Prof. Dasi Astawa Apresiasi Diskusi Nasional SMSI Badung Hadirkan Wamen Pariwisata RI Bakal Terapkan Regulasi Pariwisata Inklusif Berkelanjutan

Jbm.co.id-BADUNG | Tak hanya cukup dilantik dan membentuk asosiasi, pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Badung dibawah pimpinan Nyoman Sarmawa berupaya merealisasikan sejumlah program kerja yang dapat memberikan benefit atau keuntungan buat semua anggotanya.
Dalam waktu dekat, SMSI Kabupaten Badung menggelar Diskusi Nasional dengan mengambil topik “Pariwisata Berkualitas (Quality Tourism)”, yang direncanakan, pada 21 April 2025 mendatang.
Menyikapi hal tersebut, SMSI Badung membentuk Panitia Diskusi Nasional dengan Ketua Nyoman Sunaya, Sekretaris Komang Purnama Sari dan Bendahara Horacio Canto dibantu oleh Seksi Penggalian Dana, Nyoman Alit Sukarta, Seksi Humas & Publikasi, Putu Wiguna, Seksi Perlengkapan, Made Sudiana dan Jik Karang. Turut hadir, Wakil Ketua Bidang Organisasi SMSI Provinsi Bali Agustinus Apollonaris Daton.
Direncanakan, Diskusi Nasional menghadirkan empat (4) Narasumber berkompeten diantaranya Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Enik Ermawati (Ni Luh Puspa), Pengamat Pariwisata Tantowi Yahya dan Praktisi Pariwisata Ketua PHRI Provinsi Bali Prof. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati serta Bupati Badung Wayan Adi Arnawa.
Ketua SMSI Kabupaten Badung Nyoman Sarmawa menyebutkan Diskusi Nasional bertajuk Quality Tourism dilakukan dengan mengambil beberapa pertimbangan, dikarenakan pariwisata Bali disinyalir lebih mengarah ke Mass Tourism yang ternyata tidak sesuai dengan daya dukung Bali.
“Dengan luas Bali seperti ini, yang kemudian kemampuan produksi pangan Bali seperti saat ini, tentunya daya dukung Bali tidak muat, ketika kita berhadapan dengan Mass Tourism,” kata Nyoman Sarmawa.
Hal tersebut juga diperkuat oleh adanya sejumlah kasus seringkali terjadi, yang teranyar kasus wisatawan asal Amerika Serikat sengaja mencuri barang, karena kekurangan bekal di Bali.
Kemudian, statement terakhir dari Ketua PHRI Bali, yang menyatakan membludaknya wisatawan yang datang ke Bali, tapi tingkat okupansi hotel malah menurun.
“Lalu, ada kasus-kasus lainnya, seperti turis yang mengambil alih pekerjaan masyarakat lokal dan sebagainya. Untuk itu, isu Quality Tourism harus diolah agar nantinya betul-betul efektif,” paparnya.
Setelah beberapa kali audensi, pengurus SMSI Badung akhirnya diterima Prof. Dr. Nengah Dasi Astawa, M.Si., di Elemento Homestay, Jalan Raya Gerih Gang Sandat Nomor 8 Sibangkaja, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Sabtu, 5 April 2025.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Dasi Astawa yang juga Direktur Politeknik El Bajo Commodus, NTT ini memberikan apresiasi bakal dilaksanakan Diskusi Nasional bertajuk “Pariwisata Berkualitas dan Berkelanjutan yang diinisiasi oleh SMSI Kabupaten Badung.
Meski demikian, Prof. Dasi Astawa menambahkan diperlukan juga Pariwisata Inklusif (Inklusive Tourism) yang memberikan kesempatan yang sama atas kunjungan wisatawan ke negara manapun, termasuk Indonesia khususnya Bali, asalkan memenuhi sejumlah kriteria yang telah ditentukan, termasuk penerapan regulasi hingga dilakukan pengawasan ketat oleh eksekutor.
“Jika di negara orang melanggar dipastikan dideportasi. Itu urusan negara bukan urusan publik, tapi urusan Aparat Penegak Hukum (APH), sehingga perlu regulasi yang namanya supra struktur. Jangan cerdas dan pintar membuat supra struktur, Undang-Undang, regulasi atau aturan dan lain sebagainya, tapi itu tidak dilaksanakan. Karena tidak dilaksanakan justru menyalahkan orang yang langgar aturan,” tegasnya.
Parahnya lagi, semakin banyak dibuat aturan bahkan di Bali kelebihan regulasi, sehingga dipastikan pembuat regulasi berpotensi melanggar aturan. Hal tersebut membuat penerapan regulasi di lapangan disinyalir tidak konsisten, termasuk pengawasan yang lemah.
“Dua yang lemah, yaitu penerapan regulasi dan eksekutor tidak ada, siapa yang melakukan eksekusi. Apakah wisatawan menginap di hotel berbintang, hotel bintang satu, melati, homestay dan villa bodong, itu bukan kesalahan tamu wisatawan. Semua pelanggaran hukum itu karena kesalahan eksekutor yang tidak menerapkan aturan. Jangan salahkan tamu. Saya pun jika ke Singapura tidak dihiraukan, saya akan frontal merokok dan buang sampah dimana-mana. Mengapa saya tertib di Singapura, karena ada penerapan regulasi,” pungkasnya. (ace).



