BeritaDaerahEdukasi & MotivasiTeknologi

Bupati Suwirta Sebut TOSS Center Lebih Kedepankan Pemilahan Sampah dari Rumah

Jbm.co id-KLUNGKUNG | Tempat Olah Sampah Setempat atau TOSS Center masuk jajaran Top Five yang diharapkan mendapatkan DID lebih dari Rp 5 Milyar. Untuk itu, sudah dibuatkan perencanaan sekitar Rp 6 Milyar dimulai dari pintu masuk hingga areal TOSS semuanya terintegrasi, termasuk penambahan RDF yang akan dikerjasamakan, sehingga nantinya tidak ada residu yang keluar sama sekali.

“Jadi, baru masuk, sampah sudah dipilah. Jadi, koperasinya sudah bekerja merapikan plastiknya, yang kerjasama dengan APSI (Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia). Pokoknya, sampah organik diolah menjadi kompos sebanyak-banyaknya. Tahun depan ini dana itu digunakan untuk membangun fasilitas disini sehingga nantinya akan menjadi komplet sesuai dengan harapan mengolah sampah dari hulu hingga hilir,” kata Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta, usai acara pelantikan pengurus Jaringan Jurnalis Peduli Sampah (J2PS) masa bakti 2022-2025 di TOSS Center, Kabupaten Klungkung, Sabtu, 29 Oktober 2022.

Menurutnya, untuk jenis sampah plastik itu dikemas, yang kemudian dipilah dan dirapikan oleh koperasi serta sampah organiknya masuk ke sel kompos Ozaki serta disiram dengan air.

“Yang menyebabkan bau itu khan, sampah itu bercampur dengan sampah anorganik, yaitu plastik, apalagi sisa makanan. Tapi, jika sisa makanan dicampur dengan sampah organik, dia tidak bau. Makanya, disini tidak ada bau dan lingkungan disini juga tidak komplain,” sebutnya.

Kemudian, Bupati Suwirta menyebutkan, bahwa TOSS Center yang berada di Kabupaten Klungkung ini merupakan salah satu metode pengolahan sampah yang lebih mengedepankan perilaku masyarakat.

“Teknologi kita nomorduakan, karena ada sisi-sisi yang kita pikirkan bahwa pengolahan pupuk kompos ini menjadi prioritas kita juga untuk mendukung program pembangunan Bali,” terangnya.

Dengan adanya program pertanian organik, maka sekarang justru sebagian besar pihaknya berani untuk menciptakan kompos sebanyak-banyaknya, sehingga pengolahan sampah tidak terlalu banyak memerlukan mesin, tapi pihaknya lebih mengedepankan pemilahan sampah dari rumah.

Makanya, hal ini hanyalah perubahan perilaku saja sesungguhnya. Menurutnya, jika 50 persen pemilahan sampah dari rumah itu selesai, maka 50 persen masalah sampah sudah dianggap selesai, karena sudah dipilah oleh masyarakat.

“Justru di hulu inilah dianggap paling susah. Maka dari itu, tugas kita bersama, bagaimana mengedukasi kita semua, saya dan bapak/ibu juga, masyarakat agar mereka taat memilah sampah dari rumah. Kalau itu tidak selesai, maka pekerjaan itu akan saya semakin berat dan biayanya juga tinggi, ujung-ujungnya resiko juga tinggi dan menjadi panjang proses pengolahan sampah itu,” pungkasnya. (ace).

Banner Iklan Rafting Jarrak Travel

Related Articles

2 Comments

  1. Do you mind if I quote a couple of your posts as long as I provide credit and sources back to your blog? My website is in the very same niche as yours and my visitors would truly benefit from some of the information you present here. Please let me know if this alright with you. Many thanks!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button