JBM.co.id, Jakarta – Demokrat kubu Moeldoko, terus berupaya mencari celah untuk menyerang Demokrat kubu AHY. Kabar teranyar, pengurus Demokrat kubu Moeldoko menggelar taklimat media di Kompleks Hambalang Sport Center, Bogor, Jawa Barat, pada Kamis, (25/3).

Apa yang dilakukan kubu Moeldoko, kata Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat, Kamhar Lakumani, tak lebih hanya sekedar mencari sensasi.

“ Pilihan Hambalang pastinya untuk mencari sensasi. Darmizal sangat gandrung dengan sensasi,” ucap Kamhar Lakumani, Kamis (25/3) dikutip strateginews.co, dari CNN Indonesia.

Kamhar menilai, berbagai argumentasi terkait niat kubu Moeldoko untuk membesarkan Partai Demokrat justru sangat bertolak belakang dengan apa yang dikerjakan belakangan ini.

Apa yang dilakukan mereka, terang Kamhar, justru menggerogoti Demokrat dari dalam hanya karena ambisi kekuasaan, karena berkomplot dengan pihak luar .

Bahkan, secara tegas Kamhar mengatakan, upaya tersebut tak lebih sebagai bentuk pelacuran politik.

Bagi Demokrat, sebut Kamhar, tak mempersoalkan kubu Moeldoko menggelar taklimat media di mana saja, sepanjang dilakukan sesuai aturan yang berlaku.

“Meskipun kita ketahui bersama, terekam dalam memori publik, mereka berkegiatan tak berizin di Sibolangit,” ujarnya.

Baca Juga :  Sukses Bangun Organisasi Pemuda, Ketum BMI Raih Penghargaan

Sementara, menurut inisiator KLB dan pendiri Demokrat, Hencky Luntungan, taklimat media sengaja digelar di Hambalang, agar masyarakat Indonesia terbuka, dan mengerti tentang proyek Hambalang, yang dibangun di era Presiden SBY yang berujung mangkrak.

Hambalang Sport Center, kata Hencky Luntungan, adalah mega proyek SBY yang berujung mangkrak, dan tersandung korupsi . Akibat kasus ini, sejumlah politisi Demokrat ditangkap KPK.

Kisruh Demokrat, Strategi Komunikasi Politik Menangkan Pertarungan

Pengamat Komunikasi Politik Emrus Sihombing mengamati islah antara dua faksi di Demokrat, kubu legal formal (KLF) dan kubu KLB (KKLB) tampaknya semakin jauh. Bahkan sudah terjadi saling buka kelemahan antar para pihak di ruang publik, tentu ini dipastikan merugikan Demokrat di mata publik.

“Tampaknya para pihak lebih memilih berusaha memenangkan “pertarungan” politik dan secara tidak langsung memposisikan pihak lawan “tereliminasi” di ruang publik. ” Ujar Emrus kepada strateginews.co, beberapa waktu lalu.

“Karena itu, menurut hemat saya, KKLB berharap mendapat pengakuan legal formal ke depan. Sedangkan KLF menginginkan eksistensi Demokrat terus terjaga, baik secara dejure maupun defakto.” Tambah Emrus.

Baca Juga :  Herzaky : Jika KLB Demokrat Diizinkan, Preseden Buruk Bagi Demokrasi di Indonesia

KKLB, kata Emrus, dapat mencapai awal kemenangan, utamanya bila mendapat legal formal dari pemerintah, dalam hal ini Kemenkumham.

“Untuk itu, menurut saya, mereka harus melengkapi semua persyaratan yang terkait secepat-cepatnya dan mengajukannya sesegera mungkin ke Kemenkumham untuk mendapat legal fomal. Pada waktu bersamaan, KKLB harus melakukan konsolidasi keseluruh Indonesia secara masif dan cepat.” Jelas Emrus.

”Sebaliknya, jika KKLB tidak memperoleh legal formal, bisa jadi kelompok ini mendirikan partai baru, sepanjang mereka semua solid. Jika tidak solid, muncul masalah baru, antara lain beberapa elitnya akan mendapat persepsi tidak menguntungkan dari sebagian masyarakat luas. Dari aspek komunikasi politik, karir politik mereka akan sulit muncul ke permukaan.” Jelas Emrus.

Bagi KLF, sejatinya terus melakukan komunikasi politik persuasi dengan tawaran kebersamaan, melakukan akomodasi politik kepada seluruh kader dan pengurus, termasuk yang ada di KKLB.

“Untuk itu, diperlukan tawaran-tawaran kepentingan yang menguntungkan sebagai bahan “bakar” melakukan kompromi politik.” Ujar Emrus.

Baca Juga :  Debat Publik, Ali Rahman Ajak Paslon Nomor 1 Melek Media Sosial

Bagi kader dan pengurus yang dipecat, terutama yang dipecat masa kepemimpinan AHY, agar dipulihkan oleh DPP KLF. “Pemulihan ini penting sebagai makna komunikasi politik, bahwa telah terjadi dialog , kompromi dan bertukar kepentingan politik di antara para kader.” Terang Emrus.

Emrus mengatakan Jika strategi komunikasi politik yang dilakukan kubu KLF mencapai tujuan, bisa jadi yang ada di KKLB tinggal beberapa orang, bahkan bisa dihitung jari, boleh jadi antara lain hanya penggagas KLB, pembiaya KLB, panitia utama KLB dan yang sebelumnya bukan kader.

Dengan demikian, KLF telah memenangkan “peperangan” politik, apapun keputusan legal formal kepada kedua kubu ini.” Ujar Emrus.

“Jika KLF tidak berhasil, nasibnya bisa lain, misalnya soliditas di internal partai semakin terkikis dan berpotensi bergeser ke kelompok KKLB atau mengambil pilihan yang lebih aman, yaitu pindah ke partai lain.” terang Emrus. (Tim/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here