JBM.co.id, Denpasar – Pengurus Daerah Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PD PDDI) daerah Bali memberi edukasi sosial, sekaligus menggalang Terapi Plasma Konvalesen (TPK), dalam menunjang kebutuhan plasma konvalesen di Bali.

Diketahui bahwa penerapan donor ini, merupakan plasma darah dan itu diambil dari pasien yang terdiagnosa Covid-19 serta sebelumnya juga sudah 14 hari dinyatakan sembuh atas infeksi Covid-19, individunya ditandai lewat pemeriksaan Swab memakai RT-PCR sebanyak 1 kali dengan hasil negatif,” ungkapnya.

“Kami memanggil saudara-saudara kita yang pernah terkena Covid-19, yang tergabung dalam TPK (Terapi Plasma Konvalesen).

Hari ini, Kamis (29/4/21), pendonor plasma konvalesen berjumlah 61 orang. Selain itu, kami wujudkan rasa syukur dan terima kasih untuk menghidupkan kembali “Lentera Donor Darah”, bagi mereka yang sudah kena Covid-19, untuk bersedia menjadi pendonor reaktif, walaupun itu, hanya bisa terbatas tiga bulan,” ujar Ketua PD PDDI Bali, Ketut Pringgantara didampingi Sekjen PDDI Bali I Wayan Gede Suardana, dan Dr. Ir Gede Suarta, M.Si., dari Pengurus PDDI Bali, bertempat di Wantilan Bali TV, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar, pada hari Kamis (29/4/21).

“Individu yang sebelumnya terkena Covid-19 dan dinyatakan sudah sembuh, dapat memberikan donor darah, untuk didonorkan terhadap individu lain yang membutuhkan, melalui PD PDDI Bali,” ungkap Ketut Pringgantara.

“Sifat dari donor plasma konvalesen hanya dilakukan sekali, seumur hidup, dengan harapan penerima darah kembali sehat. Rata-rata plasma konvalesen menyasar penerima pasien Covid-19, bergejala berat dan jiwanya sudah terancam.

Hasilnya menjadi lebih baik, bila diberikan kurang dari 14 hari atau saat timbul gejala, sementara, antibodi pasien yang sudah sembuh, bekerja sebagai imunisasi pasif terhadap pasien dimaksud,” jelas Ketut Pringgantara.

“Nilai tambah pendonor plasma konvalesen adalah mereka yang sudah sembuh, mereka yang sudah berjuang dari rasa sakit, kemudian bisa berdonor.

Mereka sakit dan mereka disembuhkan oleh rasa sakit itu dan mereka dapat menyumbangkan darah,” imbuhnya, yang didukung donatur kegiatan Maria Wijaya, A.A. Sri Utari Naradha, dan I.B.Gde Widyana, ST.

Pengalaman Ketut Pringgantara, dari kisah-kisah pendonor darah atau penyintas perkumpulan Covid-19 di tengah pandemi, banyak diantara pendonor muncul atas rasa kemanusiaan.

Mereka menyumbangkan plasma konvalesen, kemudian menceritakan tindakan yang dilakukannya, sehingga timbul niatan orang lain, turut membantu mendonorkan plasma konvalesen. Pendonor dari penyintas Covid-19 diutamakan laki-laki dan berkriteria, selain sudah sembuh dari Covid-19 dan tidak pernah ditransfusi,” tuturnya.

“Sampai saat ini, kebutuhan transfusi darah masih diperlukan tenaga medis di rumah-rumah sakit di Bali, maka dari itu PD PDDI Bali terus bergerak, untuk sesama umat manusia,” bebernya.

“Kami hanya memiliki semangat untuk ngayah, dengan donor darah, kami bisa menceritakan kesehatan kami.

Ke depannya bisa dilanjutkan lagi donor darah, tidak terhenti usai memperoleh penghargaan saja,” tandasnya. (Red/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here