BangliBeritaDaerahHukum dan KriminalPemerintahanPendidikan

HAM Dikedepankan, Warga Binaan Lapas Narkotika Bangli Difasilitasi Klinik Berobat

Jbm.co.id-BANGLI | Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Bangli dianggap spesial, karena banyak Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang perlu direhabilitasi, dalam konteks ketergantungan terhadap NAPZA, terutama WBP usai menjalani masa pembinaan didalam Lapas, yang nantinya bisa diterima kembali ditengah-tengah masyarakat.

NAPZA sendiri merupakan Narkotika, Psikotropika, dan bahan Adiktif lainnya, yang mengacu pada kelompok senyawa mengakibatkan tumbuhnya kecanduan.

Hal tersebut merupakan salah satu kegiatan kerja yang harus ditingkatkan, saat Warga Binaan melakukan seluruh proses kehidupannya, selama pembinaan di Lapas ini, dalam melakukan kegiatan kerja, yang dipandu oleh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di Lapas Narkotika Kelas IIA Bangli.

Advertisement

Demikian disampaikan Kakanwil Kemenkumham atau Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Bali Pramella Yunidar Pasaribu didampingi Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kanwil Kemenkumham Bali I Putu Murdiana dan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Narkotika Kelas IIA Bangli Marulye Simbolon di Lapas Narkotika Kelas IIA Bangli, Selasa, 9 Juli 2024.

“Kami hadir di Lapas Narkotika Bangli sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan dibawah Kanwil Kemenkumham Bali sebagai perpanjangan tangan dari Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia, Bapak Yasonna Laoly,” terangnya.

Sementara itu tema Pemasyarakatan itu sendiri adalah Pemasyarakatan Pasti Berdampak, sehingga diharapkan peran serta Kanwil Kemenkumham Bali dengan tugas pokok dan fungsinya pembinaan kepada seluruh UPT Pemasyarakatan yang ada di seluruh Bali, termasuk di Lapas Narkotika Kelas IIA Bangli.

Bahkan, Warga Binaan diberikan pembinaan kemandirian dengan budidaya pertanian, seperti panen perdana Vanili, yang hasilnya sangat bermanfaat untuk dijadikan komoditi yang bisa disetorkan sebagai PNBP atau Pendapatan Negara Bukan Pajak dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

“Tadi juga kita melihat budidaya bonsai. Ini tidak sembarangan artinya Warga Binaan itu sendiri yang telah melakukan kegiatan untuk bagaimana bisa membuat bonsai,” kata Pramella.

Selain itu, juga dilakukan budidaya asparagus, yang sudah bisa diperjualbelikan di masyarakat. Namun, hal itu tetap dalam konteks seluruh hasil penjualannya menjadi peningkatan PNBP Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

“Nanti akan diolah kembali, untuk membiayai seluruh aktivitas yang bisa dilakukan di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Tak hanya itu, Lapas Narkotika Kelas IIA Bangli juga melakukan proses rehabilitasi dan pembinaan kepribadian, yang bersinergi dengan Kementerian Agama (Kemenag), Kepolisian, Koramil dan Yayasan Bina Sejahtera yang membantu para Warga Binaan untuk sehat kembali dan diterima oleh masyarakat.

“Tadi kita dilihat di beberapa blok hunian, ada keasrian lingkungan. Disitu ada keterkaitan hubungan manusia dengan lingkungan, untuk bisa menikmati seluruh keindahan dari lingkungan itu sendiri,” paparnya.

Meski tidak bergaul dengan masyarakat, namun Warga Binaan bisa menikmati blok hunian yang tidak menyeramkan bagi mereka.

Dalam arti, lanjutnya mereka melihat, bahwa blok hunian itu lebih akrab bagi mereka, untuk bisa menikmati keindahan lingkungan, dengan mengedepankan HAM.

“Karena Kementerian Hukum dan HAM itu ada juga nilai-nilai HAM-nya juga. Jadi, seluruh Warga Binaan yang ada di blok hunian itu merasakan, bahwa HAM mereka dikedepankan,” tegasnya.

Nantinya, disebutkan akan ada akreditasi, yang selanjutnya akan menjadikan peninjauan bagi klinik-klinik yang ada di Lapas Narkotika Bangli. Untuk itu, Kakanwil Pramella berharap segera ada akreditasi dari Kementerian Kesehatan.

“Hal ini juga sebagai upaya dari kami, jika ada Warga Binaan yang sakit, yang bisa nanti mereka berobat di klinik tersebut,” tambahnya.

Selain itu, Kakanwil Pramella juga berharap semua peninjauan ini bermanfaat bagi para Warga Binaan di Lapas Narkotika Bangli, yang dimulai dari kegiatan kerja, kegiatan keagamaan hingga mengisi hobi mereka yang suka seni, seperti melukis dan olahraga.

“Itu semua sebagai bagian tak terpisahkan yang menjadikan mereka lebih semangat lagi,” imbuhnya.

Jika Warga Binaan sudah dibekali keterampilan sejak awal dalam pembinaan ini bersama dengan Aparatur Sipil Negara (ASN), diharapkan mereka nantinya bisa diterima oleh masyarakat.

Dengan tema Pemasyarakatan Pasti Berdampak, Kakanwil Pramella juga berharap menjadikan Pemasyarakatan diterima oleh khalayak ramai di masyarakat Indonesia.

“Di masyarakat, mereka bisa juga menghidupi dirinya sendiri, sehingga mereka juga bisa menghasilkan, meneruskan kehidupan itu dengan baik dan tidak akan kembali menjadi seorang yang kembali lagi menjadi Warga Binaan di kemudian hari,” pungkasnya. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button