oleh
Prof. Dr. IP Sudiarsa Boy Arsa, Ph.D (Guru Besar & Senior Partner Universal Institute Of Professional Management California -USA)

Pilar baru “Onkoterapi”, adalah sebuah sistem untuk Meminta Protokol Kemoterapi (a newly added pillar of “Oncotherapy”, a system for Requesting Chemotherapy Protocols) dan imunoterapi (immunotherapy) adalah metode terbaru untuk memerangi kanker (to combat cancer)

Ilmuwan William Coley founder of cellular immunity (pendiri imunitas seluler) memperkenalkan konsep Imunoterapi sementara itu ilmuwan Paul Ehrlich adalah founder of humoral immunity (pendiri imunitas humoral).

Terapi sel Adoptive T (ACT), terapi vaksin Dendritic Cell (DC), dan terapi sel Natural Killer (NK) selalu digunakan pada saat Imunoterapi seluler (cellular immunotherapy)

Dilain pihak UCLA melakukan riset Dendritic Cell Immunotherapy, setelah itu pengetahuan Dendritic Cell ini dibawa ke negara India oleh APAC Biotech Company. pengembangan aplikasi pengobatan sel Dendritik ini juga dilakukan oleh Kolaborasi Nimbus Therapeutics & Celgene.

Dari pengembangan aplikasi yang dilakukan oleh Nimbus Therapeutics & Celgene ini diteliti oleh San Diego Research, University of California untuk memastikan keefektifan Vaksin Kanker Sel Dendritik (University of California San Diego Research Work confirmation efficacy Dendritic Cell Cancer Vaccines).

Dr. Gay Crooks adalah seorang ilmuwan kesehatan yang berprofesi sebagai developmental immunologist yang fokus melakukan riset khusus soal sel induk ( Hematopoietik manusia (human Hematopoietic Stem Cells) sebelum wabah Covid-19 menjangkit seantero bumi (in normal times)

Pada waktu melatih (training) program PhD di UCLA’s STAR (PhD to UCLA’s STAR program), Dr. Christopher Seet mengembangkan metode memproduksi sel dendritik dari sel induk, setelah pandemi Covid-19 melanda dunia Christopher Seet mengurangi kegiatan untuk memproduksi sel dendritik tersebut karena mengarahkan keahliannya untuk meneliti dan mempelajari Covid-19 versus sel dendritik dengan targetnya menemukan vaksin paling ampuh.

Amerika dan Cina sedang bersaing untuk mengembangkan Metode Vaksin berbasis sell Dendritik sehingga Celartics Biopharma telah mematenkan Cov-DCVax, vaksin dengan berbasis pada flatform dendritic cell (DC)-based pada tanggal 22 Mei 2020.

Perkembangan imunoterapi berbasis sel dendritik (dendritic cell-based immunotherapy) di level global diteliti dan diamati juga oleh Dr. Terawan. Indonesia berlomba Adu-cepat dengan China dan Amerika untuk menemukan strategi pengobatan yang bisa melawan Covid-19 yaitu Sebuah terapi-vaksin yang bisa menghasilkan kekebalan jangka panjang (long-lasting immunity) dalam tubuh, sementara itu diinternal terjadi
“The Fight is in us”

Hipotesis ini diberi judul dan disebut dengan “Dendritic cell vaccine immunotherapy; the beginning of the end of cancer and COVID-19.” (Imunoterapi vaksin sel dendritik; awal dari akhir kanker dan COVID-19) oleh ilmuwan Amal Kamal Abdel-Aziz dan Mona Kamal Saadeldin

Beberapa para ahli dan lembaga Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yang baru tau soal “Dendritic cell” dari Dr Terawan, telah menghambat proses riset dan pengembangan flatform strategi terapi berbasis Dendritic Cell (Dendritic Cell-based therapy) Ini.

Sesungguhnya Terapi vaksin Dendritic Cell (DC) ini akan mengubah landscape market vaksin secara besar besaran yang saat ini masih dikuasai dan didominasi farmasi raksasa, dari gambaran itu ada indikasi beberapa pihak yang tidak senang dan tidak rela bila Indonesia menjadi Leading-Player (pemain utama) dan terkemuka guna mencari solusi untuk mengalahkan Covid-19 yang melanda dunia ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here