Kesempatan Beribadah Sudah Bukti Rahmat Allah. Pendakwah KH Mahmud Ulas Dawuh Gus Baha
"Pentingnya memahami logika rahmat Allah dalam kehidupan seorang hamba"

Pacitan,JBM.co.id-Pernyataan ulama kharismatik Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha kembali menjadi bahan perbincangan di kalangan jamaah pengajian. Dalam sebuah majelis ilmu, beliau menyampaikan pandangan yang menenangkan tentang ibadah dan rahmat Allah.
Menanggapi dawuh tersebut, pendakwah KH Mahmud memberikan ulasan yang menegaskan pentingnya memahami logika rahmat Allah dalam kehidupan seorang hamba.
Menurut KH Mahmud, Gus Baha pernah menyampaikan bahwa beliau kurang sependapat dengan pandangan sebagian ulama yang selalu menekankan bahwa ibadah manusia belum tentu diterima oleh Allah. Meski secara akidah pernyataan itu memiliki dasar kehati-hatian, Gus Baha mengajak umat melihat sisi lain dari kasih sayang Allah.
“Logikanya tidak seperti itu,” terang KH Mahmud, Sabtu (7/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa keinginan dan kemampuan seseorang untuk beribadah saja sudah merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah. Tidak semua manusia diberi kesempatan, kemauan, dan kemudahan untuk melaksanakan ibadah.
“Kalau seseorang sudah diberi dorongan untuk shalat, mengaji, atau berdzikir, itu sebenarnya sudah tanda rahmat Allah turun kepadanya,” ujar KH Mahmud.
Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam pandangan para ulama tasawuf, taufik untuk beribadah merupakan bentuk penerimaan awal dari Allah. Sebab tanpa pertolongan-Nya, manusia tidak akan mampu melaksanakan amal kebaikan.
Pandangan ini, menurut KH Mahmud, bukan berarti menghilangkan sikap rendah hati atau merasa pasti diterima amalnya. Namun lebih kepada membangun optimisme dan rasa syukur kepada Allah.
“Kalau orang sudah mau ibadah, jangan langsung ditakut-takuti seolah-olah amalnya tidak ada nilainya. Justru itu harus disyukuri sebagai rahmat yang luar biasa,” jelasnya.
Pesan ini dinilai penting di tengah masyarakat agar umat tidak mudah putus asa dalam beribadah. Sebaliknya, mereka didorong untuk semakin bersyukur dan terus meningkatkan kualitas amal.
Di akhir ceramahnya, KH Mahmud menegaskan bahwa sikap terbaik seorang hamba adalah beribadah dengan penuh harap kepada rahmat Allah, sekaligus tetap rendah hati.
“Rahmat Allah itu luas. Ketika kita sudah diberi kesempatan untuk beribadah, itu sendiri sudah tanda kasih sayang-Nya kepada kita,” pungkasnya.(Red/yun).




