by : Prof. Dr. IP Sudiarsa Boy Arsa, Ph.D
(Guru Besar & Senior Partner Universal Institute of Professional Management, California-USA)

Pengikut (Followers) mafia kelas kakap Amerika “Charled Manson” melakukan pembantaian dan pembunuhan yang keji, ternyata yang menjadi arsitek dan menyusun script pembunuhan adalah Charles Manson sendiri, (He didn’t commit any of those murders).

Kekerasan yang ingin dilakukan oleh seorang figur yang bertaraf Internasional (international platform) dideskripsikan dengan menciptakan Naskah tentang kekerasan (scripted violence) yang akan dilakukannya.

Bumi Nusantara diselimuti oleh the rhythm of terror (ritme teror), kita bisa menghitung Jumlah peristiwannya dalam setahun ini (the number of attacks within a year). Tujuannya bermacam macam, ada target publisitas, kalender politik dan yang paling mengerikan Teroris berdasarkan ukuran barisan teroris itu sendiri. (by the size of the terrorist ranks).

Implementasi The rhythm of terror itu antara lain Adanya beberapa rangkain teka teki pristiwa misalnya problematik Jakarta, Kasus Richard Joost Lino, bos semen bosowa Sadikin Aksa jadi tersangka, dan Polemik Partai Demokrat, sehingga Wakil Presiden ke-10 dan ke-12
“Jusuf Kalla” pun ikut berucap dengan kalimat ternyata Tak hanya Gereja saja yang jadi target terorisme.

Untuk kasus teroris murni adalah peristiwa Lone Wolf Terrorist menyerang mabes Polri Trunojoyo hanya oleh satu orang saja yang berjuang dengan tujuan untuk membantu kebebasan orang lain, pada tahun 2010 fenomena semacam ini pernah diungkapkan oleh seorang konsultan terkemuka pemerintah Israel dalam penanggulangan teroris “Baoz Ganor”, dengan kalimat “One Man’s Terrorist is another man’s freedom fighter” (teroris satu orang adalah pejuang’ kebebasan orang lain) dan Teror adalah instrumen politik (Terror is a political instrument) serta Definisi global terorisme adalah “violence I don’t Support” (Kekerasan yang tidak saya dukung).

Pada tahun 1983 pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri nya telah mendeskripsikan dan mendifinisikan tentang Teroris sebagai berikut “terrorism is premediated, politically motivated violence perpetrated against noncombatant targets by sub-national groups or clandestine agents, usually intended to influence an audience”.
(Terorisme adalah kekerasan yang dimediasi sebelumnya dan bermotif politik yang dilakukan terhadap target non-kombatan oleh kelompok sub-nasional atau agen klandestin, biasanya dimaksudkan untuk mempengaruhi penonton). Deskripsi dan difinisi tentang Teroris ini telah dibaca dan sekaligus telah diterima oleh seluruh negara di dunia.

Dilain pihak British State Security Service MI5 mendeskripsikan tentang Teroris sebagai berikut Teroris adalah
” The use of violence and threats of violence to publicise their causes and as means to achieve their goals. Their aim to pressure governments but reject democratic processes, or even democracy itself” (suatu gerakan yang menggunakan kekerasan dan ancaman kekerasan setelah itu mereka dengan sengaja mempublikasikan penyebab dari kekerasan itu untuk menekan pemerintah yang sah dan menolak proses demokrasi bahkan menolak demokrasi itu sendiri sehingga tercapai tujuan utama gerakannya dengan sukses ).

Umumnya terorisme tidak bisa hidup dinegeri otoriter ( Authoritarian Governments) tetapi bisa berkembang dinegeri yang menganut demokrasi.

Yang ikut mengembang biakan dan membangun “Virtual Communities of Hatred” (komunitas virtual kebencian) Lintas negara Tanpa ada batas dan penyekat (Borderless) sehingga teroris dari berbagai lokalitas dan negara dengan sangat mudah terkoneksi untuk mempromosikan kebencian terhadap minoritas dan kelompok luar lainnya (Other Out-Groups) adalah Media, komunikasi massa (mass communication), wacana publik ( publicdiscourse) dan teknologi internet

Saat ini ada lima golongan dan gelombang terorisme antara lain
1.Golongan dan gelombang anarkis.
2 Golongan dan gelombang anti kolonial (nasionalis-separatis).
3. Golongan dan gelombang kiri baru (revolusioner sosial)
4. Golongan dan gelombang Religius yaitu golongan dan gelombang yang dekade 10 tahun terakhir ini sering terjadi.
5. Golongan dan golongan Teroris dengan fenomena terbaru yaitu golongan dan gelombang teroris serigala tunggal, modus ini diradikalisasi oleh Internet, mereka merasa termasuk dalam komunitas virtual yang penuh kebencian tersebut ( five waves of terrorism: Anarchist wave, Anti-Colonial wave (nationalist-separatist), New Left wave (social revolutionary); and now the Religious wave. Latest phenomenon the fifth wave: lone wolf terrorists. the mode is self-perpetrated by the internet and feel they belong to the virtual community of hatred).

Adalah Erica Chenoweth seorang ilmuwan politik Amerika, profesor kebijakan publik di Harvard Kennedy School dan Radcliffe Institute for Advanced Study dan rekannya Pauline Moore dikenal karena penelitian mereka tentang gerakan perlawanan sipil tanpa kekerasan dengan karya sepektakulernya yang berjudul “The Politics of Terror” menggagas “proporsionalitas” sebagai prinsip penuntun kontraterorisme dalam “istilah moral dan strategis”. Yaitu
Perpaduan yang tepat antara hard power dan soft power untuk Keseimbangan moral dan keseimbangan strategis (“The Politics of Terror” by Erica Chenoweth and Pauline Moore have an idea
“proportionality” as guiding principle for counterterrorism in “both moral and strategic terms”.
The right mix of both hard and soft power, The moral and strategic equilibrium.

Konsep Erica Chenoweth dan Paulina Moore ini bisa diimplementasikan dengan cara vertikal dan herisontal, Secara vertikal dengan akseptabilitas dan legitimasi yaitu penggunaan instrumen represif di negara liberal demokrasi seperti di Indonesia dan
Secara horizontal dengan jalan dan gerakan baru seperti aktivis kemanusiaan, LSM, Pemimpin politik, sarjana terorisme, mahasiswa dan praktisi harus merilis dan mengaplikasikan dalam aktivitasnya apa yang sering disebut oleh Philippe-Joseph Salazar dengan istilah ‘Words are Weapons’ (Vertically, the acceptability and legitimacy use of the instrument repressive in a liberal democratic country like Indonesia
and horizontally, new avenues like a humanitarian activist, NGO, Political leaders, scholars on terrorism, students and practitioners must release what has been mentioned by Philippe-Joseph Salazar dengan istilah ‘Words are Weapons).

Selanjutnya patahkan pengaruh ideologi teroris yaitu dengan memaksimalkan kontra narasi terhadap gagasan populer dan gagasan yang salah tentang ekstrimisme serta Hentikan dengan segala cara masalah perekrutan pengikutnya seperti yang dilakukan pada masalah terorisme Hindu atau Saffron yang sedang berkembang di India.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here