Indra Wahyudi: Sistem telah Terkoneksi untuk Tingkatkan Ekonomi Tabanan

JBM.co.id, Tabanan – Belum genap seminggu, usai melakukan audensi dengan Wakil Bupati Tabanan, I Made Edi Wirawan,SE., tim akademisi dan praktisi profesional merespons cepat permintaan Wabup Edi dengan merancang ide dan dasar pemikiran, yang dituangkan dalam bentuk proposal, guna menunjang realisasi program 100 hari kinerja Bupati dan Wakil Bupati Tabanan, yang selaras dengan Visi Misi Tabanan yang Aman, Unggul dan Madani (AUM).

Ada enam pemaparan program yang dibuat masing-masing bidang, yang nantinya disinkronkan menjadi “Satu Bendera”, dengan ramuan profesional. Demikian dikatakan Ketua Umum Yayasan Tri Murti Nusantara, Jero Ayu Parwati, SE.CEFT.,CEST., didampingi CEO & Founder Suka Franchise Indonesia, Putu Agus Indra Wahyudi, bertempat di sekretariatnya di Tabanan, Selasa (30/3/21).

“Hari ini, Selasa (30/3/21), kami melakukan rapat finalisasi, untuk mengintensifkan pemaparan enam program kerja, yang saling bersinergi, sehingga apa yang menjadi harapan bersama, bisa tercapai dan terealisasi,” ungkapnya.

Sementara, CEO & Founder Suka Franchise Indonesia, Putu Agus Indra Wahyudi menyarankan konsepnya, agar dialokasikan dana sosial, yang masuk ke kas Yayasan Tri Murti Nusantara melalui sistem yang telah terkoneksi dengan baik.

Selain itu, sistemnya juga bisa meningkatkan taraf ekonomi petani Tabanan,” jelas Owner Suka Franchise Indonesia.

“Kami jadikan BumDes sebagai sentral penyuplai bahan baku untuk outlet Suka Franchise. Setelah itu, BumDes yang mengontrol, berapa hasil penjualannya.Kita siapkan sistemnya, juga terkoneksi ke pusat dan bisa dihitung untung atau ruginya, karena sistem yang telah mengaturnya. Kalau outlet kehabisan barang, mengambilnya ke BumDes.

Terkait keuntungannya, menjadi milik desa adat setempat dan juga BumDes,. Begitu pola dan sistemnya,”jelas Indra Wahyudi.

“Secara teknis, kami brand lokal waralaba Suka Franchise membuat MOU dengan pihak Yayasan, karena Yayasan tidak boleh berbisnis, namun, boleh memiliki unit usaha. Presentase selisih keuntungannya, yang dikelola sistem disumbangkan ke Yayasan, untuk mendanai kegiatan sosialnya. Jadi, berkesinambungan antara bisnis dan agenda sosial,”bebernya.

Sementara, Ketua Harian Gema Sadu Tabanan, Nengah Suarjana didampingi Koordinator Wilayah Gema Sadu Tabanan, Wayan Sadia, bersama Prof. Rai mempersiapkan program penelitian padi Tri Sakti dan program air laut diubah menjadi air minum, yang diminta oleh Wabup Edi.

“Kita saling berkolaborasi untuk satukan presepsi dan bersinergi mengembangkan potensi usaha produk lokal Tabanan, yang bertujuan meningkatkan ekonomi kerakyatan Tabanan,”jelasnya.

Lebih lanjut, dijelaskan, harus dimantapkan struktur organisasinya yang berisi orang-orang profesional didalamnya. Jika telah disepakati dengan asas keterbukaan dan transparan, program-program kegiatannya bisa dipublikasikan lewat komando pak Ace Wiguna,”ungkap Suarjana.

Dikonfirmasi di tempat terpisah, disela-sela kesibukannya yang cukup padat, Manager Inkubator Bisnis Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana, Dr. A.A.Sri Mahyuni,SE.,M.Agb. memaparkan programnya sebagai salah satu pendampingan UKM di Kabupaten Tabanan.

“Kami telah merancang program jangka pendek, guna menunjang 100 hari kinerja Wabup, yang menyasar para UKM, khususnya petani kopi di kabupaten Tabanan. Program kami, tidak muluk-muluk, yang rencananya direalisasikan, setelah Hari Raya Galungan,”papar dosen Teknologi Pangan, sekaligus pelaku UKM di bidang budidaya serba jamur.

Lebih lanjut, dijelaskannya, bahwa Inkubator Bisnis Unud akan memberikan pelatihan dari hulu ke hilir, untuk petani kopi, mulai dari pelatihan tentang pembibitan, budidaya, panen dan pasca panen, dilanjutkan tata cara kemasan hingga pemasaran produk kopi beserta produk turunannya,”jelasnya.

Pihaknya juga merancang program jangka menengah, yang bertujuan, mendigitalisasi pura dan situs-situs kuno, sebagai warisan cagar budaya di Tabanan, agar terjaga kesucian dan kesakralannya,”bebernya.

Dijelaskan juga, Aplikasi Virtual Reality (VR) ini, merupakan teknologi komputer, untuk menciptakan simulasi imersif, yang memungkinkan pengguna dapat berinteraksi, sekaligus merasa sedang berada di dalam lingkungan pura, namun, dirancang di dunia maya.

Pengunjung pura atau situs, cukup klik barcode dari jaba pura, untuk mendapatkan seluruh informasi terkait pura atau situs tersebut, tanpa harus merusak kesucian dan kesakralan pura,”paparnya.

“Dengan VR tidak ada lagi wisatawan yg selfie di padmasana, apalagi berteduh dgn tedung sakral di pura,” tutup Sri Mahyuni. (Tim/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here