JBM.co.id, Denpasar – Berkenaan beredarnya video viral di media sosial oleh seorang wanita bergelar Doktor, yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Kewirausahaan dan Karir Mahasiswa Uhamka, membuat beragam reaksi oleh netizen atau warga net.

Video tersebut mendadak viral, karena diduga meresahkan umat Hindu, dengan adanya poin penistaan agama.

Dalam video tersebut, yang ternyata, diketahui seorang mualaf Hindu, bernama Desak Made Darmawati, S.Pd.,MM., yang memuat sejumlah kesaksiannya, hingga akhirnya Desak Made berpindah keyakinan dan memutuskan menjadi seorang muslim.

Kesaksian bersangkutan, ditayangkan pada YouTube channel Istiqomah TV, yang beredar di media sosial, pada hari Kamis (15/4/21), dengan link YouTube: https://youtu.be/NGntY3MD3mY, yang saat ini, video tersebut, dalam kondisi private atau tidak dapat diakses publik kembali.

Dalam kesaksiannya, Desak Made merasa kebingungan, karena ketika memeluk agama sebelumnya, disebutkan banyak Tuhan dan merasa ketakutan, bahkan merinding sakit panas dingin, ketika menyaksikan upacara ngaben.

Lebih lanjut, dalam kesaksiannya, Desak Made menyebutkan bahwa, Bali sebagai salah satu tempat setan terbesar di dunia, selain India, Korea dan Cina.

Kesaksiannya, yang menyinggung umat Hindu berbuntut panjang. Pasalnya, aliansi masyarakat Bali, yang tergabung dalam Ksatria Keris Bali, yang dikomandoi oleh I Ketut Putra Ismaya Jaya atau akrab disapa Jero Bima mendatangi Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus), Subdit V Cyber Crime Polda Bali, guna melaporkan Desak Made atas dugaan penistaan agama, pada hari Jumat (16/4/21).

“Kami sudah melakukan koordinasi dan proses pelaporan, didampingi kuasa hukumnya, I Nyoman Agung Sariawan,SH. Tadi ada beberapa hal, yang disampaikan oleh tim penyidik dari ITE, ada ketentuan yang harus dipenuhi,” ucap Ketua Ksatria Keris Bali, I Ketut Putra Ismaya Jaya, dihadapan awak media di Polda Bali, Jumat (16/4/21).

“Jadi ada beberapa unsur, yang belum dipenuhi. Contohnya, siapa awal yang menyebarkan dan video ini dari mana asalnya,” ungkap Jero Bima.

Dilanjutkan oleh penyidik, masih dipertanyakan awal mula video tersebut, disebarkan dalam konteks umum atau sifatnya intern.

Masalah ini dilaporkan dalam kasus penistaan agama. Sesuai pasal 156, delik aduannya harus dilaporkan di Jakarta, untuk memenuhi unsur tersebut.

Dalam pelaporan selanjutnya, Jero Bima akan berkoordinasi dengan Aliansi “Nyame-Nyame” Hindu yang ada di Jakarta, agar memproses pelaporan ini,” jelasnya.

Sementara, Kuasa Hukum Ksatria Keris Bali, I Nyoman Agung Sariawan, SH., menyatakan beberapa unsur harus dipenuhi dalam pelaporan tersebut.

“Dari segi tindak pidana umum, dimana tindak pidana dilakukan, didaerah sana yang harus dilakukan, maka ditariklah di Mabes Polri.

Terkait dengan UU ITE, dimanapun bisa dilakukan pelaporan, namun, penyebar utama yang wajib melaporkan. Diakuinya, datanya kurang, sehingga kita lebih banyak diskusi disana dan masih dipelajari oleh pihak penyidik,” pungkas Agung Sariawan. (Red/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here