JBM.co.id, Tabanan – Menindaklanjuti respons cepat Wakil Bupati Tabanan, I Made Edi Wirawan, SE., terhadap program Gema Sadu Tabanan, yang ternyata selaras dengan Visi Misi Tabanan yang Aman, Unggul dan Madani (AUM), Ketua Harian Gema Sadu Tabanan, Nengah Suarjana merapatkan barisan, menggelar rapat perdana bersama akademisi, tim media dan praktisi profesional, bertempat di rumah kediaman Ketua Umum Yayasan Tri Murti Nusantara, Jero Ayu Parwati, SE.CEFT.,CEST., di Denpasar, Sabtu (27/3/21).

Turut hadir, saat rapat perdana adalah CEO & Founder Suka Franchise Indonesia, Putu Agus Indra Wahyudi, Ketua Umum Yayasan Tri Murti Nusantara, Jero Ayu Parwati, SE.,CEFT.,CEST., serta kalangan pengusaha, Putu Suantara, dengan didukung tim Media Humas dan Publikasi, Ace Wiguna.

“Kita saling berkolaborasi untuk satukan frekuensi dan presepsi, bersinergi mengembangkan potensi usaha produk lokal, yang bertujuan meningkatkan ekonomi kerakyatan lokal Tabanan,”jelas Suarjana.

Lebih lanjut, ditambahkannya, “Kita perlu membuat struktur organisasi, yang didalamnya berisi orang-orang profesional dibidangnya masing-masing. Tidak bisa dipungkiri, ini proyek besar dan pasti ada ego masuk didalamnya. Jadi, kita samakan presepsi dulu.

Istilahnya “banyak kepala”, akan tetapi “satu otak”, untuk mencapai satu tujuan. Pintu masuk tahap awalnya, lewat Suka Franchise Indonesia, brand waralaba lokal milik pak Indra Wahyudi. Nah, jika sudah diketok palu pak Wabup Edi, lengkap dibuatkan SK, baru produk lokal di masing-masing desa adat diserap dan dibantu hingga tahap pemasaran, agar bernilai surplus bagi desa adat setempat.

Nah, agar bergema program kita, disinilah peran media, dalam mempublikasikan kegiatan kita, dibawah komando pak Ace Wiguna,”papar Suarjana.

Sementara, CEO & Founder Suka Franchise Indonesia, Putu Agus Indra Wahyudi mendukung program kegiatan Gerakan Kewirausahaan Terpadu (Gema Sadu), dalam penyerapan produk lokal.

“Kita membuat program penyerapan produk lokal. Nantinya, berkolaborasi dengan bagian Inkubator Bisnis Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana dibawah komando Dr. A.A.Sri Mahyuni,SE.,M.Agb.

Sebagai peneliti dan pendamping, Bu Agung Sri wajib itu didata, desa adat mana saja yang memiliki potensi produk lokal yang bagus, yang bisa kita ambil dan dibantu disebarkan serta promosikan. Hasil rekomendasi dari bagian Inkubator Bisnis, itu yang kita bawa,”jelas Indra Wahyudi.

“Yang terpenting lagi, bagaimana caranya, produk itu bisa diserap oleh masyarakat. Selesai mereka produksi, biar langsung diserap pasar.

Jadi, disini, saya sebagai pemain waralaba atau franchise akan dibuatkan suatu konsep Kontainer, yang disana ada pajangan produk lokal Tabanan,. Jika itu memungkinkan, kita bisa bawa ke brand yang punya nama, seperti ACK, JFC atau yang lainnya, kita sewa tempatnya 1 meter atau 50 cm, yang disana dipajang produk siap saji, seperti kripik atau kopi, yang tidak terlalu mengganggu juga. Makanya, pengusaha lokal, wajib membantu orang lokal, demi perputaran ekonomi kerakyatan di Tabanan,” jelasnya.

Sementara, Ketua Umum Yayasan Tri Murti Nusantara, Jero Ayu Parwati,SE.,CEFT.,CEST., mendorong pasar atau toko modern, seperti Indomaret atau Alfamart wajib hukumnya menjual produk lokal Tabanan,”paparnya.

“Kita membuat semacam MOU dengan pak Wabup Edi, seijin Pak Bupati Sanjaya mewajibkan toko modern menjual produk lokal orang Tabanan.

Coba kita lihat, apa ada produk lokal dijual di toko modern. “Ngak ada khan. Beras, pisang dan buah-buahan lainnya didatangkan dari luar Bali.

Padahal Tabanan banyak produksi beras, minyak, jahe merah, kunyit putih bahkan kopi, produk lokalnya belum masuk pasar modern.

Jadi, jika ada kebijakan penguasa Tabanan, dalam hal ini, dibuatkan SK khusus Bupati Tabanan, bahwa toko atau pasar modern wajib membeli produk lokal dan otomatis pihak Indomaret atau Alfamart misalnya, tidak bisa menolak produk lokal dan itu mengangkat perekonomian, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Tabanan.

jadi, ada sistem yang jelas, yang unit usahanya mengarah pengusaha lokal dan itu sangat jelas pola serta sistemnya. Pasti pak Bupati Sanjaya dan juga pak Wabup Edi memberi support,” jelas Jero Ayu Parwati, dengan nada berapi-api penuh semangat.

Lebih lanjut, Ketua Harian Gema Sadu Tabanan, Nengah Suarjana menjelaskan kelemahan umum produk lokal dari segi tata cara kemasannnya.

Nah, bagian Inkubator Bisnis dibawah kendali Bu Agung Sri punya tugasnya masuk membuatkan standarisasi, setelah lolos seleksi, baru bisa naruh di outlet kita,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Indra Wahyudi, bahwa konsepnya itu, bukan seperti jualan sayur nantinya di kontainer kita, akan tetapi hanya produk-produk lokal yang sesuai standarisasi, dalam arti ada labelnya. Sebagai contoh, kripik pisang atau kerupuk.

Tidak bisa dipajang disini, cuma dibungkus biasa pakai plastik, minimal ada logo, packing dan bagus cara pengemasan produknya, karena itu, akan menaikkan derajat produk lokal itu sendiri,” ungkapnya.

“Diperjelaa lagi, agar tidak terjadi mis-komunikasi, ada inkubator bu Agung yang mengadakan penelitian dan pendampingan, terus masuk tahap awal, produk Suka Franchise sebagai pembuka pintu.

Selanjutnya, produk lokal juga dipajang, diikutsertakan dan dibantu produk lokal itu, berada di outlet, tempat lainnya. Jadi pergerakannya cepat, karena ditangani secara profesional,” papar Indra Wahyudi.

Salah seorang pengusaha, Putu Suantara menyarankan agar pembahasan lebih mengkerucut lagi terkait struktur organisasi, agar dalam pengelolaannya lebih mengutamakan asas keterbukaan dan transparan. Jangan sampai tumpang tindih dan nyalip di pengkolan. Jika perlu, terus berkesinambungan,” bebernya.

Sementara, Jero Ayu Parwati menyatakan, pihaknya juga mengelola Yayasan Tri Murti Nusantara, yang bergerak dalam bidang sosial, ritual dan spiritual, yang memiliki unit usaha, yang disebut “Koperasi Sri Wisnu”, dan presentase nilai keuntungan dari unit usaha tersebut, dialokasikan dananya, utk upacara yadnya, yang digelar secara gratis, meringankan beban umat.

Jadi, kegiatan kami, tidak melulu “money oriented”, walau berlatar belakang pengusaha dulunya,”jelasnya.

Diakhir acara, Indra Wahyudi dan Suarjana sepakat untuk membawa satu bendera saat kembali beraudensi dengan Wabup Edi.

“Satukan persepsi, minggu depan, senin atau selasa, kita kerucutkan lagi pembahasannya. Masing-masing membawa proposalnya dulu, selanjutnya dibahas dan kita gabungkan menjadi satu proposal. Nah, proposal hasil kolaborasi ini, yang resmi kita bawa menghadap kembali pak Wabup Edi., hari kamis depan.

Jadi, skema dan pola seperti itu. Sudah fix, ya satukan menjadi satu visi dengan membawa satu bendera. Kita siap beraudensi kembali dengan pak Wabup Edi, hari kamis depan,”pintanya. (Tim/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here