JBM.co.id, Denpasar – Gases Bali lewat Gases Film mengadakan acara Press Conference Karya film berjudul “Kapandung” A Stolen Life” dengan pemerhati film dan sejumlah awak media, bertempat di gedung bioskop, Darma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar, pada hari Minggu (11/4/21).

Karya film “Kapandung” yang rencananya akan segera ditayangkan di Bioskop ini, digarap oleh Executive Producer & Story, Dr. Komang Wirawan,S.Sn.,M.Fil.H., dan Director, Johan Wahyudi.

Executive Producer & Story, Dr. Komang Wirawan, S.Sn., M.Fil.H., menyatakan bahwa, pemeran Film “Kapandung” didukung oleh para seniman Bali, diantaranya Jero Mangku Serongga sebagai I Gejer, Ocha Dianti sebagai Luh Sekar dan I Wayan Mendra sebagai Bendesa Kedampal. Pemeran lainnya adalah Ngurah Senger (Ngurah Bringas), Jro Widya (Tu Biang Pelung), Wayan Marya (Jero Mangku Dalem Kedampal) dan juga ada nama-nama pendukung lainnya, seperti Jero Mangku Sukra, Kaki, Gapul, Kiwi, Gek Kinclong Rumasih dan Putra,” bebernya.

Seperti diketahui, Dr. Komang Indra Wirawan, S.Sn.,M.Fil.H.,
yang biasa dipanggil Komang Indra Gases, lahir di Denpasar, 17 Januari 1984 dan telah aktif berkiprah dalam dunia seni & budaya, yang saat ini, menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Mahadewa Indonesia dan juga Ketua Yayasan Gases Bali.

Selanjutnya, Komang Indra Gases, menambahkan bahwa, film “Kapandung” dimaknai dari dua sisi, yaitu Sekala dan Niskala. “Ada keyakinan, masyarakat Hindu di Bali, masih percaya, ketika “Arca Pretima” yang disucikan dicuri, itu “Kapandung” atau kehilangan dan juga salah satu tokoh yang ada di Desa Kedampal merasa kehilangan akan sanak keluarganya. Itu yang dimaksud dengan “Kapandung” yang artinya kehilangan, jika dimaknai Sekala Niskala,” jelas Komang Indra Gases.

Lebih lanjut, dijelaskan, bahwa Kapandung “A Stolen Life Film” mengangkat kisah kehidupan I Gejer, seorang saksi yang berhasil selamat dari sebuah bencana alam dahsyat, yaitu meletusnya sebuah gunung di tahun 1960-an. Bencana tersebut telah merenggut keluarga, kehidupann dan membawanya terdampar di suatu tempat.

“Beberapa tahun kemudian, pasca bencana, I Gejer menemukan dirinya hidup sebatang kara dan sakit-sakitan melakoni hidup sebagai seorang “Juru Pencar” ditempat baru, hingga suatu hari, Ia menemukan sebuah “Topeng Usang” terdampar di pantai dan dibawanya pulang,” terangnya.

“Sejak Topeng tersebut disimpan dirumahnya, banyak kejadian aneh bermunculan,hingga pada hari, I Gejer bermimpi soal Topeng dan diketahui bahwa Topeng tersebut bukanlah benda sembarangan, melainkan sebuah “Benda Suci” atau “Sesuhunan” yang dimuliakan di satu desa nun jauh diseberang laut.

Pada suatu hari, I Gejer yang dalam keadaan sakit keras, didatangi oleh utusan dari Desa Kedampal, yang bertujuan untuk mencari Topeng Sesuhunan milik desa Kedampal yang hilang, berdasarkan “Pawisik” yang diterima oleh pemangku di Desa Kedampal.

Pertemuan utusan dari Desa Kedampal dengan I Gejer mengungkap banyak fakta, yang menjelaskan tentang asal muasal kehidupan I Gejer, yang ternyata sahabat lamanya yang terpisah, karena bencana. Dalam pertemuan itu, juga terungkap, I Gejer masih memiliki cucu yang selamat dari bencana dan tumbuh menjadi seorang gadis. Utusan tersebut berjanji akan mempertemukan Sang Nelayan dengan cucunya nanti, pada saat menjemput “Topeng Sesuhunan”.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, akibat sakit, “Sang Nelayan” bertemu dengan cucunya dan menyerahkan “Topeng Sesuhunan”.

Pertemuan antara Kakek dan cucu yang telah sekian lama terpisah merupakan alur perjalanan takdir yang terbentang, bak jalan gelap berliku dengan “Topeng Sesuhunan” sebagai pelita yang menuntun dan menerangi manusia menjalani karma kehidupannya.

Saat “Topeng Sesuhunan tersebut, kembali ke Desa Kedampal, kehidupan masyarakatnya berangsur tentram, aman dan damai. Keyakinan dan keteguhan hati masyarakat Desa Kedampal terhadap “Ida Sesuhunan” merupakan suatu simbol harmonisasi antara “Alam, Manusia dan Sang Pencipta”.

Demikian dijelaskan Komang Indra Gases, terkait Sinopsis film “Kapandung”, yang intinya, menjaga keharmonisan yang ada di Bali, agar seni dan budaya Bali tetap eksis. “Pada prinsipnya, kita orang Bali mampu bersaing di ranah Nasional, bahkan Internasional,” ungkap Komang Indra Gases.

Menurutnya, film ini telah digarap kurang lebih 3,5 bulan, yang hingga kini, budget yang dikeluarkan telah tembus di angka 165 juta dan sekarang, masih dalam tahap pengeditan,” ungkapnya.

Mengenai target penonton, Komang Indra Gases berharap, melebihi target produksi film sebelumnya “Nyungsang”, yang tembus sekitar 15 ribu penonton.

“Target penonton, seperti yang telah berlalu, film “Nyungsang”, kemarin tersebut, tayang 10 hari, yang 1 hari tayang hingga 5 kali. Astungkara, target penonton di Bali, sekitar 15 ribu penonton dalam 10 hari. Film “Kapandung”, Semoga melebihi dari 15 ribu penonton,” harap Komang Indra Gases.

“Film sebelumnya telah ditayangkan di 4 Negara, sekarang ini, rencananya, kita tayangkan lebih dari 4 Negara. Kita berusaha semaksimal mungkin mencapai target tersebut. Kami juga berharap, film “Kapandung” bisa ditayangkan di bioskop-bioskop seluruh Indonesia, bahkan bisa tayang hingga keluar negeri,” pungkas Komang Indra Gases. (Red/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here