JBM.co.id, Tabanan – Wakil Bupati Tabanan, I Made Edi Wirawan mengapresiasi kegiatan Gerakan Kewirausahaan Terpadu (Gema Sadu) yang bersinergi dengan akademisi, praktisi dan kalangan profesional, dalam mengembangkan potensi usaha lokal, untuk memajukan perekonomian di Tabanan.

Lebih lanjut dikatakannya, Tabanan sebagai daerah yg luar biasa dengan konsep “Nyegara Gunung”, memiliki pantai yang sangat luas, juga sawah yang dikenal mendunia, bahkan ada gunung yang begitu luar biasa, termasuk Sumber Daya Manusia (SDM)-nya.

“Kami sebagai pimpinan daerah siap memfasilitasi kegiatannya. Namun, kelemahan kami selama ini di Tabanan, khusus jika berbicara terkait pertanian, Tabanan itu harus kita maping-kan dulu.

Mana yang termasuk daerah rendah, sedang dan tinggi. Apa yang cocok ditanam di daerah pantai dan juga di daerah panas. Kita perlu buatkan demplot, dan ini, perlu masukan para akademisi, praktisi dan kalangan profesional, untuk pemetaan daerah beserta didata potensi desanya. Begitu juga, dengan daerah sedang serta dataran tinggi,”ungkapnya.

“Ketika kita maping-kan tempat itu, petani Tabanan sangat paham. Seperti misalnya, petani kopi Pupuan, mereka paham, bagaimana tata cara budidaya kopi.

Akan tetapi, pengolahan beserta pemasaran produknya, disitu kita dibutuhkan.

Apalagi berlatar belakang pengusaha, lebih memahami sifat produsen dan konsumen. Satu sisi harga naik, terkadang produsen “angkat harga” dan disatu sisi, konsumen belum tentu memiliki kemampuan membeli sesuai dengan harga yang ditawarkan.

Disinilah, tugas pemerintah untuk membuat MOU atau perjanjian kerjasama, agar terjadi simbiosis mutualisme yang menguntungkan, agar petani mengikuti arahan pemerintah dan juga akademisi, praktisi serta kalangan profesional,” papar Wabup Edi.

Hal ini, diungkapkan Wakil Bupati Tabanan, I Made Edi Wirawan,SE., saat menerima audensi pengurus Gema Sadu di ruang rapat Wakil Bupati, pada hari Kamis (25/3/21).

Koordinator Wilayah Gema Sadu Tabanan, Wayan Sadia mengungkapkan, Gerakan Masyarakat Kewirausahaan Terpadu(Gema Sadu) merupakan wadah kolaborasi akademisi dengan pengusaha, dalam memasarkan produk lokal Tabanan,” ungkapnya.

“Kami berusaha menginventarisasi produk-produk lokal Tabanan. Seperti halnya produk salak gula, durian dan juga pembuatan asap cair dari tempurung kelapa, sebagai sarana pengobatan.

Bahkan, ada teknologi mengubah air laut menjadi produk limbah organik berupa garam organik. Juga ada proses pembuatan kopi dan wine.

Semuanya itu, melalui Gema Sadu bisa dicarikan solusi, agar produk lokal bisa dimanfaatkan, untuk kepentingan menaikkan ekonomi Tabanan, yang nantinya, dijual keluar negeri dan dijadikan sumber dana. Otomatis taraf ekonomi petani Tabanan meningkat,” jelasnya.

Kegiatan Gema Sadu disambut baik CEO & Founder Suka Franchise Indonesia, Putu Agus Indra Wahyudi, yang membantu meningkatkan minat masyarakat, untuk membuka usaha kuliner di wilayahnya masing-masing, di bale banjar hingga desa adat setempat,”paparnya.

“Kami berdiri tahun 2017, bergerak dalam bidang jasa membuka usaha kuliner dengan sistem kemitraan. Kami juga telah mencetak 175 pengusaha baru dari kalangan pekerja, profesional dan juga bisnis. Banyak yang kami lihat, bukan orang lokal yang berjualan di masing-masing desa adat, kebanyakan orang luar,”jelasnya.

Oleh karena itu, kami hadir memberikan solusi, dengan menggandeng BumDes dan juga desa adat setempat untuk diajak kerjasama.

Nanti, BumDes kami jadikan sebagai sentral penyuplai bahan baku untuk outlet Suka Franchise dan pihak Bendesa Adat boleh menambah menu atau produk lokal yang akan dijual di Booth Container Suka Franchise,”ungkapnya.

Keuntungannya itu, menjadi milik desa adat setempat dan juga BumDes. Otomatis dari segi sosial meraih keuntungan dan bisa didistribusikan untuk punia bidang ritual, spiritual. Astungkara bisa diambil dari sana,” jelas Wahyudi.

Upaya wira usaha ini, juga didukung Ketua Umum Yayasan Tri Murti Nusantara, Jero Ayu Parwati,SE.,CEFT.,CEST., yang mendorong terwujudnya unit usaha “Koperasi Sri Wisnu”, yang notabene bekerjasama dengan UMKM di 133 desa di Tabanan. Karena situasi pandemi, produk gula merah, kunyit putih dan juga produk kopi pujungan pupuan beserta beras omzetnya menurun,”ungkapnya.

Berangkat dari situ, Jero Ayu Parwati sangat berharap Wabup Edi dan rekan-rekan pengusaha Gema Sadu bisa bersinergi, agar keuntungan dari penjualan produk bisa dialokasikan, untuk mengadakan kegiatan ritual, seperti upacara mebayuh, mewinten dan mesangih massal, sudah kami lakukan secara gratis, sesuai dengan agenda kami dibawah bendera “Yayasan Tri Murti Nusantara.

“Semoga jalinan kerjasama ini, bisa berlanjut dan berkesinambungan, sebagai jembatan untuk membantu umat di bidang kesehatan dan juga ritual,” jelasnya.

Sementara, Manager Inkubator Bisnis Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana, Dr. A.A.Sri Mahyuni,SE.,M.Agb., mengatakan organisasi inkubator bisnis berada dibawah Rektor Unud, yang tugasnya “menghilirisasi” penelitian mahasiswa dan dosen, agar menjadi produk komersial.

Karena selama ini, yang kita ketahui, selesai menulis skripsi, thesis atau disertasi, penelitiannya ada di perpustakaan. Akan tetapi, dengan adanya inkubator bisnis, semua hasil riset mahasiswa dan dosen, dikomersialkan menjadi produk yang siap dipasarkan,”jelasnya.

“Disana akan diberikan pelatihan berupa tata cara kemasan, kemudian difasilitasi masalah perijinan, kemudian juga akses permodalan dan juga diberi pelatihan, yang kini lagi trend adalah “digitalisasi UKM”, hingga masuk produknya di “market place”, dilengkapi dengan keamanan siber,” papar dosen Teknologi Pangan, di salah satu universitas swasta di Denpasar, sekaligus pelaku UKM yang bergerak di bidang budidaya serba jamur tersebut.

Di akhir acara, Wabup Edi meminta waktu seminggu ke depan, semua keilmuan yang pernah berhasil, kembali mempresentasikan lebih mendalam dengan waktu yang lebih lama.

“Kami minta Gema Sadu beserta tim akademisi dan praktisi yang profesional kembali mempresentasikan, agar menjadi kesimpulan kami, agar lengkap didata potensi desa. Walau belum terwujud desa presisi, tetapi kami tahu potensi desa A, desa B atau sebagainya,”bebernya.

“Kalau ada maping tempat, ini cocoknya produk lokal apa yang dikembangkan dan dipasarkan, sehingga kami bisa “back up” wira usaha yang ada dan dilanjutkan kearah pemasaran, agar bernilai surplus bagi petani Tabanan,” pungkas Wabup Edi. (Tim/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here