Hukum

Dua Orang WNA Filipina Pelaku Skimming ATM di Ubud Dideportasi

JBM.co.id, Jakarta – Rudenim (Rumah Detensi Imigrasi) Denpasar kembali melakukan pendeportasian terhadap 2 (dua) Orang WNA (Warga Negara Asing) berasal dari Filipina, berinisial YATA dan ADSA, pada Minggu (12/9/2021).

Kakanwil (Kepala Kantor Wilayah) Kemenkum HAM Bali, Jamaruli Manihuruk mengungkapkan, kedua WNA tersebut, dideportasi karena telah melanggar Pasal 75 ayat (1) UU RI No. 6 Tahun 2021 tentang Keimigrasian Jo Pasal 30 ayat (2) dan Jo Pasal 46 ayat (2) UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang kemudian 2 (dua) WNA tersebut, telah dideportasi dan diusulkan, untuk dimasukan kedalam daftar penangkalan Direktorat Jenderal
Imigrasi.

Baca Juga :  Pelaku Pembunuhan Wanita Muda Asal Bandung Temui Titik Terang

Disebutkan, keduanya dideportasi, pada pukul 13.00 WIB melalui Gate 4 Terminal 3 Bandara International Soekarno Hatta, dengan menggunakan maskapai Philippine Airlines, dengan nomor penerbangan PR540 rute Jakarta (CGK) – Ninoy Aquino (MNL).

Dijelaskan, sebelumnya, kedua WNA tersebut, berangkat dari Rudenim Denpasar dengan pengawalan
petugas dari Rudenim Denpasar menuju Bandara International Ngurah Rai Bali dan selanjutnya, diterbangkan menuju Jakarta menggunakan Peasawat Batik Air, pada pukul 08.00 WITA.

Baca Juga :  HUKUM: JANDA DI DEPEHA DIRAMPOK DAN DIBUNUH DI TOKONYA

Diketahui sebelumnya, kedua WNA tersebut, datang ke Bali, pada tanggal 4 Februari 2020 dengan menggunakan Bebas Visa Kunjungan. Keduanya, sempat ditahan selama 1 tahun 6 bulan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Kerobokan, karena telah melakukan tindak kriminal, yaitu Skimming ATM di daerah Ubud.

Lebih lanjut, Kakanwil Jamaruli Manihuruk memaparkan, setelah dinyatakan bebas, pada tanggal 12 Juli 2021, kedua WNA tersebut, dijemput oleh petugas Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai, untuk dilakukan pemeriksaan Keimigrasian.

Baca Juga :  Kakanwil Jamaruli Manihuruk Dukung Seminar Keliling, dalam Tingkatkan Pemahaman Kekayaan Intelektual

“Pada tanggal 15 Juli 2021, kedua WNA tersebut, diserahkan kepada Rudenim Denpasar, untuk dilakukan proses pendetensian, selama 4 bulan, dalam rangka menunggu proses pendeportasian ke Negara asalnya”, pungkasnya. (Red/Ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: