JBM.co.id, Gianyar – Stigma miring masyarakat terkait keberadaan lapas atau rutan harus segera diubah. Kasubsi Pelayanan Tahanan (Yantah), Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Gianyar, A.A. Gde Putra Arimbawa,S.Sos., mengatakan bahwa, lapas atau rutan bukan hanya sebagai tempat terpidana / tersangka ditahan atau menjalani masa hukuman pidana, akan tetapi, bisa dijadikan sebagai tempat pembinaan Narapidana atau Tahanan, yang berorientasi pada produktivitas.

Hal ini, dikatakan Kasubsi Yantah, Gde Putra, saat ditemui wartawan jbm di ruang kerjanya, kamis (1/4/21).

“Kami contohkan, dimana seorang Narapidana atau tahanan dalam menjalani masa hukuman pidana, ditanggung biaya hidup oleh Negara, sebesar Rp.20.000,00 (dua puluh ribu rupiah) per hari, untuk biaya makan. Untuk menutupi pengeluaran dana tersebut, kami melakukan berbagai kegiatan kemandirian, yang minimal menghasilkan Rp.20.000,00 per hari, untuk mengurangi beban Negara.

Disamping itu, juga harus dilengkapi dengan sarana beserta prasarana yang memadai,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dijelaskan, Narapidana atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Gianyar menjalani proses hukum dan masa pidananya dengan rasa nyaman serta mengurangi gangguan Kamtib, karena adanya Pembinaan Kepribadian, yang diselenggarakan oleh Bimker Rutan Gianyar.

Selain itu, juga WBP mendapatkan pengetahuan keterampilan tambahan dari Bimbingan Kemandirian. Pihaknya, berharap, apabila telah selesai menjalani masa pidananya di Rutan Gianyar, WBP bisa membuka atau bekerja di bidang keterampilan, yang telah diperoleh, saat di Rutan,” papar Gde Putra.

“Kami telah melakukan beberapa kegiatan Bimbingan Kemandirian, agar WBP memiliki keterampilan kerja. Salah satunya, kami menjalin kerjasama dengan Pengerajin Tedung Agung, yang diikuti 8 orang WBP,” jelasnya.

“Kami melakukan kegiatan pelatihan pembuatan “Tedung Agung”, yang agendanya digelar selama 11 hari, dimulai dari tanggal 8 Maret 2021 hingga 19 Maret 2021. Hasil akhirnya menghasilkan produk Tedung yang laku dijual di pasaran dan tentunya mendongkrak taraf ekonomi WBP,” paparnya.

Gde Putra juga menambahkan, di Rutan Kelas II B Gianyar, juga dilaksanakan kegiatan Bengkel Kerja, yang merupakan salah satu Pembinaan Kemandirian.

Dalam pengelolaannya, ditangani petugas Pengelola Pembinaan Kemandirian, yang menginventarisasi minat, bakat dan potensi yang dimiliki WBP. Data ini, diperoleh dari hasil “Assessment Awal”, ketika Narapidana baru masuk, dilanjutkan tahapan pengamatan, dalam setiap tahap pembinaannya.

Selain itu, juga dibutuhkan sarana dan prasarana beserta teknis pengamanan, yang dikelola sedemikian rupa, sesuai dengan SOP yang berlaku. Tentu saja, dilaksanakan oleh petugas Pembina Kemandirian bekerjasama dengan Petugas Pengamanan,” imbuh Gde Putra.

“Adapun WBP yang mengikuti pembinaan sebanyak 5 orang WBP ikut serta program bengkel kerajinan tangan dari koran dan kerajinan merajut diikuti 6 orang wanita.

Sementara, program pangkas rambut diikuti 1 orang WBP pria, pertanian 7 orang WBP, laundry 2 orang WBP pria serta program pencucian kendaraan diikuti 5 orang WBP pria.

Semua agenda kegiatan Bengkel Kerja, dilaksanakan setiap hari, kecuali hari libur keagamaan dan hari libur nasional,”paparnya.

“Mudah-mudahan dengan diberikan berbagai jenis keterampilan, sesuai minat dan bakatnya, WBP memiliki bekal kerja, jika telah selesai menjalani masa pidananya di Rutan Kelas IIB Gianyar,” tutupnya. (Red/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here