Opini Publik

“93 Tahun Sumpah Pemuda”

Putu Suasta
Alumnus UGM dan Cornell University

Dua kali berturut-turut kita harus menyambut Hari Kemerdekaan dalam suasana tidak merdeka (baca: tidak bebas). Pembatasan-pembatasan aktivitas dan kewajiban menerapkan protokol kesehatan membuat banyak orang di negeri ini tidak bisa menikmati gegap gempita perayaan Hari Kemerdekaan seperti tahun-tahun lampau.

Setiap perayaan Hari Kemerdekaan dalam bentuk apapun tentulah dimaksudkan untuk membangkitkan atau merawat semangat nasionalisme. Kali ini upaya itu akan berlangsung kurang meriah, tetapi justru di masa ini kita memiliki kesempatan paling nyata untuk menyuburkan semangat tersebut.

Nasionalisme yang dimaksud di sini tentu bukanlah dalam bentuk patriotisme sebagaimana ditunjukkan oleh para pahlawan kemerdekaan yang rela mengorbankan nyawa demi negeri tercinta ini. Nasionalisme di era pembangunan, terlebih di masa pandemi ini, lebih bermakna kalau kita arahkan menjadi semangat solidaritas sosial dan kita selalu merdeka melakukannya.

Dengan pergerakan terbatas sekalipun, selalu ada peluang untuk bisa melakukan kebaikan-kebaikan kecil tetapi bermakna secara sosial di masa sulit ini, misalnya menyediakan satu bungkus nasi untuk mengurangi pengeluaran makan siang buruh kasar yang mungkin hanya mendapat jatah kerja beberapa kali seminggu sehingga pendapatannya praktis berkurang.

Baca Juga :  Pertumbuhan Organik Relawan Ganjar, Bukti Masyarakat Semakin Melek Politik

Bahkan dengan tetap tinggal di rumah, kita tetap bisa berbuat baik seperti memberi tip sedikit lebih besar dari biasanya kepada driver online yang mengantarkan pesanan kita karena omzetnya pasti berkurang karena order yang sepi.

Kebaikan-kebaikan kecil jika dilakukan bersama dalam semangat solidaritas sosial di masa sulit ini akan berdampak besar membantu negeri ini untuk segera pulih dari berbagai kesulitan akibat rongrongan pandemi Covid-19.

Bagaimanapun, negara tidak mungkin mampu untuk menjangkau semua warga yang sangat rentan secara sosio-ekonomi di masa pandemi ini.

Maka momentum Hari Kemerdekaan semestinya dapat lebih menggelorakan semangat solidaritas sosial sebagai wujud kokrit dari nasionalisme.

*Meredam Ego*

Umumnya, semangat nasionalisme masayarakat meninggi ketika muncul musuh bersama yang mecoba merongrong kemerdekaan atau kedaulatan sebuah negara. Di era perjuangan kemerdekaan, semangat itu bergelora karena adanya cita-cita bersama akan negeri merdeka, dan penjajah adalah musuh bersama yang menghalangi perwujudan cita-cita tersebut. Untuk tujuan itu, para pendahulu kita mengesampingkan kepentingan-kepentingan golongan dan daerah, agar terwujud sebuah bangsa yang padu melalui perjuangan bersama.

Baca Juga :  Tren ke Depan Itu Uang Digital, Bukan Lagi Kertas Apalagi Dinar Atau Dirham

Belajar dari para pendahulu kita, pandemi ini mesti ditempatkan sebagai musuh bersama dan untuk itu penting meredam ego-ego pribadi atau kelompok. Ada banyak sekali bentuk persoalan yang muncul dan mengemuka di tengah masyarakat akibat pandemi ini.

Jika tidak dihadapi bersama dalam semangat yang padu dan jika semua orang mendahulukan ego masing-masing, kerugian yang akan kita tanggung sebagai sebuah bangsa akibat pandemi ini akan lebih besar daripada kerugian akibat penjajahan.

Dalam usaha meredam ego dan menumbuhkan rasa solidaritas bersama, penting kita berkaca pada contoh-contoh baik yang telah dilakukan banyak orang sejak tahun lalu sebagaimana dengan mudah bisa kita temukan lewat media-media sosial atau media-media lain.

Di awal masa pandemi di Indonesia, muncul inisitif-inisiatif warga untuk membantu sesama yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari dan terus berlangsung hingga sekarang, salah satu di antaranya adalah bantuan makanan bagi mereka yang membutuhkan di mana penulis ikut ambil bagian kecil hingga sekarang.

Ketika alat-alat pelindung diri mulai langka, muncul inisiatif warga untuk membagikan secara gratis masker, hand sanitizer bahkan pakaian hazmat bagi petugas medis karena negara kesulitan menyadiakannya.

Baca Juga :  Yield Obligasi AS Beneran Turun, IHSG Kembali Menguat

Pada gelombang kedua serangan Covid-19 yang sempat membuat rumah-rumah sakit kehabisan stok tabung oksigen, muncul insiatif-inisiatif meminjamkan secara gratis tabung oksigen dan juga pengisian ulang secara gratis.

Relawan-relawan yang membantu distribusi obat-obatan, menyediakan transport gratis ke rumah sakit bagi pasien yang sakit juga layak dicatat.

Masih banyak bentuk insiatif dari orang-orang baik selama pandemi ini dan tentu masih dibutuhkan lebih banyak lagi orang baik atau yang memiliki solidaritas sosial. Ketika kemerdekaan kita terasa terhambat akibat berbagai pembatasan, kita selalu merdeka untuk bersolidaritas, untuk berbuat baik.

Wujudnya dapat bermacam-macam sebagaimana telah ditunjukkan di atas beberapa contoh sebagai inspirasi agar kita tidak terlena hanya memikirkan diri dan keluarga sendiri. Selalu ada banyak cara dan jalan untuk berbuat baik karena itu kita selalu merdeka melakukan kebaikan, untuk bersolidaritas. Dirgahayu Indonesia, Merdeka!

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: