Penulis Sainul S.H,.M.H.

Hidup sesungguhnya tak ada yang bisa lepas dari yang lain, hal inilah yang membentuk masyarakat. Manusia sebagai mahluk sosial. Masyarakat terdiri dari dua orang atau lebih. Kelompok yang dibangun atas dasar kepentingan dan profesi sama disebut komunitas. Timbulnya hubungan sosial ditandai adanya komunikasi dan informasi.

Tak selalu terdengar indah atau sebaliknya tak enak. Adakalanya salah faham, atau salah sekalipun tidak selalu dilihat dari negatifnya, tetapi dapat diambil nilai pembelajaran dari semua peristiwa.

Kecerdasan setiap orang tidaklah sama, perasaan tidak sama, demikian pula sikap perilaku pasti tidak sama. Kecerdasan berpikir ditandai skill menghimpun data, kecerdasan emosional lebih kepada kemampuan mengolah dan memilah data, terakhir kemampuan skill dalam menyikapi atau berbuat sesuai bidang dan kemampuan.

Kelompok atau komunitas bertujuan mulia, yang kurang bisa dicukupkan, yang berlebih dapat berbagi, yang mudah dapat dilewati yang sulit dapat didiskusikan demi solusi, yang ringan dapat dibawa dan yang berat dipikul bersama. Itulah komunitas agar mampu memberikan solusi. Salah kecil dihapus, salah besar disederhanakan,kebersamaan menjadi prioritas.

Orang kuat dikalahkan oleh yang pintar, orang pintar dikalah oleh yang licik, orang licik dikalahkan oleh yang cerdik.
Bukan persoalan menang dan kalah, tetapi lebih kepada kesadaran akan diri bagian dari yang banyak.

Jika sukses itu milik orang pintar maka profesor tentunya yang bahagia dan sejahtera.Jika karena waktu yang dipakai standar sukses maka warung kopi dibuka 24 jam yang paling sukses.

Kita lupakan semua ego dengan membangun semangat kolektif kolegial. Insya Allah teduh dan sejuk.

Artinya Kolektif Kolegial adalah istilah umum yang merujuk kepada sistem kepemimpinan yang melibatkan para pihak yang berkepentingan dalam mengeluarkan keputusan atau kebijakan melalui mekanisme yang di tempuh, musyawarah untuk mencapai mufakat atau pemungutan suara, dengan mengedepankan semangat kebersamaan.

Profesi Jurnalistik,

Terngiang saat dia bersama, bila Jurnalistik bagian upaya dan usaha, hanya sudah memposisikan diri pada barisan DAKWAH, memposisikan diri sebagai penyampai berita informasi. Berita datar untuk informasi yg baik demi amar makruf sebuah ajakan kebajikan, informasi kritis dan keras demi nahi Munkar penegak kebenaran.

Tajamnya pisau bisa melukai, obat banyak dan mudah dan yang luka tertentu, Tajamnya tulisan timbulkan semua tersayat, hati pun terasa ngilu, menggores kesiapapun. Senjata tajam dapat melukai sasaran satu, tulisan dapat merubah pikiran menyasar ke orang banyak.
Jurnalistik harus buat berita, yang datar informatif atau yang kritis demi kemajuan. (Tim/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here