyarakat sipil.

“Sipil ini di-kongkalikong antara Penguasa dan Pengusaha yang kita lihat dalam berbagai gejolak tahun 1990-an, seperti Bali Nirwana Resort (BNR), Serangan, Selasih, Bali Pecatu Graha dan sebagainya,” kata Prof. Gede Mudana.

Selain dikenal sebagai pemikir kritis, Prof. Bagus juga dinilai berjasa dalam pengembangan pendidikan tinggi di Bali, termasuk lahirnya Program Doktor Kajian Budaya dan Program Doktor Pariwisata di Universitas Udayana.

Bagi Prof. Gede Mudana, sosok Prof. Bagus merupakan intelektual yang mampu menjembatani dunia akademik dengan kehidupan masyarakat.

“Dengan demikian pengetahuan bagi Beliau bukan sesuatu yang berada di Menara Gading, tapi Beliau mengkontektual dalam kehidupan nyata sehari-hari. Jadi, apa yang dialami oleh masyarakat, Beliau perjuangkan,” tandasnya.

Melalui refleksi 93 tahun perjalanan hidup Prof. Bagus, para peserta diskusi berharap keberanian intelektual, semangat mengkritisi kebijakan, serta komitmen menjaga budaya Bali tetap menjadi inspirasi bagi generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button