Pendidikan

Soal Anggaran Terbatas, Putu Suasta Sebut Pemerintah Harus Terbuka Tangani SMA Bali Mandara

JBM.co.id, Denpasar- Alumnus Fisipol UGM dan Universitas Cornell, Putu Suasta, yang sekaligus Pemerhati Sosial memberikan kritiknya terhadap kebijakan pemerintah, yang tidak sesuai dengan kebutuhan publik.

Saat dikonfirmasi pada Kamis (5/5/2022), Putu Suasta angkat bicara terkait isu SMA Bali Mandara yang didengar banyak melahirkan anak-anak miskin menjadi pintar dan sarjana hebat. Namun, kini, tiba-tiba program pendidikannya disinyalir hilang dengan dalih anggaran terbatas.

Putu Suasta selaku Pemerhati Sosial menyebut model pendidikannya harus bermain di hulu, karena model sekolah Bali Mandara itu semestinya harus seperti sekolah Taruna Nusantara yang menjadi sekolah pilihan.

Dalam arti pilihan tidak hanya tergantung strata sosial saja, tetapi pengaturan struktur pendidikan dan lembaganya harus betul-betul hebat dan ditangani secara profesional.

“Sekolahnya bagus, pengajarnya bagus, perpustakaannya bagus, sehingga dia akan menjadi oase untuk semua orang yang mempunyai kepentingan untuk maju. Hal ini, tidak boleh dihambat. Karena, kita harus mempunyai model sekolah yang bagus, yang ada di Bali, sehingga hal ini bisa masuk kedalam tempat-tempat lain berkualitas. Misalnya tamat dari sekolah Bali Mandara, dia bisa masuk ke Universitas Udayana, ITS, UGM, ITB dan UI umumnya yang ada di nasional itu khan,” terang Putu Suasta.

Kemudian, Putu Suasta menegaskan model pendidikan seperti ini harus didukung sepenuhnya bukan hanya oleh pemerintah saja, akan tetapi juga didukung oleh tokoh dan masyarakat, yang keberadaannya harus betul-betul dijaga dengan baik.

“Jika model ini cukup berhasil, bisa menularkan ke tempat-tempat lainnya, bisa menjadi model, untuk pembinaan sekolah-sekolah yang lain. Untuk itu, pemerintah daerah harus mendukungnya,” paparnya.

Bahkan, Putu Suasta mempertanyakan permasalahan SMA Bali Mandara yang disebut pemerintah anggarannya terbatas, padahal model pendidikannya telah berhasil melahirkan banyak anak-anak yang sukses menjadi dokter di Unud serta sukses di ITB, UGM dan universitas terkemuka lainnya di Indonesia.

“Sebetulnya hal ini, kalau pemerintah diajak berbicara, bahwa apa sebenarnya menjadi masalahnya. Jika masalah uang atau anggaran bisa diambil dari masyarakat. Gampang itu. Masalah kecil itu. Jadi, apa sebenarnya masalahnya,” sebutnya.

Kemudian, Putu Suasta mengakui dilihat dari tempatnya, sekolah Bali Mandara strategis dan menjadi tempat studi yang bagus, yang didukung staf pengajar yang berkompeten serta profesional.

“Ada asramanya, ada pengajar yang cukup bagus, sehingga murid-murid yang tamat, sekarang mendapatkan tempat yang bagus. Sudah banyak yang jadi insinyur, jadi dokter dan lain sebagainya. Itu bisa menjadi model sekali. Oleh karena itu, kita support dengan segala cara yang ada. Jika masalah anggaran, kita carikan bersama-sama,” ungkapnya.

Bahkan, Putu Suasta sangat mengapresiasi nilai lebih SMA Bali Mandara. Untuk itu, Pemerhati Sosial ini meminta Pemerintah terbuka dan membuka pintu berdiskusi tentang permasalahan yang menimpa SMA Bali Mandara.

“Ya, pemerintahnya yang harus terbuka, harus kita bukalah barangnya. Ini khan barang sudah jadi, sudah bagus. Kita harus buat model. Jangan menjadi personal. Hal ini harus kelembagaan, karena sekolah ini, adalah sekolah milik rakyat Bali. Jadi, hal ini harus support sepenuhnya,” jelasnya.

Jika tidak ada anggaran, lanjut Putu Suasta, masyarakat bisa diundang untuk melanjutkan model pendidikan tersebut. Terlebih lagi, masalah SMA Bali Mandara tidak seseram bayangan yang diperbincangkan publik.

“Kalau masalah anggaran, khan gampang itu. Bisa dari CSR dari BUMN yang ada disini khan banyak. CSR bisa dilakukan, kemudian tokoh-tokoh dari investor dan dari Jakarta yang banyak punya investasi di Bali. Asal ada orang yang ngomongin saja, apa yang menjadi masalahnya.Gampang itu, bisa diatasi,” kata Putu Suasta.

Kemudian, Putu Suasta menyebutkan SMA Bali Mandara dengan model pendidikan yang bagus, seharusnya bisa diduplikasikan di setiap kabupaten atau pihak lembaga-lembaga pendidikan yang konsen menangani hal tersebut.

“Harus bisa diduplikasi. Hal ini modelnya sudah cukup bagus. Seperti Sekolah Nusantara yang ada di Magelang. Itu khan diduplikasi di Sumatera Utara dan Bekasi serta di Jawa Timur. Jadi, sekolah tersebut bisa diduplikasi. Modelnya itu luar biasa bagus sekali. Semangat NKRI kuat. Bhinneka Tunggal Ika kuat. Jadi, Ke-Indonesiaan kuat. Itu basisnya. Jadi, orang-orang sontoloyo yang masuk ke sana, keluarnya pasti bagus. Hormat dengan orangtua. Kulturnya bagus. Tata krama bagus. Intelektualnya tinggi. Karena, model pengajarannya cukup luar biasa. Orang yang miskin dan tidak punya pengetahuan, sekarang keluarnya malah bagus banget. Berlian sebetulnya itu,” ujarnya.

Walau berganti pejabat dan pemerintahan, semestinya pemerintah meneruskan model pendidikan sekelas SMA Bali Mandara. Jika ada permasalahan, bisa disampaikan secara terbuka, transparan, terpercaya dan akuntabel.

“Seharusnya bisa diteruskan oleh pemerintah. Karena, pemerintah bisa berganti setiap saat. Tapi, modelnya tetap jalan. Pemerintah setiap lima tahun berganti. Pejabat berganti. Jadi, kita harus terbuka. Jadi, orang berpolitik itu harus transparan dan terbuka serta akuntabel, bisa dipercaya. Kalau yang bagus, kita pakai. Kalau yang kurang bagus, kita perbaiki sama-sama. Gitu aja,” tandasnya.

Soal SMA Bali Mandara yang masih berbau rezim sebelumnya dan sekarang berbeda visi serta tagline, yang menjadikan keberadaan SMA Bali Mandara korban rezim, karena beda tagline atau beda jargon, ditanggapi Putu Suasta sebagai alasan cara berpikir pemimpin yang mundur, dikarenakan model pendidikan SMA Bali Mandara yang bagus.

“Kalau memang cara berpikir seperti itu khan sudah jelas mundur. Tapi, yang jelas, sekolah Bali Mandara itu adalah sekolah bagus, yang bisa diperbaiki secara bersama-sama. Itu khan hebat sekolahnya. Outputnya sudah hebat, bisa menjadi model di tiap-tiap kabupaten. Hal itu bisa untuk meredam kenakalan remaja dan sifat radikal disana. Jadi, orang bisa belajar dengan tenang dan orangtua bisa merasa aman bahwa anaknya sekolah disana. Outputnya juga sudah cukup bagus,” terangnya.

“Kemarin, ada sekolah dari kabupaten lain, studi komparasi disitu, melihat bagaimana model SMA Bali Mandara ini berhasil melahirkan anak-anak cerdas. Sekolah Bali Mandara itu, tidak mungkin berhenti. Karena, itu sudah menjadi milik masyarakat Bali.
Pemerintah boleh berganti, tapi sekolahnya terus berjalan, sejauh mata memandang. Tidak ada lagi, sekolah seperti model Bali Mandara yang ada di Bali sampai saat ini. Sekolahnya disamping indoor, outdoor juga,” terangnya.

Oleh karena itu, Putu Suasta berharap, mudah-mudahan, nantinya pemerintah mau terbuka untuk berbicara masalah SMA Bali Mandara, agar terwujud SDM Bali yang punya daya saing, kompetitif dan berkualitas.

“Mekanisme dan transparansi harus terbuka. Jika kurang anggaran, banyak orang Bali yang menyumbangkan dana untuk kemajuan pendidikan. Dialog dan komunikasi harus dibuka. Dua arah yang terbuka harus ditingkatkan untuk kepentingan Bali. Kalau Bali berhasil, pemerintah juga berhasil. Khan begitu,” pintanya.

Maka dari itu, Putu Suasta mengingatkan pemerintah secara terbuka berbicara dengan masyarakat dan dimintai masukan atau bantuan moral dan materi, jika berada pada jalur atau saluran yang benar. (Ace/red).

Banner Iklan Rafting Jarrak Travel

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button