Perempuan bisa menjadi aktor strategis di dalam pembangunan. Tidak hanya pembangunan di desa-desa, tetapi juga pembangunan secara nasional yang dapat mengubah kehidupan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik dan sejahtera.

Hal itu disampaikan Luh Hesti Ranita Sari, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buleleng, Bali.
Menurut Rani, demikian karib disapa, seiring berjalannya waktu, perempuan mulai bangkit dan berhasil membuktikan bahwasanya keberadaan mereka layak untuk diperhitungkan. Kecerdasan serta kepiawaian perempuan-perempuan Indonesia, khususnya, tidak bisa lagi dianggap remeh karena telah turut berkontribusi terhadap pembangunan.
“ Peran perempuan, tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Dalam kedudukan sebagai subjek pembangunan, pria dan wanita mempunyai peranan yang sama dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan menikmati hasil pembangunan. Hak yang sama di bidang pendidikan misalnya, anak pria dan wanita mempunyai hak yang sama untuk dapat mengikuti pendidikan sampai ke jenjang pendidikan formal tertentu,” kata Hesti Ranita Sari, kepada Forum CEO.
Ia mengatakan, kaum perempuan adalah aset, potensi, dan investasi yang penting bagi Indonesia, yang dapat berkontribusi secara signifikan, sesuai kapabilitas dan kemampuannya.
“Dalam konteks pembangunan, pengarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan sangat erat kaitannya dengan memperbaiki kualitas generasi berikutnya, mengingat perempuan adalah pendidik pertama di keluarga,” ujarnya.
Menurut Luh Hesti Ranita Sari, bahwa pengarusutamaan gender sangat berperan penting dalam strategi pembangunan.
Srikandi Demokrat asal Desa Tamblang, Kecamatan Kubutambahan itu menjelaskan, kesetaraan gender dalam bidang perencanaan dan pembangunan di daerah merupakan hal yang sangat penting.
“ Pembangunan pengarusutamaan gender (PUG) merupakan suatu strategi yang bertujuan untuk menjamin tercapainya kesetaraan dan keadilan gender, yaitu memastikan bahwa masyarakat yang terdiri dari laki-laki, perempuan, anak dan disabilitas memperoleh akses, partisipasi, kontrol dan manfaat yang sama dari kebijakan dan program kegiatan diberbagai bidang kehidupan dan pembangunan,” terangnya.

Baca Juga :  Harmoni Desaku

Tak kalah penting, kata dia, tujuan dari pengarusutamaan gender adalah untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender.
“ Pengarusutamaan gender harus lebih diperhatikan kembali dan direalisasikan secara menyeluruh, karena perwujudan kesetaraan dan keadilan gender sangat berpengaruh dalam pembangunan daerah,” ujar Rani.
Sebagai wakil rakyat, Rani berharap agar peran perempuan dalam pembangunan di Kabupaten Buleleng khususnya, harus terus ditingkatkan. Dengan begitu, arah pembangunan akan lebih pro perempuan dan semakin menjamin pemenuhan hak-hak kaum perempuan.
“ Perempuan memiliki potensi yang strategis dalam meningkatkan peran sertanya dalam pengambilan kebijakan dan pembangunan. Selain peran itu dapat diwujudkan melalui pembangunan sumber daya manusia, juga dalam ketahanan keluarga dan kualitas keluarga. Maka perempuan sangat penting dalam kemajuan bangsa,” katanya.
Lebih lanjut Rani mengatakan, peran perempuan dan ibu terus didorong dalam kegiatan pengambilan kebijakan dan pembangunan daerah. Terutama dalam pembangunan sumber daya manusia, karena ibu adalah guru bagi kita semua yang tidak mengenal lelah mendidik anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
“Perempuan tidak boleh takut berkarier, bahkan menjadi pimpinan baik dalam suatu kelompok, perusahaan, maupun pemerintahan. Stigma gender yang negatif terhadap perempuan saat ini sudah terkikis seiring pengetahuan masyarakat tentang perempuan. Perempuan tidak berbeda layaknya laki-laki yang memiliki potensi serta kesempatan yang sama untuk berkembang,” tutur Hesti Ranita Sari.
“Makin banyak perempuan yang dipercaya untuk memegang posisi penting, baik di pemerintahan, politik termasuk menjadi pimpinan BUMN, merupakan bagian dari potret kemajuan sumber daya manusia suatu bangsa,” ungkap Rani.
Rani mengungkapkan, di bidang politik, misalnya, bahkan telah diatur dalam UU yang memberikan persyaratan minimal 30% calon legislatif perempuan dari satu partai politik, untuk bisa bersaing di panggung politik pemilu legislatif.
Pada era ini, lanjutnya, tidak boleh lagi ada sentimen gender di balik kebijakan. Tujuannya untuk memberdayakan perempuan.
“Perempuan bukan kompetitor bagi pria atau sebaliknya. Keduanya merupakan dwitunggal yang harus diberikan kesempatan yang sama untuk membangun bangsa,” pungkasnya.

Baca Juga :  Jurnalis Senior Hotman Simanjutak : Menekuni Jurnalistik Tak Kenal Batas Waktu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here