Opini Publik

the dual role of elite demonstrators in Indonesia

Opinion: Prof. IP. Sudiarsa Boy Arsa, Ph.D (Ketua Umum Dewan Penasehat DPN RI)

In a form of violence, regardless of whether it is physical, mental or verbal violence, it is still violence which is definitely prohibited by law or any religious teachings because violence that is not based on the truth will harm the persecuted party (the recipient of violence) for example.The violent incident that occurred during a student demonstration on Monday, April 11, 2022 in Jakarta, was the beating of an activist as well as a lecturer at the University of Indonesia and also a social media influencer, Ade Armando.
(Dalam suatu kekerasan, apapun bentuknya baik itu kekerasan Fisik, mental Maupun Verbal, Tetaplah suatu Kekerasan yang sudah pasti dilarang undang undang maupun ajaran agama apapun karena kekerasan yang tidak berdasarkan kebenaran akan merugikan pihak yang teraniaya (penerima kekerasan) contohnya pristiwa kekerasan yang terjadi pada saat demonstrasi mahasiswa pada hari Senin, 11 April 2022 di Jakarta yaitu terjadinya pengeroyokan terhadap seorang Aktivis sekaligus sebagai seorang Dosen di Universitas indonesia dan juga seorang influencer media sosial yaitu Ade Armando) .

An unusual phenomenon and many have questioned, why is the activist present and participating in the demonstration which is not actually the activist own habitat? .Based on several reliable sources of information, the activist was at the demonstration because he accompanied the activist members of the Indonesian Movement for All {Pergerakan Indonesia Untuk Semua (PIS)}, an activity organization initiated by the activist (Suatu fenomena yang tidak lazim terjadi serta banyak yang mempertanyakan, mengapa Aktivis tersebut berada dan ikut dalam demonstrasi tersebut yang sesunggunya bukan lingkungan habitatnya Aktivis itu sendiri ? Berdasarkan beberapa sumber informasi terpercaya Aktivis tersebut berada diacara demonstrasi itu karena mendampingi para anggota aktivis Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS) suatu organisasi aktivitas yang diinisiasi oleh Aktivis tersebut).

It is ironic because the violence occurred when the activist was among the demonstrators who supported the aspirations of the students who wanted to be voiced at the demonstration against the constitutional amendments and the extension of the president’s term of office. (Sungguh ironis karena kekerasan itu terjadi ketika Aktivis tersebut berada diantara pendemo yang ikut mendukung aspirasi mahasiswa yang hendak disuarakan pada saat demonstrasi menolak amandemen konstitusi dan perpanjangan masa jabatan presiden).

In fact, the demonstration was not the time and space for the activist so that his participation attracted the attention of other people who were not in his habitat, so that the activist was easily recognized during the demonstration by the people around him. Ade himself was seen by other demonstrators regarding his argument with several mothers who were also members of the demonstrators, during the dispute the activist was shouted at by the demonstrators, then beaten and stripped of his clothes. (Sesungguhnya diperistiwa demonstrasi tersebut bukanlah ruang dan waktunya bagi Aktivis tersebut sehingga keikutsertaannya memancing perhatian bagi Orang lain yang bukan habitatnya sehingga Aktivis tersebut begitu mudah dikenali pada saat demonstrasi oleh orang orang di sekelilingnya. Ade sendiri dilihat oleh pendemo lain perihal perdebatannya dengan beberapa ibu yang juga anggota pendemo, dalam percekcokan itu Aktivis tersebut diteriaki oleh para pendemo , kemudian dipukuli lalu dilucuti pakaiannya).

Violence that occurs in demonstrations is not a strange event anymore in this country. Like in the New Order era and during the reformation era, every demonstration was always accompanied by clashes between fellow demonstrators and between demonstrators and the security forces. (Kekerasan yang terjadi dalam demonstrasi bukanlah suatu pristiwa yang aneh lagi di negeri ini. Seperti dijaman Order Baru dan jaman reformasi setiap demonstrasi selalu diiringi dengan pristiwa bentrok-bentrokan antar sesama para pendemo dan antara pendemo dengan pihak aparat keamanan).

Compared to the demonstrations that took place from the early 1960s to the end of the 1980s, the demonstrations of the opposition movement against the rulers that occurred in the 1990s have changed paradigms and new phenomena have occurred. (Kalau dibandingkan demonstrasi yang terjadi sejak awal tahun 1960 sampai dengan akhir tahun 1980, Demonstrasi gerakan oposisi terhadap penguasa yang terjadi pada dekade tahun 1990an paradigmanya telah berubah dan terjadi fenomena baru).

Demonstrations that took place in the 1960s to 1980s, demonstrations were organized from large and prestigious campuses in Indonesia. The demonstration at that time involved academics and intellectuals.One of the leaders of the demonstrators at that time was Arief Budiman who personified himself as the “Begawan” of intellectuals, namely intellectuals who descended from their ivory towers when a crisis hit society. If things were normal, this person who called himself “begawan” would return to his campus Demonstrasi (Yang terjadi pada tahun 1960an hingga 1980an, demo-demo diorganisir dari kampus-kampus besar dan prestisius yang ada di Indonesia. Demonstrasi waktu itu melibatkan kaum akademisi dan intelektual. Salah satu pentolan pendemo pada saat itu adalah Arief Budiman yang mempersonifikasi dirinya berperan sebagai “Begawan” kaum intelektual, yakni kaum intelektual turun dari menara gadingnya ketika terjadi krisis yang melanda masyarakat. Kalau keadaan normal, orang yang mengatakan diri sebagai Begawan ini akan kembali ke kampusnya).

The myth of “begawan” is still alive today. But the reality today is very different. The elite demonstrators in the past have now become politicians, rulers, businessmen with fat work contracts and become intellectual elites whose voices are respected with reverence even though they have never thought about the interests of the nation. (Mitos “begawan” itu masih tetap hidup sampai saat ini. Namun kenyataan pada saat ini sangatlah berbeda. Para elit demonstran jaman dulu tersebut sekarang banyak menjadi politikus, penguasa, pengusaha dengan kontrak kerja yang gemuk dan menjadi elit intelektual yang suaranya diperhatikan dengan takzim sekalipun mereka tidak pernah berpikir untuk kepentingan bangsa).

In the early 1990s, demonstrations in the country occurred decadence, elite campus academics
many in Indonesia are technocrats who serve the ruling regime. Paradigm The students are starting to change, they come from middle class families such as businessmen, civil servants and soldiers /police . Of course most of them are pro-status quo. They are more interested in careers than politics. This is the era when being an engineer like Habibie or becoming an MBA becomes very prestigious (Diawal tahun 1990an demonstrasi di tanah air terjadi dekadensi, para akademis kampus-kampus elit
yang ada di Indonesia banyak menjadi teknokrat-teknokrat yang melayani rezim penguasa. Paradigma Para mahasiswanya mulai berubah, mereka berasal dari keluarga-keluarga kelas menengah seperti pengusaha, Pegawai Negeri (ASN) dan Tentera (TNI)/ polisi (POLRI). Tentu sebagian besar mereka menjadi pro-status quo. Mereka lebih tertarik pada karir dibandingkan berpolitik. Inilah jaman ketika menjadi insinyur seperti Habibie atau menjadi MBA menjadi sangat prestisius).

The paradigm of the students’ social movement has also changed. In every major campus, social movements are more relaxed, for example, when facing political repression, middle class students become very religious. Dutch- educated secular academics, apart from being retired, are also obsolete. The next generation is more interested in religion, especially Islam. The movement and revival of religion started from campuses in Indonesia, especially elite campuses (Pergerakan sosial para Mahasiswa paradigmanya juga berubah. Disetiap kampus-kampus besar pergerakan sosial lebih adem contohnya seperti ketika menghadapi represi politik, mahasiswi kelas menengah menjadi sangat religius. Akademisi sekular didikan Belanda selain sudah pensiun juga sudah usang ditelan zaman. Generasi berikutnya lebih tertarik pada agama, khususnya Islam. Pergerakan dan kebangkitan agama mulai dari kampus-kampus yang ada di Indonesia khususnya kampus-kampus yang elit.

At the same time, student movements outside the campus also emerged. They took a very different movement, namely the left-wing movement. Experiments of the socialist movement began. From off campus (Dalam waktu yang bersamaan juga muncul gerakan-gerakan mahasiswa di luar kampus. Mereka mengambil gerakan yang sangat berbeda, yakni gerakan haluan kiri. Eksperimen gerakan sosialis pun dimulai. Dari luar kampus).

This movement only briefly appeared until it was completely repressed by the New Order (Orde Baru) regime in 1996. On the other hand, the Islamic movement in elite campuses was getting stronger, the movement in the name of students was somewhat weakened.
(Pergerakan ini hanya sempat muncul sebentar hingga direpresi habis-habisan oleh rezim Orde Baru pada tahun 1996. Dilain pihak gerakan Islam kampus-kampus elit semakin kuat, gerakan yang mengatasnamakan mahasiswa agak melemah.

In such a situation the left faction in the student movement eventually became increasingly radical. Many of them gave up student attributes and became grassroots mass organizers.
(Dalam situasi seperti itu akhirnya Faksi kiri dalam gerakan mahasiswa menjadi semakin radikal. Banyak dari mereka melepaskan atribut mahasiswa dan menjadi organisator massa akar rumput).

As Suharto’s rule fell, the perpetrators of student actions were no longer concentrated in elite campuses. Many activists come from non-elite campuses. The character of the movement has changed. Tactics on the streets when doing demonstrations have changed (Menjelang detik detik kekuasaan Suharto runtuh , pelaku aksi-aksi mahasiswa tidak lagi terpusat di kampus-kampus elit. Banyak aktivis berasal dari kampus-kampus non-elit. Karakter gerakan pun berubah. Taktik di jalanan ketika melakukan demo pun berubah).

Previously, demonstrations carried out by students tended to avoid clashes with the apparatus, but in the last three years before President Suharto stepped down, the demonstrators tend to be more radical, the demonstrators are looking for ways to clash with the apparatus. They have prepared themselves well in several ways including carrying Molotov cocktails, burning tires, commando attacks and complete evacuation routes (Sebelumnya demonstrasi yang dilakukan para mahasiswa lebih cenderung menghindar dari bentrokan dengan para aparat, tetapi dalam tiga tahun terakhir menjelang presiden Suharto lengser , para pendemo cendrung lebih radikal, para demonstran justru mencari cara agar bisa bentrokan dengan aparat. Mereka telah mempersiapkan diri dengan baik dengan bebera cara diantaranya membawa bom molotov, ban-ban untuk dibakar, serangan terkomando dan lengkap dengan rute evakuasi).

Some people believe that this is the first time the ” brawl generation (Generasi Tawuran)” has appeared in demonstrations. This generation does not hesitate to carry out violence – both against the apparatus and against their opponents (Sebagian masyarakat meyakini bahwa inilah pertama kali kehadiran “generasi tawuran” dalam demo-demo. Generasi ini tidak segan-segan melakukan kekerasan — baik terhadap aparat maupun terhadap lawannya).

Violence such as physical clashes and physical attacks on security forces has become a “repertoire” in student actions. Indeed, most student actions can be carried out peacefully, for example, the demonstration that took place on Thursday, September 19, 2019, namely the action (movement) entitled “ReformasiDikorupsi”. However, it is not free from violence. During the protests there were many violent incidents involving demonstrators and security forces.
(Kekerasan seperti bentrok fisik dan serangan fisik kepada aparat keamanan sudah menjadi “repertoire” dalam aksi-aksi mahasiswa. Memang sebagian besar aksi mahasiswa bisa dilakukan secara damai misalnya seperti demonstrasi yang terjadi pada hari Kamis tanggal 19 September 2019 yaitu aksi (gerakan) yang bertajuk “ReformasiDikorupsi”. Namun itu pun tidak lepas dari kekerasan. Waktu protes-protes itu ada banyak insiden kekerasan yang melibatkan para demosntran dengan aparat keamanan).

On the other hand the security forces are also increasingly preparing themselves to deal with these demonstrators. The use of water and tear gas became very intensive to disperse the crowd. Also mobile motorized troops to anticipate violence.
(Dilain pihak aparat keamanan juga semakin mempersiapkan diri untuk menghadapi para demonstran ini. Pemakaian air dan gas air mata menjadi sangat intensif untuk membubarkan massa. Juga pasukan-pasukan bermotor yang mobile untuk mengantisipasi kekerasan).

In the last decade, there has also been a more recent phenomenon, especially in Jakarta, namely the involvement of high school and vocational high school students in student demonstrations. And on the field, they are even more brutal. Not infrequently demonstrations turn into a brawl (Dekade terakhir ini, ada juga fenomena yang lebih baru khususnya yang terjadi di Jakarta yaitu keterlibatan anak-anak sekolah menengah SMA dan SMK dalam demonstrasi- demonstrasi mahasiswa. Dan di lapangan, mereka lebih brutal lagi. Tidak jarang demo-demo berubah menjadi suatu ajang tawuran).

Even though the ‘repertoire’ of the movement has changed, in fact there are things that have not changed, namely the leaders of this demonstration. The perpetrators of violent demonstrations in the 1990s are now elite leaders in this country. They sit in parliament and in important institutions of government (Sekalipun ‘repertoire’ gerakan itu berubah, tetapi sesungguhnya ada hal yang tidak berubah, yaitu para pemimpin-pemimpin demo ini. Para pelaku demo dengan cara kekerasan pada tahun 1990an itu sekarang menjadi pemimpin-pemimpin elite dinegeri ini. Mereka duduk di parlemen dan di lembaga-lembaga penting dipemerintahan).

Ironically, they judge and at the same time label the student demonstrations today as an “anarchist” movement, as if their actions during the demonstrations were peace-loving movements such as Mahatma Gandhi’s teachings (Ironisnya, mereka menilai dan sekaligus melabelkan bahwa demonstrasi mahasiswa masa kini sebagai suatu gerakan yang “anarkis,” seakan akan tindakan mereka saat berdemo dahulu adalah gerakan Cinta damai seperti ajaran Mahatma Gandhi).

As the next generation of the nation, what can be learned from all these phenomena? the answer is a movement by demonstrating either by protesting with violence or without violence (love of peace), the reward in the future is the opportunity to gain power and or wealth (Sebagai generasi penerus bangsa apa yang bisa dipetik hikmahnya dari semua fenomena ini? Jawabanya adalah Suatu pergerakan dengan cara berdemonstrasi baik dengan cara protes dengan kekerasan ataupun dengan tanpa kekerasan (cinta damai), ganjarannya dikemudian hari adalah berpeluang untuk mendapatkan kekuasaan dan atau kekayaan).

Times have changed. Modes or ways of power are also changing. Most of that change is due to technology. And it is through technology that rulers form opinions, create preferences, create something scary and also create something to be loved (Zaman telah berubah. Mode atau cara berkuasa juga mengalami perubahan. Sebagian besar perubahan itu terjadi karena teknologi. Dan lewat teknologi itulah para penguasa membentuk opini, menciptakan preferensi, membuat sesuatu yang menakutkan dan juga membuat sesuatu yang harus dicintai).

Now This is what is called the age of ideas and inspiration. Politicians come to power by exploiting identity, creating anger and hatred based on that identity. In anger there is no imagination of goodness but imagination of hatred (Sekarang Inilah yang disebut dengan zamannya ide dan inspirasi. Para politisi berkuasa dengan mengeksploitasi identitas, menciptakan kemarahan dan kebencian berdasarkan identitas itu. Dalam kemarahan tidak ada imajinasi kebaikan kecuali imajinasi kebencian).

In order to maintain the integrity of the Unitary State of the Republic of Indonesia with the phenomenon and in the situation currently being faced by the nation, it is best at the same time to create ways to make the Indonesian people proud of the indicators and barometers of progressan example nation, such as the construction of an international circuit that is the pride of the nation, namely the Mandalika Circuit in Lombok, which makes the Indonesian nation more advanced by other countries, thus the people will love their nation, namely Indonesia. Indonesian people can be measured by the pride of the people towards their nation because the government has succeeded in bringing this nation to be recognized and admired by the worldsustainability , large dams and other strategic projects (Untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia “NKRI” dengan fenomena dan dalam situasi yang sedang dihadapi oleh bangsa saat ini maka sebaiknya pada Saat yang bersamaan juga menciptakan bagaimana caranya agar Masyarakat Indonesia bangga kepada indikator dan barometer kemajuan bangsa contoh seperti telah dibangunnya sirkuit internasional kebanggan bangsa yaitu Sirkuit Mandalika di Lombok yang menjadikan bangsa Indonesia dikena lebih maju oleh negara lain, dengan demikian maka rakyat akan cinta pada bangsanya yaitu Indonesia. Keindonesiaan masyarakat bisa diukur dari kebanggan masyarakat kepada bangsanya karena pemerintah telah berhasil membawa bangsa ini diakui dan dikagumi dunia contoh seperti selain terbangunnya sirkuit MotoGP Mandalika juga pembangunan Ibu Kota Negara (IKN), pembangunan jalan tol yang berkesinambungan , bendungan bendungan besar dan proyek strategi lainnya).

So when we have a leader with imaginative thoughts for the people in the future, we should be proud because an imaginative leader will bring Indonesia to be more just and prosperous because this republic was founded by the founding fathersnation to realize “social justice for all Indonesian people” (Demikianlah ketika Kita telah memiliki pemimpin dengan pemikiran yang imajinatif untuk masyarakatnya dimasa yang akan datang patut berbangga hati karena dengan seorang pemimpin yang imajinatif akan membawa Indonesia akan lebih adil dan makmur karena republik ini didirikan oleh founding fathers bangsa untuk mewujudkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia” ).

We already have a leader and an ‘influencer.’ And we are also a civilized nation, so we treat our leaders very well who are also influencers with populist policies in the future.
(Kita telah memiliki seorang pemimpin dan sekaligus seorang ‘influencers.’ Dan kita sebagai bangsa yang beradab maka kita juga dengan sangat baik memperlakukan pemimpin kita yang sekaligus sebagai influencers dengan kebijakan kebijakan yang populisme dimasa mendatang).

From the description above, the common thread of violence that occurred against an activist during the student demonstration event on Monday, April 11, 2022 in Jakarta ago, when connected with the entire system of government of our nation, every movement of an activist has,be part of a struggle for power in a country, including Indonesia (Dari uraian diatas maka benang merah kekerasan yang terjadi terhadap seorang Aktivis pada peristiwa demonstrasi mahasiswa pada hari Senin tanggal 11 April 2022 di Jakarta yang lalu bila dihubungkan dengan seluruh sistem pemerintahan bangsa kita maka setiap pergerakan seorang Aktivis sudah menjadi bagian dari suatu pertarungan untuk memperebutkan kekuasaan dalam suatu negara termasuk Indonesia).

Actually, it didn’t take long to find out the perpetrators of the violence that occurred to one of the activists during the student demonstration that took place on Monday, April 11, 2022, even though he voiced parallel aspirations but because of differences in habitat, it became an indicator. Therefore, there is a strong suspicion that the beating of the activists was carried out by the ranks of the opposition to the government (Sesungguhnya tidak butuh waktu yang lama untuk mengetahui pelaku kekerasan yang terjadi pada salah seorang Aktivis saat demonstrasi mahasiswa yang terjadi pada hari Senin tanggal 11 April 2022 yang lalu, walaupun menyuarakan aspirasi yang parerel tapi karena perbedaan habitat menjadi indikator terjadinya kekerasan itu, oleh karena itu maka kuat dugaan bahwa pengeroyokan Aktivis tersebut dilakukan oleh barisan oposisi pada pemerintah).

In Indonesia today the opposition to the government are often called “kadrun (Kadal Gurun)” or desert lizards. The meaning of this term is synonymous with small-brained lizards living in the desert a sarcastic metaphor for describing uncivilized people (Di Indonesia saat ini kaum oposisi pemerintah sering disebut “kadrun” atau kadal gurun. Makna Istilah ini identik dengan binatang kadal yang volume otaknya kecil, yang hidup di gurun sebuah metafor sarkastik untuk menggambarkan orang yang tidak beradab).

Even though for example Indonesia without any opposition does not mean that Indonesia is a country with an effective ‘cancelling’ method. Because Indonesia is one of the largest democratic countries in the world based on Pancasila and the 1945 Constitution (Walaupun misalnya Indonesia tanpa ada oposisi bukan berarti Indonesia suatu negara dengan metode ‘cancelling’ yang efektif. Karena Indonesia adalah salah satu negara Demokrasi terbesar didunia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45).

The public who are in line with the government always preach unity, tolerance and freedom of expression. They are at a high moral and civilized level and still respect the opposition which is often called “civilized than thou mentality” at the same time they remain tolerant of differences, the public who support the government recognize the existence of opposition groups because they tooIndonesian citizens. (Publik yang sejalan dengan pemerintah selalu mengkotbahkan persatuan, toleransi dan kebebasan berpendapat. Mereka berada di tataran moral yang tinggi dan beradab serta tetap menghormati para oposisi yang sering disebut “civilized than thou mentallity” pada saat yang bersamaan mereka tetap toleran dalam perbedaan, publik pendukung pemerintah mengakui keberadaan kelompok oposisi karena mereka juga warga negara Indonesia).

The perpetrators of physical violence during student demonstrations were provoked by verbal narratives supporting government programs that had been uttered by public supporters of the government. In addition, online educational narratives submitted by the government supporting the public towards some of the demonstrators with sufficient evidence that the demonstrators have been paid, packed rice and aqua mineral water have made the opposition public even more cornered and helplesstrigger the violence to occur (Para pelaku kekerasan fisik saat demonstrasi mahasiswa berlangsung terprovokasi oleh narasi verbal mendukung program pemerintah yang pernah diucapkan oleh publik pendukung pemerintah . Selain itu narasi edukatif online yang disampaikan oleh publik pendukung pemerintah terhadap sebagian para demonstran dengan bukti yang cukup bahwa para demonstran telah mendapatkan bayaran, nasi bungkus dan air minum mineral aqua yang membuat publik oposisi semakin terpojok dan tidak berdaya juga memicu kekerasan itu terjadi).

Of course, the public is not happy with the violence that befell an activist who voices the aspirations of his group and class which occurs because of the reflection of educational information in a narrative manner built by activists and their habitats (Tentunya publik tidak senang dengan kekerasan yang menimpa seorang Aktivis yang menyuarakan aspirasi kelompok dan golongannya yang terjadi karena akibat refleksi informasi edukatif secara naratif yang dibangun oleh Aktivis dan habitatnya).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button